The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
I Want You Right Now



Setelah mengirimkan pesan kepada Vanya, Kenzo segera meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Dia sibuk memeriksa beberapa materi yang akan dipresentasikan staf nya sebentar lagi. Tak berapa lama kemudian, Reyhan sang asisten memberitahukan jika meeting akan segera dimulai. Seluruh staf dan klien pun sudah menunggu di ruang meeting.


Kenzo pun segera mengangguk dan beranjak berdiri untuk mengikuti Reyhan menuju ruang meeting. Dia membawa berkas-berkas materi yang akan dipresentasikan. Tak lupa juga dia menyambar ponselnya dan memasukkannya ke saku kemeja. Kenzo masih belum menyadari nika Vanya sudah mengirimkan balasan untuk pesan singkatnya tadi.


Beberapa saat kemudian, meeting pun segera dimulai. Para staf Kenzo segera mempresentasikan materi yang sudah mereka siapkan. Beberapa perwakilan klien dari Australia pun terlihat bersemangat memperhatikan materi yang disampaikan. Mereka terlihat begitu tertarik. Bahkan, beberapa kali mereka terlihat antusias mengajukan pertanyaan. Dengan senang hati para staf Kenzo menjawabnya. Tak jarang juga Kenzo sendiri ikut menjelaskan kepada para klien.


Saat para staf Kenzo menjawab beberapa pertanyaan dari klien, Kenzo merasakan ponselnya yang berada di saku kemejanya bergetar. Dia segera mengambilnya dan memeriksa pesan singkat yang baru masuk. Ternyata dari sang mama. Kenzo dan Vanya diminta untuk menginap di rumah utama weekend nanti. Kenzo segera membalas pesan dari sang mama.


Ketika Kenzo hendak keluar dari aplikasi perpesanan singkat tersebut, netra matanya menangkap sebuah pesan balasan dari sang istri. Kenzo segera membuka pesan dari Vanya tersebut.


Iya Mas, tidak apa-apa. Silahkan makan malam bersama klien. Nanti di rumah, giliran aku yang akan memakanmu.~Balas Vanya.


Deg


Ingatan Kenzo langsung tertuju pada percakapan mereka tadi malam. Vanya meminta Kenzo untuk menunggu besok malam, yang berarti nanti malam. Apakah dia akan berbuka puasa nanti malam, Kenzo bertanya-tanya dalam hati.


Seketika Kenzo menjadi hilang fokus. Materi meeting yang tadi sudah dikuasainya seketika ambyaaarrrr, buyaaaarr sudah karena pesan singkat Vanya. Otaknya sudah tidak bisa di ajak fokus pada meeting. Mendadak otak Kenzo langsung dipenuhi dengan cuplikan adegan hokya-hokya yang pernah dilihatnya. 


Tidak munafik, di usianya yang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun, tidak mungkin jika Kenzo tidak pernah melihat video pemersatu bangsa yang sering sliweran di sosial medianya yang berlambang burung emprit itu. Ditambah lagi kiriman link yang sering masuk di group chat kampusnya dulu, sering membuat gatal jari jempolnya untuk segera mengkliknya.


Kenzo mulai merasakan panas pada tubuhnya hanya dengan mengingatnya. Jari jempol Kenzo secara tidak sabar mengetikkan pesan balasan untuk Vanya.


Mau memakanku? Memang sudah bisa 'makan'? ~ Balas Kenzo.


Kenzo mengerutkan keningnya saat melihat pesan balasannya hanya terdapat centang satu. Dia juga melihat pada profil Vanya jika dia terakhir aktif sekitar tiga puluh menit yang lalu. Kenzo yang sudah tidak sabar segera menekan gambar telepon untuk menghubungi sang istri. Namun, yang didapatinya adalah bunyi sedang memanggil. Hal itu bisa diartikan jika ponsel Vanya sedang off. 


Kenzo terus menghubungi Vanya dengan berbagai cara, namun hasilnya tetap nihil. Kenzo semakin frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Tanpa sadar, semua mata yang ada di ruangan meeting tersebut memandang ke arah Kenzo. Namun yang tengah diperhatikan justru tidak menyadari hal itu.


Reyhan yang ada di sebelah Kenzo segera menyenggol lengan sang atasan.


"Tuan, apa ada masalah?" Bisik Reyhan.


Kenzo segera menoleh menatap wajah sang asisten.


"Masalah? Memangnya ada masalah apa?" Bukanya menjawab Kenzo malah bertanya balik.


Reyhan mendengus kesal mendengar pertanyaan sang atasan.


"Lalu kenapa tuan terlihat gelisah seperti itu? Apa tuan tidak sadar sudah menjadi pusat perhatian semua orang di ruang meeting ini?" Kata Reyhan.


Seketika Kenzo mengedarkan pandangannya pada semua orang yang hadir saat itu. Dia bisa melihat jika semua orang tersebut tengah memperhatikannya. Kenzo segera menguasai diri dan mengubah ekspresi wajahnya.


"Maaf, maaf. Tadi ada sedikit gangguan. Silahkan dilanjutkan kembali." Kata Kenzo.


Semua orang yang ada di ruang meeting tersebut mengangguk mengiyakan. Setelahnya, Kenzo berusaha untuk fokus pada meeting sore itu. Meskipun begitu, pikiran Kenzo tetap melanglang buana kemana-mana.


Beberapa saat kemudian, meeting tersebut sudah berakhir. Klien Kenzo merasa sangat puas dengan presentasi para staf Kenzo. Mereka juga sudah sepakat untuk melakukan kerja sama.


Untuk merayakan kesepakatan kerjasama yang baru saja terjalin, Kenzo menjamu para klien untuk makan malam bersama. Semua setuju dengan niat Kenzo. Reyhan segera memesankan restoran untuk makan malam mereka.


Dan, disinilah sekarang mereka berada. Mereka menikmati makan malam dengan menu makanan lokal yang disajikan. Para klien dari Australia ingin menikmati menu makanan lokal yang menjadi makanan favorit di restoran tersebut.


Kenzo terlihat gelisah saat itu. Pikirannya kembali melayang pada Vanya yang masih tidak bisa di hubungi. Kenzo semakin tidak tenang saat melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 20.17 malam. Dengan sangat menyesal, Kenzo meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Dia beralasan ada keperluan mendadak yang harus dia kerjakan. Beruntung para klien asing tersebut dapat mengerti. Mereka mengizinkan Kenzo untuk pulang terlebih dahulu.


Sementara Vanya sudah mempersiapkan semuanya sejak pulang dari salon sore tadi. Dia sudah membeli aromaterapi dengan aroma jeruk yang menyegarkan sekaligus membuat rileks. Aroma tersebut menguar menyebarkan wanginya di seantero kamar. Vanya juga sudah mengganti seprei tempat tidur mereka dengan seprei yang berwarna soft.


Vanya sendiri kini sudah memakai pakaian tidur yang sangat kurang bahan. Pakaian tidur yang terbuat dari bahan lace yang lembut berwarna merah menyala tersebut sangat kontras dengan warna kulit Vanya yang putih bersih. Pakaian yang digunakannya sama sekali tidak bisa menyembunyikan apapun dibaliknya. Benar-benar sangat transparan alias tembus pandang. Vanya bergidik ngeri saat melihat pantulan dirinya pada cermin.


Tadi siang, Vanya sempat protes kepada Fida, namun sang sahabat tetap kekeuh memilihkannya pakaian tersebut. Dia juga mewanti-wanti Vanya agar menggunakannya malam ini.


Malam itu, Vanya memoles wajahnya dengan sedikit sentuhan make up. Rambutnya tergerai indah di belakang punggungnya. Beberapa parfum yang sangat menggoda indera penciuman kaum adam pun sudah dipakainya pada titik-titik tertentu. Sejak sore tadi Fida sudah memberitahukan hal itu kepada Vanya.


Vanya berulang kali melirik jam yang ada di dalam kamarnya. Dia harap-harap cemas menanti kedatangan Kenzo. Seketika dia teringat ponselnya yang sedari pulang tadi di charge. Ponselnya kehabisan daya saat berada di salon tadi hingga benar-benar mati. Vanya segera mengambilnya dan mulai menyalakannya.


Belum sempurna ponselnya menyala, terdengar suara mobil Kenzo berhenti di garasi rumahnya. Vanya segera meletakkan ponselnya yang dan segera menyambar jubah tidurnya. Dia tidak mau langsung memperlihatkan tubuhnya yang sudah memakai pakaian 'horor' tersebut.


Vanya berjalan menuruni tangga untuk menyambut sang suami. Dia melihat Kenzo sudah masuk ke dalam rumah. Netra mata mereka langsung bertemu. Vanya mendadak gugup, sementara Kenzo yang melihat Vanya tengah berjalan ke arahnya merasa geram.


"Kamu kemana saja sih. Aku telepon nggak diangkat." Kata Kenzo sambil berjalan mendekati Vanya.


Vanya masih diam berdiri di dekat tangga. Sementara Kenzo sudak berdiri di depan Vanya.


Grep


Vanya langsung memeluk tubuh aang suami. Dia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Kenzo. Mendapat serangan dadakan dari Vanya, tubuh Kenzo langsung menegang. Ditambah lagi aroma yang menguar dari tubuh sang istri langsung membuat sesuatu dibawah sana sesak.


"Ma-maaf Mas. Tadi ponselku kehabisan daya. Jadi langsung mati setelah mengirimkan pesan balasan tadi." Jawab Vanya.


Kenza memberanikan diri untuk mengusap punggung Vanya. Dia mengusap-usapnya berulang-ulang.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Hanya saja, jangan sampai kehabisan daya lagi. Aku khawatir." Kata Kenzo.


Kenzo merasakan kepala Vanya mengangguk-angguk di dadanya. Lalu, tangan kanannya berusaha untuk menjauhkan bahu Vanya dari tubuhnya. Kening Kenzo berkerut saat melihat pakaian yang dikenakan Vanya.


"Kenapa memakai baju seperti ini?" Tanya Kenzo. Dia hanya melihat jubah tidur yang dipakai Vanya tanpa melihat yang ada di dalamnya.


Vanya terlihat menggigiti bibirnya. Dia bingung bagaimana memulainya. Dia khawatir jika Kenzo berpikir dirinya adalah perempuan yang agresif. Namun, kata-kata Fida kembali memenuhi otaknya. Vanya langsung mendongakkan kepalanya dan menatap wajah sang suami.


"I want you right now."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon maaf ini sudah seribu tiga ratusan kata, aku masih baru belajar buat cerita, jadi masih sulit merangkai kata agar bisa dibaca oleh banyak orang. Bagi yang tidak berkenan, silahkan tidak usah dilanjut membaca cerita ini.


Terima kasih