The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 114



Mohon maaf baru bisa up 🙏


Bagi yang lupa part ini, bisa balik di bab sebelumnya dulu ya, biar bisa nyambung halunya 🤭


***


Adrian tidak menggubris pekikan Kinan saat melihat alat tempur miliknya. Adrian langsung menindih tubuh sang istri dan mulai menyerangnya kembali. Secepat kilat Adrian langsung menyambar bibir Kinan yang sudah membengkak karena ulahnya. 


"Eehmmm hhmmppphh hhmmmmpphh." Kinan menggelinjang-gelinjang gelisah karena tindakan Adrian. 


Satu tangan Kinan langsung menelusup pada rambut Adrian dan satu tangannya lagi menarik tengkuknya dengan erat. Tubuh Adrian yang sudah polos dan menempel pada tubuh Kinan, membuat desiran hangat menjalar semakin hebat pada tubuhnya.


Saat Kinan masih larut dalam godaan Adrian, dia tidak sadar jika suaminya itu sudah mulai menjelajahi tubuh bagian bawahnya. Pelan-pelan, Adrian membuka jalur tol yang masih belum diresmikan tersebut. 


Awalnya, Adrian berniat untuk berkenalan dan mencoba mengenali jalur trek yang akan dilaluinya. Namun, setelah jarinya mulai merasakan basah, lembab, dan hangat di bawah sana, rupanya Adrian mulai pening.


Adrian melepaskan pagutan bibirnya, dan mulai bergerak turun. Sasaran Adrian adalah ceruk leher Kinan. Dia mulai bermain-main di ceruk leher tersebut, sambil mulai menjelajahi bagian bawah tubuh Kinan dengan jari tengah tangan kirinya.


"Hheemmmpphhh, aaahhh, Maassshhh." Merasakan sensasi baru yang baru pertama kali dirasakan oleh Kinan, refleks kedua kaki Kinan langsung terbuka dengan lebar seolah memberikan jalur mudah untuk tindakan jari tangan Adrian.


Mendengar suara Kinan, Adrian justru semakin bersemangat. Wajahnya bergerak semakin turun untuk menjelajah dua bukit kembar yang menantang dengan kerasnya.


Hap. Eehhmmpppphhhh nnyymmmmmhhh.


Tidak hanya suara Adrian yang terdengar di tengah derasnya hujan di luar rumah, namun suara racauan Kinan juga tak mau kalah. Adrian yang menyadari hal itu, tak mau tinggal diam. Dia bergerak semakin ke bawah. Menyusuri perut dan meninggalkan beberapa jejak di sana. 


Tak cukup sampai sana, kini Adrian lagi-lagi bergerak ke bawah kembali sambil memegangi kedua lutut Kinan agar tetap terbuka. Kedua mata Adrian tampak berbinar saat melihat sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya tersebut.


Kinan masih bergerak-gerak gelisah saat Adrian mendekatkan wajahnya pada bagian bawah Kinan. Hal itu langsung membuat Kinan terpekik kaget saat merasakan suatu benda kenyal yang tiba-tiba menyerang bagian bawah tubuhnya.


"Hhmmmpphhh. Eemmhhhppphhh." Adrian bergerak semakin cepat. Bahkan, lidahnya sudah mulai menari-nari dengan lihainya.


"Euuhhhgggghhh, Massshhh. Ya-yang atas. Eeughhhhh." Tubuh Kinan langsung melengkung ke atas saat lidah Adrian menemukan benda sebesar kacang yang menggoda.


Meskipun penerangan di dalam kamar tersebut masih remang-remang, namun Adrian bisa langsung menemukan benda yang bisa membuat sang istri kelojotan tak karuan. Dan, benar saja. Begitu Adrian mulai mengerjai benda tersebut, Kinan langsung menjerit-jerit tidak karuan. Tubuhnya melengkung ke atas dan bergerak-gerak gelisah.


"Euughhh, Maassshh. Aaahhhhhh." Kinan mendorong kepala Adrian agar semakin tenggelam di bawah sana.


Adrian yang mengetahui jika Kinan sudah mulai mendekati puncak pelepasannya, langsung menggencarkan aktivitasnya. Dan, benar saja. Beberapa saat kemudian, Kinan langsung memekik tertahan dengan tubuh bergetar hebat. Rupanya, dia sudah berhasil meledakkan apa yang ditahannya sejak tadi.


Adrian menjauhkan wajahnya dari bagian tubuh Kinan. Setelah memastikan Kinan bisa mengatur napasnya dengan normal, kini Adrian sudah mulai mempersiapkan diri. Dia merangkak di atas tubuh Kinan dan mulai meelumaat kembali bibir sang istri yang sudah membengkak tersebut.


Awalnya, Kinan tidak menyadari tindakan Adrian. Dia membalas luumatan sang suami dengan tak mau kalah. Hingga beberapa saat kemudian, Kinan merasakan sesuatu mulai menyeruak di bagian bawah tubuhnya. Seketika Kinan melepaskan pagutan bibirnya.


"Aahhhh, Maassshh. A-apa ini? Penuh. Sesaakk. Eeughhhh."


"Tenang. Jangan panik. Sekarang, giliranku," bisik Adrian menenangkan Kinan.


"Eeughhh, sakitthh, Mas."


Belum sempat Kinan melanjutkan ucapannya, Adrian sudah kembali menyerang bibir dan si pepaya kembar Kinan. Rupanya, hal itu sengaja Adrian lakukan untuk mengalihkan perhatian Kinan dari apa yang akan dilakukannya.


Hingga beberapa saat kemudian, Adrian sudah merasakan Kinan sudah siap menerima serangannya. Alhasil, Adrian bergerak menekan semakin dalam.


"Hhheegghhhh, eeuughhhh. Ma-maassshhh."