
Mau tidak mau El segera beranjak untuk membukakan pintu. Dia berniat untuk membukakan pintu dan mengomeli siapapun yang telah mengganggunya.
Ceklek.
"Astaga, itu bibir kenapa belepotan lipstick?!"
El langsung membulatkan kedua matanya sambil mengusap-usap bibir dan pipinya. El masih mengerucutkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah sang daddy. Ya, daddy Kenzo lah si pelaku yang telah menginterupsi pemanasan hokya-hokya El dan Fara tadi.
"Daddy apa-apaan sih, mengganggu saja. Memangnya ada apa daddy kemari?" Tanya El sambil masih menggerutu tidak jelas.
"Tadi, Daddy bertemu dengan Zee di bawah bersama dengan Gen. Dia bertanya kenapa daddy dan kamu ada disini. Tadi dia juga melihatmu, namun karena terburu-buru, dia tidak sempat menyapa. Ini Zee baru menelepon daddy. Dia kebingungan karena ponselmu tidak aktif." Kata daddy Kenzo.
"Eh, Zee menginap disini juga, Dad?"
"Hhhmmm. Segera aktifkan ponselmu." Jawab daddy Kenzo sambil melangkah menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar El dan Fara.
Setelah kepergian sang daddy, El segera menutup pintu kamarnya dan berjalan untuk mengambil ponselnya. Dia dan Fara memang lupa belum mengaktifkan kembali ponselnya setelah tiba di bandara. Begitu ponselnya sudah aktif, El segera mencari nomor Zee dan menghubunginya. Pada dering ke empat, Zee mengangkat panggilan telepon El.
"Hallo, dari mana saja sih lo, El?" Tanya Zee begitu panggilan telepon tersebut sudah tersambung.
"Sorry, gue lupa mengaktifkan ponsel. Lo menginap di hotel ini juga?" Tanya El.
"Hhmm. Tapi gue lagi keluar ini sama Gen. Oh iya, ada acara apa lo dan keluarga di Surabaya? Tadi sempat ketemu om Kenzo, tapi tidak sempat bertanya."
"Oh, ini kami diundang tante Fida. Sore ini Revina akan melangsungkan ijab qobul di hotel ini."
"Apaa?! Kok bisa?! Dia menikah dengan siapa?"
"Ccckkk. Biasa aja kali. Mentang-mentang dulu pernah dibucinin oleh Revina." Cibir El.
"Ccckkk. Itu kan masa lalu. Lagi pula, gue kan nggak menanggapi."
"Heleehhh."
"Sudah, jangan banyak omong. Katakan, Revina menikah dengan siapa?" Tanya Zee penasaran.
"Revina menikah dengan Bian dari Als Corp."
"Bian asisten pak Kaero?!" Zee kembali terkejut.
"Hhhmmm."
"Kok bisa? Mereka pacaran sebelumnya?" Lagi-lagi Zee kembali bertanya karena penasaran.
"Ccckkk, mana gue tau. Emangnya gue siapanya." Gerutu El.
"Lalu, apa yang lo tau?"
"Yang gue tau, lo ganggu jadwal gue hokya-hokya sekarang." Jawab El.
El meletakkan ponselnya di atas tempat tidur setelahnya. Saat itu, bersamaan dengan Fara yang juga sudah selesai membersihkan diri.
"Siapa Mas yang telepon?" Tanya Fara.
Seketika El menoleh menatap Fara yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Zee. Dia tadi bertemu daddy di bawah. Jadi dia menelepon untuk menanyakan ada acara apa kita datang ke Surabaya."
Fara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu, dia segera meminta El untuk membersihkan diri. Fara juga segera bersiap-siap dan menyiapkan pakaian untuk El. Acara ijab qobul Revina akan dilangsungkan pada pukul empat sore.
Setelah semua siap, Fara dan El segera menghampiri kedua orang tua mereka dan berangkat menuju tempat berlangsungnya acara.
Disana, sudah ada keluarga Revina dan keluarga Bian. Mereka saling bertukar sapaan dan segera mengambil tempat duduk yang sudah disiapkan. Disana sudah ada Bian yang berhadapan langsung dengan papa Reyhan dan penghulu. Mereka masih menunggu kedatangan Revina.
Beberapa saat kemudian, nampak Revina sudah berjalan memasuki tempat acara. Di sampingnya, sudah ada sang mama yang mendampingi. Dibelakang Revina, nampak seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk diatas kursi roda dan didorong oleh seorang wanita.
Revina langsung mengambil tempat duduk tepat di samping Bian. Kepala mereka berdua sama-sama menunduk. Terlihat sekali mereka tengah tegang.
Tak berapa lama kemudian, prosesi ijab qobul tersebut dilakukan. Papa Reyhan sendiri yang bertindak sebagai wali nikah sang putri semata wayang. Bian mengucapkan kalimat sakral ijab qobul tersebut dengan mantap dan lantang.
Saaahhhh.
Suara menggema secara bersamaan setelah Bian selesai mengucapkan kalimat ijab qobul tersebut. Ucapan syukur terdengar dari bibir semua orang yang hadir saat itu.
Mama Fida yang duduk di belakang Revina terlihat menitikkan air mata. Mommy Vanya yang berada di sampingnya langsung merangkul pundaknya berusaha untuk menenangkannya.
"Sssttt, jangan menangis. Seharusnya kamu bahagia dengan pernikahan Revina." Kata mommy Vanya.
"Aku bahagia kok, bahagia sekali malahan. Aku hanya sedih, kenapa acaranya dadakan begini. Aku belum menyiapkan kamar pengantin untuk mereka." Jawab mama Fida sambil mengusap air matanya.
"Nggak usah menyiapkan apapun. Nanti juga nggak bakal dilirik. Ada yang lebih menarik daripada hiasan kamar pengantin." Kata mommy Vanya.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf baru selesai ngetik 🙏