The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 140



Hari yang ditunggu oleh daddy El dan mommy Fara pun datang. Sejak semalam, mommy Fara sudah terlihat heboh dengan kejutan yang diberikan oleh daddy El. Mommy Fara benar-benar bahagia saat daddy El memberikannya kejutan honeymoon yang entah sudah keberapa kalinya. 


Sejak pagi, mereka sudah bersiap-siap dan harus segera berangkat agar tidak tertinggal pesawat. Setelah sarapan, keduanya benar-benar berpamitan. Mereka akan langsung pulang ke Indonesia sepulang dari honeymoon.


Tak berapa lama kemudian, Cello juga terlihat sudah bersiap-siap. Hari itu, dia membawa kendaraan ke tempat pelatihan, sekalian mau belanja. Shanum sudah menitipkan banyak daftar belanjaan kepada sang suami.


Hari berganti hari, kehidupan Cello dan Shanum di Kanada lumayan berjalan dengan baik, meskipun bertengkar karena masalah sepele tak dapat dihindari. Kini, Cello sudah memasuki bulan keempat berada di Kanada. Sedangkan Shanum dan si kembar, sudah memasuki bulan ketiga.


Malam itu, Shanum yang baru saja menidurkan si kembar, langsung beranjak menuju tempat tidur untuk menyusul sang suami. Cello memberitahu Shanum jika mereka bisa segera kembali ke Indonesia.


"Beneran bulan depan kita akan pulang ke Indonesia, Mas?" tanya Shanum dengan wajah berbinar bahagia.


Cello yang melihat wajah bahagia sang istri langsung mengangguk mengiyakan.


"Iya, yang. Dua minggu lagi pelatihanku sudah selesai. Nilaiku lumayan bagus, jadi tidak perlu mengikuti kelas tambahan."


"Waahhh, alhamdulillah. Aku benar-benar bahagia, Mas. Rasanya sudah nggak sabar ingin bertemu dengan keluarga."


"Iya. Aku juga sudah kangen banget dengan keluarga dan suasana rumah. Pasti seru sekali berenang di rumah sambil bermain dengan twins."


"Eh, anak-anak kamu juga masih kecil, Mas. Mau diajak berenang saja," kata Shanum sambil merengut kesal ke arah sang suami.


"Hehehe, habisnya aku sudah nggak sabar menunggu mereka besar, Yang. Biar bisa diajak jalan dan main bareng."


"Eh, emang mau jalan kemana? Awas kamu jika aneh-aneh, Mas!"


"Aneh-aneh bagaimana sih, Yang?"


"Awas saja jika nanti kamu ajak Drew dan Dryn jalan, lalu memperkenalkan mereka sebagai adik-adik kamu dan bukan anak kamu."


"Eh, memangnya ada yang seperti itu?"


"Adalah. Ada banget malahan, wajah ayah dan anak seperti seumuran, nggak jauh bedanya."


"Siapa?"


"Om Zee dan daddynya."


Setelah cukup lama berpikir, Cello baru menyadari hal itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh sang istri. Om Zee dan daddynya memang terlihat awet muda. Bahkan, kakeknya pun masih terlihat segar bugar meski berusia tujuh puluh tahun lebih.


"Sepertinya kamu benar, Yang. Kira-kira keluarga Geraldy itu makanannya apa ya, kok mereka terlihat masih muda begitu?" kata Cello sambil menarik tubuh sang istri untuk lebih dekat ke arahnya.


"Aku rasa, mereka bisa awet muda begitu karena mereka selalu membuat pikiran mereka bahagia terus, Yang."


"Kalau itu pasti, Mas. Semua orang bisa merasa bahagia asalkan mereka selalu bisa mensyukuri apa yang dimiliki. Terkadang, rasa tidak bahagia itu muncul karena melihat kehidupan orang lain dan membandingkannya dengan kehidupan diri sendiri."


"Kamu benar, Yang. Kamu jangan merasa seperti itu, ya. Disyukuri apapun yang dimiliki. Sebisa mungkin jangan membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaian kita. Kita biasanya hanya melihat apa hasil yang diperoleh orang lain, tanpa tahu bagaimana dia menjalani proses untuk menuju pencapaian tersebut."


"Kamu benar, Mas. Waahh, suamiku semakin dewasa deh. Kok kamu semakin pinter sih, Mas."


"Sembarangan. Jika aku nggak pinter, mana mungkin bisa menghasilkan si kembar," jawab Cello dengan bangganya.


"Ccckkk, kalau itu sudah takdirnya, Mas. Karena memang ada keturunan untuk melahirkan anak kembar," jawab Shanum sambil mendengus kesal.


"Hehehe iya, Yang. Aku juga paham kok. Di pelatihan, banyak sekali pelajaran tentang mindset. Aku banyak belajar dari sana."


"Bagus dong. Aku juga berharap, mindset kamu tentang adon mengadon juga sedikit berubah."


"Eh, kalau itu nggak bisa, Yang. Aku belajar teorinya langsung sama daddy kok kalau untuk hal itu. Untuk prakteknya, aku praktekin sama kamu. Hehehehe"


"Astaga, Mas. Bisa-bisanya itu otak masih memikirkan hal itu!" Gerutu Shanum.


"Eh, otakku normal kok, Yang. Jadi wajar jika memikirkan hal itu."


"Normah jika mikirnya wajar, lha ini perasaan kamu sepanjang hari tadi mikirin itu melulu."


"Hehehe, habisnya gimana, Yang. Hari ini free, di rumah lihat kamu ngumbar pabrik nutrisi kan jadi iri," jawab Cello sambil tersenyum nyengir.


"Ccckkk, iri tanda tak mampu, Mas."


"Eh, bagaimana maksudnya ini? Aku kan memang nggak mampu." 🙄🤔