
Dena menggelengkan kepalanya. "Itu tidak mungkin. Aku kan…," Dena menghentikan ucapannya. Dia belum bisa memberitahu Kinan jika dirinya sudah menikah dengan mahasiswanya sendiri.
Sebenarnya, setelah kemarin dia mendapat wejangan dari sang mami, Dena merasa tidak masalah lagi jika ada yang mengetahui pernikahan mereka. Namun, dia belum membicarakan hal ini dengan Rean.
Selain itu, Dena juga memikirkan keadaan Rean. Rean, yang notabene adalah mahasiswanya sendiri dan saat ini masih akan menginjak semester dua. Dena hanya tidak ingin Rean menjadi omongan teman-temannya jika ternyata dia sudah menikah. Terlebih lagi, dia menikah dengan dosennya sendiri. Dena tidak ingin Rean mendapat kesulitan dikemudian hari.
Kening Kinan masih berkerut saat menunggu Dena melanjutkan ucapannya. "Aku apa, Den?" Kinan sudah tidak sabar lagi.
Dena tersadar dan menggeleng-gelengkan kepala. "Ti-tidak ada apa-apa. Sebenarnya, aku memang menjaga jarak dari laki-laki. Tidak hanya kepada pak Rama, tapi juga kepada yang lainnya."
"Kenapa?" Kinan akhirnya penasaran juga, meskipun sebenarnya dia sudah tahu jika Dena memang tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun selama ini.
"Ehm, hanya belum kepikiran saja," jawab Dena sambil berusaha mengulas senyumannya.
Kinan hanya menanggapi perkataan Dena sambil mengedikkan bahunya. Setelah itu, keduanya membuka martabak pemberian dari Rama. Mereka merasa sayang jika harus dibuang-buang.
Setelah merasa cukup kenyang, keduanya segera beranjak tidur. Dena mengambil ponselnya di atas nakas. Dia cukup terkejut saat melihat ada pesan dari sang suami. Tak terasa kedua ujung bibirnya tertarik hingga membentuk senyuman.
23.18
Aku juga. Maaf tadi masih beres-beres.
Cukup lama Dena menatap ruang perpesanannya dengan sang suami. Namun, belum ada jawaban dari Rean. Dena berpikir jika sang suami sudah tertidur. Namun, beberapa saat kemudian terdengar sebuah pemberitahuan pesan masuk.
23.25
Belum tidur? Bisa video call?
23.26
Belum. Ehm, aku satu kamar dengan Kinan. Aku takut mengganggu tidurnya.
23.27
Bu Kinan ikut juga?
23.29
Iya. Dia sedang tidur di sebelahku.
Baiklah, mungkin besok-besok saja. Sudah larut malam, segeralah istirahat. Besok sudah mulai padat kan jadwalnya?
23.33
Iya. Kamu juga segera istirahat, Mas. Jangan begadang.
23.34
Iya, Sayang. Nggak sabar pengen segera pulang, nih. 😘
Entah mengapa hanya membaca pesan begitu saja wajah Dena menjadi terasa panas. Jika ada yang melihat, mereka pasti keheranan saat melihat wajah Dena yang merona. Dia benar-benar tersipu malu.
23.35
Iya, Mas. Segeralah tidur. Selamat malam.
23.37
Selamat malam, Sayang. Emmuuaahhh.
Dena membulatkan kedua matanya setelah membaca balasan sang suami. Dia sampai harus menggigit ujung bantal untuk menahan teriakannya. Setelah itu, Dena benar-benar membenamkan tubuhnya di dalam selimut. Hingga tak berapa lama kemudian, Dia berhasil terlelap.
Keesokan pagi, Dena dan Kinan bersiap-siap untuk sarapan sebelum jadwal pertama kegiatan hari itu dimulai. Keduanya bergabung dengan para peserta diklat yang lainnya.
Rama yang melihat keberadaan Dena, hanya menatapnya dari jauh. Dia merasa tidak etis rasanya menghampiri Dena disaat banyak sekali peserta diklat yang berada di sana. Dia tidak ingin menarik perhatian banyak orang.
Setelah selesai sarapan, acara hari itu dimulai. Dena sudah memberi kabar Rean jika dia akan sangat sibuk seharian. Tak lupa juga, Dena mengirimkan jadwal kegiatan diklatnya kepada Rean agar sang suami mengetahui agenda yang diikutinya.
Sementara di Surabaya, Rean kembali ke distro untuk memantau pengerjaan distronya. Kali ini, Rean mempekerjakan lima orang pekerja agar pekerjaan tersebut bisa segera selesai.
Refan yang pagi itu juga berada di distro langsung menghampiri Rean. "Sudah lihat ada paket untukmu di dalam?"
Rean menoleh ke arah Refan. Dia menggelengkan kepala karena belum mengetahui tentang hal itu. "Belum. Memang paket apa?"
"Entahlah. Kemarin sore ada seorang cewek menitipkan paket tersebut. Karena kamu sudah pulang, aku meletakkannya di dalam."
"Nanti akan aku periksa."