
Revina sampai rumah Bian menjelang makan malam. Tak lupa juga, setelah belanja tadi dia mampir membeli makan malam di luar dan membawanya pulang. Biasanya dia akan memasak sendiri menu sederhana. Namun, karena persediaan bahan-bahan makanan di rumahnya sudah habis, jadi Revina memilih untuk membeli makan malam di luar.
Sesampainya di rumah, Revina langsung menyiapkan makan malam. Setelahnya, dia membersihkan diri dulu sambil menunggu sang suami pulang. Saat Revina tengah mandi, Bian ternyata sudah sampai rumah. Dia langsung menuju kamarnya untuk mencari keberadaan sang istri.
Ceklek.
Bian membuka pintu kamar tidurnya. Namun, dia tidak mendapati sang istri berada di sana. Sayup-sayup Bian mendengar suara gemericik air yang berasal dari dalam kamar mandi. Bian segera meletakkan tas kerjanya dan mulai melepas sepatu dan kemeja kerjanya.
Bian berjalan menuju kamar mandi dan hendak bergabung dengan sang istri. Dia lumayan sering mengganggu sang istri saat tengah mandi seperti itu. Bian perlahan-lahan membuka pintu kamar mandinya dan mendapati sang istri tengah berdiri dibawah guyuran shower dengan membelakanginya.
Bian berjalan pelan-pelan untuk menghampiri sang istri. Revina yang masih tidak menyadari kehadiran Bian di belakangnya, masih melanjutkan aktivitasnya keramas.
Grep.
Revina tersentak saat merasakan pelukan Bian dari belakang. Kini, tangan Bian sudah melingkar pada perutnya.
"Maasss?!" Revina berteriak kaget sambil mencubit lengan sang suami.
"Hhhmmm."
"Kamu kebiasaan banget sih buat orang jantungan, Mas. Gimana coba jika terkena serangan jantung. Setidaknya, bersuara atau apa gitu kek." Gerutu Revina.
"Maaf, Dek. Habisnya gemes banget lihat kamu mandi." Jawab Bian sambil mengeratkan pelukannya.
"Halah, itu mah alasan kamu saja, Mas." Dengus Revina. Pasalnya, hampir setiap ada kesempatan, Bian benar-benar selalu memanfaatkan untuk mengganggunya.
"Kamu selalu bilang jika aku yang selalu mencari alasan. Bukannya kamu sendiri yang selalu bersemangat, Dek." Kata Bian sambil mulai menggerakkan hidungnya menjelajah tengkuk sang istri. Jangan lupakan tangannya yang sudah mulai menjalar ke bawah sana dan mulai menjelajah, ah sudahlah.
"Sssshhhh, Maasssshhh. Kamu kok sekarang semakin pandai, sih." Kata Revina yang sudah mulai terpengaruh godaan sang suami.
"Benarkah?"
"Eehhmmmm. A-aku belum selesai mandi, Maasss."
"Nggak apa-apa. Mandi bareng sekalian. Sambil olahraga."
"Eh, di-disini lagi?" Tanya Revina sambil sedikit menolehkan kepalanya.
Hal itu tidak disia-siakan oleh Bian. Dia langsung membungkam bibir Revina dengan bibirnya dan mel*m*tnya dengan rakus. Sementara tangannya sudah bekerja di bawah sana. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bian langsung memulai aktivitas intinya.
"Begini?"
"Ho oh, auuwwhhhh. Basah semua, Mas. Aduuhhh, kok i-ini.." Revina masih saja terus meracau tidak karuan sementara Bian sudah mulai bergerak di bawah sana.
Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian mereka sudah menyelesaikan aktivitas mereka. Bian segera membantu Revina untuk menyelesaikan mandinya yang sempat di ganggu tadi.
"Kamu ini suka sekali mengganggu orang mandi, Mas." Kata Revina sambil berjalan ke arah walk in closet dan di ikuti oleh Bian.
"Kamu juga suka sekali mengganggu orang kerja, Dek."
"Ya, kalau aku kan beda, Mas. Kamu suka sekali membawa pekerjaan ke rumah. Aku kan merasa di cuekin."
"Ya sudah, mulai sekarang aku akan membatasi membawa pekerjaan ke rumah. Aku akan mengerjai kamu saja jika di rumah." Jawab Bian dengan santainya.
"Eh, mana bisa begitu. Dikira aku ini pekerjaan apa."
"Iya lah. Kamu kan lahan pekerjaan yang harus di olah." Jawab Bian sambil menaik turunkan alisnya. Jangan lupa senyum jahil sudah mulai terbit. Bian benar-benar sudah mulai menunjukkan sifat aslinya karena pengaruh Revina.
"Dikira sawah apa." Dengus Revina.
"Iya, dong. Sawah tempat membajak dan mencangkul."
"Hhhh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf masih slow up. Othor akan usahakan secepatnya end.