
Sementara di dalam kamar tidur, Kenzo yang baru saja menyelesaikan hajatnya langsung beranjak kembali menuju tempat tidur. Dia memandangi wajah dan rambut Vanya yang sudah sangat berantakan karena ulahnya. Kenzo tersenyum sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.
Kenzo memberikan kecupan singkat pada kening Vanya dan merapikan beberapa sulur rambut yang mengumpul pada pelipisnya. Kenzo merapikan selimut yang menutupi tubuh sang istri. Tangan Kenzo terulur pada perut Vanya dan mengusapnya dengan lembut. Setelahnya, Kenzo merebahkan diri di samping Vanya dan mencoba untuk terlelap.
Namun, setelah cukup lama berbaring dan berusaha mencari posisi yang nyaman untuk berusaha terlelap, Kenzo sama sekali tidak dapat memejamkan mata. Entah mengapa perutnya terasa lapar. Kenzo membayangkan dirinya memakan nasi goreng. Dia menoleh memandang sang istri yang tengah terlelap.
"Yang, bangun dong, Yang. Aku lapar." Rengek Kenzo sambil mengguncang-guncang lengannya.
Vanya menggerak-gerakkan kelopak matanya perlahan-lahan mencoba untuk membukanya. Dia menoleh ke samping menatap wajah sang suami yang tengah cemberut.
"Ada apa sih, Mas? Tadi kan sudah selesai jelajahnya, masa iya mau minta lagi." Kata Vanya dengan mata mengantuk.
"Bukan itu."
"Lalu apa? Aku ngantuk banget ini, Mas. Badanku juga seperti remuk rasanya."
"Kenapa bisa capek, kamu dari tadi cuma tiduran saja sambil ah uh ah uh saja. Aku lapar, Yang." Rengek Kenzo.
Vanya membuka matanya dan menatap wajah Kenzo yang memelas. Vanya tersenyum melihat tingkah sang suami. Dia membalikkan tubuhnya hingga kini miring menghadap Kenzo.
"Ini kenapa wajah jadi seperti ini sih. Kemana wajah yang biasanya terlihat galak itu." Kata Vanya sambil mengusap pipi Kenzo.
"Itu kan jika diluar kamar. Kalau di dalam kamar ya begini ini." Jawab Kenzo sambil mendengus.
"Jadi, yang mana yang asli?"
"Ya semuanya asli lah, masa iya aku pakai wajah jadi-jadian." Dengus Kenzo. "Aku lapar, Yang. Aku kan sudah mengerahkan seluruh tenaga tadi." Lanjut Kenzo.
"Halah, masih segitu saja sudah capek. Biasanya juga double, triple juga hayukk." Kata Vanya sambil mencebikkan bibirnya.
"Biasanya kan ada variasi, Yang. Lha ini kan monoton terus. Aku yang bekerja." Jawab Kenzo.
"Iya, iya maaf. Tapi itu semua kan demi baby, Mas. Yasudah, ayo aku buatkan makanan." Kata Vanya sambil menyingkap selimutnya. Namun, Kenzo segera menghentikan Vanya dengan mencekal lengannya.
"Nggak usah buat makanan. Aku ingin makan nasi goreng." Kata Kenzo.
"Iya, aku buatkan nasi goreng." Kata Vanya hendak berdiri.
"Aku nggak mau!"
"Lha, katanya mau nasi goreng, bagaimana sih. Atau mau delivery saja?" Tanya Vanya.
"Ehm, aku nggak mau. Aku mau makan nasi goreng buatan Reyhan." Kata Kenzo.
Seketika Vanya melirik jam yang ada di atas nakas, pukul 00.25.
"Mas, ini sudah lewat tengah malam. Kasihan kan Reyhan. Aku buatkan nasi goreng saja ya." Bujuk Vanya.
Namun Kenzo tetap menolak. Dia menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. Vanya menghembuskan napas beratnya melihat tingkah Kenzo.
"Aku mau dibuatkan nasi goreng yang dijual keliling oleh Reyhan, Yang. Nanti kamu suapi ya." Kata Reyhan dengan wajah berbinar penuh harap.
Vanya hanya bisa melongo mendengar perkataan Reyhan. Bisa-bisanya orang yang biasanya galak ini akan bertingkah ajaib seperti ini saat menginginkan sesuatu. Ngidam yang benar-benar bisa merubah seseorang. Batin Vanya.
Mau tidak mau Vanya menuruti keinginan sang suami. Dia beranjak turun dari tempat tidur untuk mengikuti langkah kaki Kenzo menuju kamar Reyhan. Saat mendekati kamar Reyhan, sayup-sayup Kenzo dan Vanya mendengar suara dari dalam kamar Reyhan. Vanya dan Kenzo berhenti di depan pintu kamar dan saling berpandangan.
"Reyhan sedang ngomong sama siapa, Mas?" Tanya Vanya.
"Entahlah. Ini kan sudah lewat tengah malam. Siapa yang diteleponnya hingga jam segini." Jawab Kenzo.
Malam itu, hampir dua jam Reyhan dan Fida berbicara di telepon. Mereka berdebat tentang banyak hal. Mulai dari nama panggilan, sentuhan fisik, tujuan kencan, waktu pulang sampai pakaian yang akan mereka pakai pun dibahas.
Reyhan tetap kekeh ingin memakai kemeja, namun Fida tetap meminta Reyhan memakai kaos biasa. Fida ingin agar Reyhan terlihat lebih santai.
Untuk panggilan kesayangan, Reyhan tidak mau menggunakan usulan Fida. Terlalu alay menurutnya. Dirinya yang sudah berusia diatas tiga puluh tahun, rasanya tidak pantas jika harus menggunakan panggilan seperti itu. Akhirnya, Reyhan meminta Fida untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' seperti Vanya memanggil Kenzo. Fida pun mengiyakan.
Setelah cukup lama Vanya dan Kenzo berada di depan pintu kamar Reyhan, mereka akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok tok toookk.
Seketika tidak terdengar suara lagi di dalam kamar. Reyhan rupanya memutuskan panggilan teleponnya dengan Fida. Dia segera beranjak menuju pintu dan membukanya.
Ceklek
Reyhan mengerutkan keningnya saat melihat Kenzo dan Vanya sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Ada apa, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Reyhan.
"Ehm, itu anu. Aku mau makan nasi goreng." Jawab Kenzo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia melirik wajah sang istri yang tengah menatapnya tajam.
"Mau saya pesankan?" Tanya Reyhan.
"Eh tidak. Aku tidak mau makan nasi goreng delivery." Jawab Kenzo.
"Lalu, apa mau saya buatkan Tuan?" Tanya Reyhan.
"Ehm, sebenarnya itu tujuanku datang kemari malam-malam begini." Jawab Kenzo sambil nyengir menatap wajah Reyhan dan Vanya bergantian.
"Baiklah, akan saya buatkan." Jawab Reyhan sambil beranjak berjalan menuju dapur. Namun, langkahnya langsung berhenti saat Kenzo menahan bahunya.
Reyhan mengerutkan keningnya bingung saat melihat Kenzo menahan bahunya.
"Ada apa, Tuan? Anda perlu sesuatu yang lain?' tanya Reyhan.
"Ehm, sebenarnya aku tidak mau makan nasi goreng yang kamu buat di rumah, Rey." Jawab Kenzo.
"Lalu?"
"Ehm, aku mau nasi goreng yang kamu buat di atas gerobak penjual nasi goreng keliling." Jawab Kenzo sambil nyengir. Sementara Vanya hanya bisa menghembuskan napas beratnya.
"Hhaaah?!"
Reyhan berbalik dan memandang Kenzo dengan wajah terkejutnya.
"Maaf ya Rey. Mas Kenzo selalu minta yang aneh-aneh. Tadi aku sudah menawarkan untuk membuatkan nasi goreng, tapi dia tidak mau. Dia maunya kamu yang buat di atas gerobak penjual nasi goreng keliling." Kata Vanya merasa tidak enak kepada Reyhan karena mengganggu istirahatnya. Eh, atau mungkin belum istirahat ya, tadi terdengar Reyhan sedang berbicara dengan seseorang di dalam kamar. Batin Vanya.
Reyhan menghembuskan napas beratnya sebelum mengangguk mengiyakan. Bukan hanya kali ini saja dia direpotkan dengan selera makan Kenzo. Jika di kantor pun dia juga selalu di repotkan.
"Baiklah, saya akan mencari penjual nasi goreng. Silahkan anda beristirahat dulu, nanti akan saya bawakan." Kata Reyhan.
"Tidak mau! Kami ikut."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Adakah yang modelnya seperti Kenzo begini? 🤔