The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 121



Beberapa hari kemudian, Cello baru saja pulang dari tempat futsal. Dia mendapati Rean tengah menemani kedua putranya di ruang tengah.


"Lho, Re ternyata di sini? Sejak kapan?" tanya Cello sambil mendaratkan tubuhnya di karpet dekat sofa. Dia belum berani mendekati kedua putranya karena dia belum membersihkan diri. Shanum pasti akan berceramah panjang kali lebar jika mengetahui Cello langsung menemui kedua putranya ketika baru pulang.


"Dari siang sih, Kak. Pulang dari kampus langsung ke sini."


"Malam ini menginap saja di sini, Re."


"Maunya juga begitu, Kak. Mama dan papa kan juga sudah berangkat ke Semarang sejak pagi."


"Jadi berangkat hari ini?"


"Iya. Acaranya kan besok, Kak. Jadi mereka harus mempersiapkan gladi bersih sebelum acara."


Cello hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia sudah tahu jika papa mertuanya tersebut harus menghadiri acara kantornya yang berskala internasional. Mau tidak mau, papa Bian harus turun tangan sendiri untuk memastikan kesiapan acara tersebut. Hal itu juga yang membuat mama Revina ikut serta ke Semarang.


Tak berapa lama kemudian, Shanum terlihat datang sambil membawa dua botol susu untuk Drew dan Dryn. Shanum menatap ke arah Cello sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kok belum bersih-bersih, Mas? Bersih-bersih dulu sana," kata Shanum sambil memberikan satu botol susu kepada Rean. Dia meminta sang adik untuk membantu memberikan susu kepada salah satu putranya.


"Iya, iya, Yang. Aku bersih-bersih dulu," jawab Cello sambil langsung beranjak berdiri sebelum Shanum kembali berceramah.


Rean kembali menatap ke arah Cello yang sudah beranjak menuju kamarnya. Keningnya berkerut saat melihat bagaimana Cello benar-benar mengikuti perkataan Shanum.


"Kak, kenapa kak Cello jadi penurut begitu setelah menikah? Sepertinya, dia selalu menuruti permintaan Kakak," tanya Rean penasaran.


"Memangnya ada yang salah, Re?" tanya Shanum.


"Ya nggak begitu juga maksudnya, Kak. Hanya saja, aku heran jika melihat hal itu. Bukan hanya kak Cello saja sih. Sepertinya, kakek, papa dan daddy El juga melakukan hal yang sama. Mereka juga sering menuruti permintaan istri."


"Nggak selalu, Re. Mereka tahu mana yang memang harus dituruti dan tidak. Sebenarnya, bukan hanya para suami saja yang melakukannya. Aku, mama, mommy, bahkan nenek pun juga akan melakukan hal yang sama, kok. Kami menikah dan berkeluarga, bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa atau siapa yang lebih berhak mengatur. Tapi, kami sama-sama bahu membahu menjalani ini dengan saling melengkapi."


"Ada kalanya aku lali terhadap sesuatu, dan aku tidak akan marah jika mas Cello menegurku. Hal itu juga berlaku sebaliknya. Meskipun, terkadang kami harus berdebat dulu sebentar, hehehe."


Rean hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Rean yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal, meskipun dia sudah sering melihatnya. Cello dan Shanum hanya bisa terkekeh geli saat melihat wajah ditekuk Rean.


"Bagaimana distro kamu, Re?" tanya Cello beberapa saat kemudian.


"Alhamdulillah lancar, Kak."


"Di Surabaya ada dua cabang, kan?"


"Iya, Kak. Rencananya mau menambah satu lagi. Masih nego sama papa sih, minta bantuan. Hehehe."


"Bagus itu. Apalagi, jika dilihat yang di Jakarta prospeknya bagus."


"Lumayan bagus, Kak. Aku benar-benar berterima kasih kepada daddy El karena membantu menyewakan tempat itu. Lokasi yang dekat dengan tempat tongkrongan anak-anak muda itu benar-benar menjanjikan."


Cello dan Shanum hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka cukup bangga dengan Rean yang sudah memiliki usaha distro sejak SMA tersebut. Kini, dia sudah mempunyai tiga distro yang dikelola oleh beberapa temannya. Dua berada di Surabaya, sedangkan satu di Jakarta.


"Kalau nafkah sudah bisa dicari, kenapa calon istri belum juga mulai dicari, Re?" kali ini Cello kembali bertanya kepada Rean.


"Eh, siapa bilang belum dicari. Aku bahkan sudah mau menandainya, kok," jawab Rean sambil tersenyum puas.


"Serius, Re?!"


"Serius, dong. Lihat saja, sebentar lagi kakak pasti akan punya adik ipar."


"Dia nyata kan Re? Bukan halusinasi kamu saja?" Shanum benar-benar meragukan perkataan Rean.


"Memang Kakak kira aku suka sama makhluk halus apa?!"


Waahh waahh, kira-kira siapa yang mau di launching Rean ya? 🤭


Bagi yang kangen keluarga Geraldy, bisa mampir di cerita othor yang satunya ya. Mereka masih muncul di sini. 👇