The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Dari Othor



"Kita kan sudah menikah. Jadi, sudah seharusnya aku sebagai seorang suami memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya," kata Rean sambil menatap tajam perempuan yang masih berdiri di depan kamar tidurnya tersebut.


"Aku tahu itu, nggak usah dijelaskan lagi. Jangan kira aku anak kecil yang tidak mengetahui hal itu!" jawab perempuan tersebut sambil melipat kedua tangganya di depan dada.


"Lalu, jika kamu sudah tahu hal ity, kenapa kamu menolak uang yang aku berikan?" tanya Rean dengan alis terangkat. Dia benar-benar tidak mengerti maksud perempuan tersebut.


Terdengar helaan napas perempuan tersebut sambil mengurai lipatan tangannya. Tatapan matanya masih menatap tajam ke arah Rean.


"Dengar, Re. Bukan aku tidak mau menerima uang pemberian kamu. Tapi kamu masih kuliah, aku tidak mau kamu merasa terbebani dengan nafkah yang harus kamu berikan untukku. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Aku tahu jika kamu berasal dari keluarga yang sangat mampu, tapi aku juga tidak mau menerima uang pemberian dari orang tua kamu. "


Lagi-lagi kening Rean berkerut setelah mendengar perkataan sang istri. Entah apa maksud perkataan Dena tersebut. Rean benar-benar tidak mengerti.


"Apa maksudnya itu? Uang pemberian apa?"


Dena terlihat menghembuskan napasnya dengan berat sebelum beranjak menuju meja makan dan mengambil sebuah amplop berisi uang tersebut dan memberikannya kepada Rean. 


"Aku tahu jika orang tua kamu memberikan uang ini kepadamu agar kamu bisa memberikannya padaku sebagai nafkah. Maaf Re, aku tidak bisa menerimanya. Bukan maksud aku menolak pemberian orang tua kamu, tapi aku benar-benar tidak memikirkan hal itu. Aku masih sanggup menafkahi kehidupan kita kedepannya," kata Dena sambil meraih tangan Rean dan memberikan amplop tersebut.


Rean baru menyadari maksud perkataan Dena. Rupanya istrinya tersebut salah paham jika uang yang berada dalam amplop tersebut adalah pemberian dari orang tuanya.


"Aku sama sekali tidak menerima uang dari orang tuaku. Dan uang ini, bukan berasal dari mereka," kata Rean.


Lagi-lagi Dena tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Rean. Dia masih berpikir jika uang tersebut berasal dari orang tua Rean. Selain itu, Dena juga belum tahu jika Rean sudah memiliki usaha sendiri. Setahu Dena, Rean membantu papa Bian sebagai freelancer di kantornya karena dia masih kuliah.


Rean langsung membulatkan kedua bola matanya. Harga dirinya langsung tersentil saat mendengar perkataan sang istri. Seketika Rean berjalan mendekat ke arah Dena yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Rean mendorong tubuh Dena hingga kini posisi mereka saling berhimpitan.


Suara benturan punggung dan daun pintu hingga membuatnya tertutup langsung mengisi pendengaran kedua orang tersebut. Sorot mata tajam yang saling mengunci tersebut benar-benar terasa membekukan satu sama lain.


"Ma-mau apa kamu, Re?!" manik Dena benar-benar membulat saat mendapati Rean menghimpitnya di balik pintu.


"Apa tadi kamu bilang? Aku masih kecil dan masih belum mampu menjalankan kewajiban sebagai seorang suami?" tanya Rean dengan alis terangkat.


"Bu-bukan begitu Re," jawab Dena sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kamu mau bukti jika aku sanggup menjalankan kewajiban sebagai seorang suami?" tanya Rean masih tak berpindah tempat.


Lagi-lagi Dena menggelengkan kepalanya. Entah mengapa otaknya mendadak kosong saat mendapat intimidasi dari Rean seperti itu.


"Mungkin kamu masih menganggapku anak kecil. Tapi, disini aku adalah suamimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan nafkah untukmu. Meskipun aku masih kuliah, aku sudah punya usaha sendiri. Jadi, kamu mau pilih terima uang pemberianku atau, terima benihku?"


Sedikit part dari cerita Rean dan Dena ya.