The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 154



"Eh Den, kenapa jalanmu seperti itu? Kalian baru buka segel ya?" tanya Shanum sambil menatap langkah kaki Dena yang berjalan ke arah mereka.


Dena yang mendengar perkataan Shanum langsung menghentikan langkahnya. Rean yang mengikutinya, juga melakukan hal yang sama. Wajah Dena langsung merah padam, bahkan sudah menjalar hingga telinganya. Dia tampak sangat malu dan salah tingkah.


Cello yang berada di samping Shanum pun langsung menyenggol lengannya.


"Apa-apaan sih, Yang. Nggak lihat itu Dena memang lagi sakit. Jadi wajar jika jalannya masih seperti itu," kata Cello sambil menatap ke arah Shanum.


"Iya Mas, aku juga tahu jika Dena masih sakit. Tapi berdasarkan pengalamanku, jika jalannya sedikit terbu emmpppphhhhh," belum sempat Shanum menyelesaikan perkataannya, Cello sudah membungkam mulut sang istri. Cello merasa tidak enak saat melihat wajah Dena merah.


"Sudah, sudah. Jangan banyak bicara lagi. Lihat wajah Dena sudah merah seperti itu," gerutu Cello.


Shanum menoleh menatap wajah Dena sambil mengerucutkan bibirnya. Mau tidak mau, dia langsung menutup mulutnya. Rean yang melihat sang kakak sudah tidak bersuara lagi, langsung menuntun sang istri untuk melanjutkan langkahnya. Setelah itu, terlihat obrolan ringan di antara mereka. Sesekali Rean dan Dena menggoda Drew dan Dryn yang sudah mulai aktif.


Mereka memutuskan makan siang di tempat Dena. Mommy Fara memesan makan siang di restoran keluarga. Siang itu, mommy Fara dan Shanum membantu menyiapkan makan siang. Tidak mungkin mereka membiarkan Dena yang melakukannya sendiri.


"Kamu tidak kesulitan menjaga Dena kan, Re?" tanya Cello saat menemani Rean sambil menjaga twins bersama dengan daddy El.


"Enggak kok, Kak. Alhamdulillah kami bisa melakukan aktivitas dengan baik."


Setelah itu, mereka semua makan siang bersama. Sesekali mereka ngobrol tentang banyak hal. Twins yang siang itu juga sudah tidur, membuat mereka bisa sedikit lebih leluasa untuk ngobrol. Menjelang sore, Cello dan keluarganya segera pamit. 


Setelah kepulangan Cello dan keluarganya, Rean segera membantu sang istri untuk membersihkan diri. Luka pasca operasi pada bahu Dena membuatnya belum bisa membersihkan diri sendiri. Mau tidak mau, dia membiarkan sang suami untuk membantunya.


"Mau mandi sekarang?" tanya Rean saat dirinya baru saja memasuki kamar.


"Ehm, i-iya." Dena masih terlihat malu dan salah tingkah di depan Rean.


"Aku akan menyiapkan airnya dulu sebentar," kata Rean sambil berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Rean tampak sudah keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menghampiri sang istri yang sedang duduk di tepi tempat tidur tersebut.


"Ayo, aku bantu membersihkan diri," tawar Rean saat sudah berada di samping Dena.


"Ehm, a-aku akan mencoba melakukannya sendiri," jawab Dena dengan wajah yang sudah mulai memerah. Entah mengapa dia masih merasa malu, padahal Rean sudah menjadi suaminya.


Rean menaikkan alisnya saat memandangi wajah Dena yang masih menunduk. Dia menyadari jika sang istri masih merasa malu saat dirinya membantu untuk membersihkan diri.


"Kenapa? Kamu masih malu?"


Wajah Dena bahkan tambah merah hingga ke kedua telinganya. Dia masih menunduk sambil menganggukkan kepalanya. Rean yang melihat hal itu hanya bisa menghembuskan napas beratnya.


"Baiklah jika itu maumu. Aku akan keluar," kata Rean sambil hendak berbalik. 


Namun, saat dia hendak melangkahkan kaki, tangannya ditahan oleh Dena. Rean menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah sang istri yang masih menunduk tersebut.


"Ja-jangan pergi, Ma-mas."


Perkataan lirih Dena tersebut sontak membuat Rean membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia benar-benar terkejut saat mendengar Dena memanggilnya dengan sebutan Mas.


"Ka-kamu tadi memanggil apa?"


"Ma-mas? A-apa kamu keberatan? A-aku hanya ingin meniru mama kamu ketika memanggil papa Bian."


"Tentu saja aku suka, aku bisa membayangkan betapa merdunya ketika nanti kamu memanggilku dengan sebutan itu saat kita berkeringat bersama," kata Rean dengan wajah berbinar bahagia.


Eh, memang nanti akan berubah merdu bagaimana?