The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 13



Dan, disinilah Dena dan sang papinya berada. Mereka berdua duduk berhadapan di ruang kerja tersebut. Papinya Dena terlihat menghembuskan napas sebelum memulai berbicara kepada sang putri.


"Dengarkan Papi ngomong dulu, May." 


Dena hanya menghembuskan napas berat. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh papinya tersebut.


"Aku akan mendengarkan Papi. Tapi, jika Papi masih membahas rencana perjodohan, aku tidak mau mendengarnya." Dena masih menatap wajah sang papi dengan bibir mengerucut.


Papi Dena hanya bisa menghembuskan napas berat. Dia sudah bisa menebak jika sang putri memang keras kepala. Dena benar-benar mewarisi sifat papinya yang keras kepala.


"May, bisa kamu dengar dulu perkataan Papi?"


Dena hanya bisa diam. Dia masih terlihat mengerucutkan bibirnya saat melihat sang papi. Meskipun begitu, mau tidak mau Dena menganggukkan kepala.


"May, kamu tahu benar bagaimana cerita Papi dan Mami kamu. Kamu juga tahu, Papi harus menunggu lama untuk mendapatkan kamu. May, selama ini, Papi dan Mami mendukung apapun keinginan kamu. Papi dan mami menuruti keinginan kamu untuk kuliah hingga bisa sampai menjadi dosen seperti ini. Tapi, papi dan mami menjadi khawatir dengan kehidupan kamu kelak."


"Selama ini, papi dan mami melihat, kamu terlalu sibuk dan fokus pada pekerjaan. Kamu terlalu asyik dengan dunia kamu sendiri. Bahkan, kamu cenderung menutup diri kamu dari dunia luar. Kamu jarang keluar meskipun hanya untuk sekedar nongkrong dan bersosialisasi dengan teman-teman kamu."


"May, papi dan mami hanya mengkhawatirkan kamu. Papi dan mami tidak ingin kamu terlalu lama sendiri. Jika kami harus menunggu kamu mendapatkan calon suami, pasti akan terlalu lama. Oleh karena itu, papi dan mami merencanakan perjodohan ini."


Dena masih terlihat keberatan dengan apa yang dikatakan sang ayah. "Tapi, Pi. Yang benar saja Papi menjodohkan aku dengan mahasiswaku sendiri. Dia masih terlalu kecil, Pi. Dia bahkan baru lulus SMA."


"Papi tau itu. Tapi, papi yakin jika Rean pasti akan bisa memegang tanggung jawab itu. Jangan dikira usia bisa menentukan tingkat kematangan seseorang. Kamu saja yang sudah hampir dua puluh lima tahun masih kekanak-kanakan begitu." Papi Dena malah mencibir sang putri.


"Kamu bahkan hampir setiap hari masih menempel pada mami kamu. Tidur pun juga masih sering minta ditemeni jika hujan deras. Coba apa namanya itu jika tidak kekanak-kanakan?"


Dena terlihat kesal. Dia menatap wajah sang papi dengan tangan bersedekap di dada.


"May, papi mohon kali ini pertimbangkan baik-baik permintaan papi. Selama ini, papi dan mami tidak pernah meminta sesuatu kepadamu. Kali ini saja, papi mohon kamu bisa menuruti permintaan kami."


Mendengar perkataan sang papi, Dena merasa sedikit tidak enak hati. Benar, memang selama ini kedua orang tuanya tidak pernah meminta sesuatu kepadanya. Dena merasa bingung harus melakukan apa.


"Aku akan memikirkannya dulu, Pi."


Mendengar jawaban sang putri, papi Dena langsung sumringah. Tatapan wajahnya langsung berbinar bahagia.


"Papi senang sekali mendengarnya, May. Papi harap, kamu akan mempertimbangkannya dengan baik. Ingat, May. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Kita sudah mendapatkan kesempatan ini. Rean itu berasal dari keluarga baik-baik. Papi yakin, Rean juga pasti bisa memperlakukan kamu dengan baik, meski usianya masih sangat muda."


Dena hanya bisa menganggukkan kepala. Namun, untuk langsung mengiyakan permintaan sang papi, masih terlalu dini bagi Dena. Dia masih harus mempertimbangkannya terlebih dahulu.


***


Sementara di tempat lain, Rean sudah berpamitan dari rumah Cello. Dia ada janji dengan Dandi untuk bertemu di sebuah kafe. Begitu sampai di depan kafe yang dijanjikan, Rean segera memarkirkan mobilnya. Namun, saat dia hendak memasuki kafe tersebut, terlihat seorang perempuan melambaikan tangan dan memanggil namanya.


"Reaannn!"