The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 42



Kinan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup mengerti maksud ucapan Bu Tika.


Memang beberapa waktu lalu sudah dibahas tentang hal itu. Semua dosen yang akan berpartisipasi dalam acara seminar tersebut, akan berangkat bersama-sama dengan menggunakan bus yang sudah disediakan oleh kampus. Kecuali, untuk yang berniat membawa kendaraan sendiri.


Namun untuk pulangnya, mereka akan memilih untuk pulang dengan keluarganya atau pasangannya masing-masing. Semua dosen akan sepakat untuk langsung menghadiri acara resepsi salah satu rekan mereka, Miss Adhia.


Hal ini juga yang membuat Kinan menyetujui tawaran Adrian. Dia ingin menunjukkan kepada semua rekannya jika Kinan tidak ada apa-apa dengan suami Miss Adhia. Kinan ingin menunjukkan jika dia sudah memiliki laki-laki yang jauh lebih menggoda dari pada Firdan, suami Miss Adhia.


Setelah mendapatkan ucapan terima kasih, Bu Tika segera beranjak dari meja Kinan. Sementara Kinan, dia kembali melanjutkan aktivitasnya.


Sore itu, Kinan mengajar seperti biasa. Saat mengajar, Kinan juga mendapatkan pesan dari Adrian jika nanti dia akan menjemput Kinan.


Kinan sudah berusaha menolak, namun Adrian tetap memaksa karena ingin meminta bantuan dari Kinan. Ada urusan yang cukup mendesak yang butuh bantuan Kinan, begitu tulis Adrian pada pesannya. Mau tidak mau, Kinan akhirnya menyetujui untuk dijemput oleh Adrian.


Menjelang pukul 16.30, mobil Adrian sudah berada di depan gedung B, tempat tadi dia menurunkan Kinan. Setelah mendapat pesan dari Adrian yang memberitahu jika dia sudah sampai, Kinan langsung bergegas keluar dari ruang dosen. Kinan juga berpamitan kepada para dosen yang masih berada di ruangan tersebut.


Setelah melihat mobil Adrian, Kinan langsung berjalan memasuki mobil tersebut. Kinan melihat jika Adrian masih memakai baju yang sama. Itu berarti, Adrian tidak pulang seperti ucapannya tadi. 


"Kita mau kemana?" tanya Kinan sesaat setelah mobil yang dikemudikan Adrian keluar dari area kampus.


Adrian menoleh sekilas sebelum bersuara.


"Kita akan malam dengan Mama dan Papa di restoran P," jawab Adrian dengan santai.


Sontak saja jawaban Adrian membuat Kinan terlonjak kaget.


"Apa? Om tidak sedang bercanda, kan?" Kinan memutar tubuhnya hingga kini menghadap ke arah Adrian.


Adrian langsung mendengus kesal mendengar ucapan Kinan.


Kinan mendadak panik. Dia sama sekali belum melakukan persiapan apapun. Bahkan, bisa dikatakan tidak ada persiapan apa-apa. Wajah Kinan mendadak pucat. Entah mengapa dia merasa akan bertemu dengan calon mertuanya. Eh,


Adrian yang menyadari reaksi Kinan, langsung menoleh dan bersuara.


"Jangan khawatir. Orang tuaku cukup welcome dengan siapa saja. Lagi pula, kamu kan juga sudah pernah bertemu dengan Mama."


Kinan menatap ke arah Adrian. Bibirnya mengerucut dengan tatapan kesal.


"Bukan itu yang saat ini aku pikirkan. Aku kan akan bertemu dengan orang tua Om. Tapi, aku masih memakai pakaian kerja. Jika harus pulang, mana mungkin waktunya cukup? Restoran P kan cukup jauh, Om."


Adrian mengerti maksud ucapan Kinan. Namun, dia terlihat tidak terlalu khawatir.


"Kamu tenang saja. Kita akan membeli baju dulu setelah ini. Aku juga tidak mungkin pulang dulu. Waktunya sangat mepet."


Kinan menoleh ke arah Adrian. "Apa ini akan seperti di cerita-cerita novel dan film-film itu, dimana aku harus mencoba beberapa baju yang sesuai dengan keinginan, Om?"


Adrian mendengus kesal. "Jangan suka halu! Awas sakit kalau jatuh."


"Cckkk. Kalau jatuhnya ke dalam pelukan Om sih, aku akan pikir-pikir dulu," gumam Kinan.


"Apa?"


"Eh,"


\=\=\=


Yang di atas tadi sudah ditandai dengan komen dan like banyak-banyak kan? 🤗