The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.66



Sementara di Surabaya, sudah dua hari semenjak pernikahan Bian dan Revina, papa Reyhan dan mama Fida masih berada di sana. Siang itu, mereka akan segera kembali ke Jakarta. Sementara Bian dan Revina masih akan kembali ke Jakarta setelah kakek Ibrahim, kakek Bian membaik kondisinya.


Bian dan Revina baru saja kembali dari bandara untuk mengantarkan papa Reyhan dan mama Fida yang akan kembali ke Jakarta. Setelahnya, mereka langsung menuju rumah sakit untuk menjemput kakek Ibrahim yang sudah selesai melakukan check up.


Menjelang sore, mereka semua sudah kembali ke rumah kakek Ibrahim. Ya, selama tinggal di Surabaya, Bian memang selalu tinggal di rumah kakek Ibrahim. 


"Kapan kalian akan kembali ke Jakarta?" Tanya kakek beberapa saat setelah duduk di teras belakang bersama dengan Bian. Sementara nenek dan Revina tengah menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Setelah kondisi Kakek membaik." Jawab Bian.


"Segeralah kembali ke Jakarta. Kakek sudah baikan. Kakek sudah tenang jika kamu sudah menikah. Jika kamu terlalu lama di Surabaya, nanti nggak enak dengan atasan kamu."


"Pak Kaero sedang mengunjungi rumah mertuanya, Kek. Tiga hari lagi kembali ke Jakarta."


"Baiklah. Tiga hari lagi, kembalilah ke Jakarta."


"Iya, Kek."


"Le, Kakek mau ngomong sebentar." Kata kakek sambil membenahi posisi duduknya menjadi bersandar di dinding dan menghadap Bian.


"Ada apa, Kek?"


"Le, saat ini status kamu sudah berubah. Kamu sudah jadi seorang suami. Seorang suami itu punya tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Kamu sudah tidak bisa hidup seenaknya seperti dulu. Sudah tidak bisa lembur sampai malam terus. Ada istri dan anak-anak kamu nanti yang menunggu di rumah."


"Kewajiban kamu sebagai seorang suami juga jangan sampai dilupakan. Sekarang sudah ada istri yang harus kamu perhatikan. Ingat, jangan hanya menuntut hak tanpa mau mengerjakan kewajiban. Jika kamu seenaknya seperti itu, sama saja kamu adalah laki-laki gadungan yang hanya mencari enaknya saja. Kakek tidak mengajarimu melakukan hal seperti itu." Kata Kakek Ibrahim.


"Iya, Kek. Bian sudah mengerti untuk masalah itu. Bian hanya bisa berharap, semoga Revina bisa membantu Bian untuk menjalani semua ini."


"Pasti. Revina pasti membantu kamu. Kakek bisa melihat jika Revina sangat menyukaimu. Tinggal bagaimana kamu membuka hati untuknya. Jangan mempermalukan keluarga kita. Kakek sudah meminta Revina baik-baik kepada orang tuanya. Perlakukan dia sebaik mungkin seperti keluarganya memperlakukannya."


"Iya, Kek. Bian berjanji akan berusaha sebaik mungkin." Kata Bian.


Belum sempat kakek menyahuti perkataan Bian, terdengar suara ponsel Bian. Bian segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut begitu mengetahui siapa yang meneleponnya.


"Hallo, pak Kaero."


"Hallo, Bian. Kamu sudah di rumah?" Tanya Kaero di seberang sana.


"Bagaimana keadaan kakek kamu?"


"Alhamdulillah sudah membaik, Pak. Kakek juga sudah bisa berjalan-jalan sendiri tanpa memakai kursi roda."


"Syukurlah. Ehm, jika kakek kamu sudah lebih baik, bisakah kamu dan istri kamu datang ke Malang besok?"


"Eh, Malang? Ada pekerjaan di sana?" Tanya Bian. Seingatnya, Bian tidak merasa jika ada pekerjaan di Malang.


"Tidak ada. Keyya ingin mengajak Sean liburan, sekaligus memberikan hadiah honeymoon untuk kalian."


"Hhaaah? Ho-honeymoon??" Bian masih terkejut saat mendengar perkataan Kaero. Bagaimana mungkin dia akan pergi honeymoon disaat dirinya saja masih belum yakin dengan perasaannya.


"Iya. Ada dua villa disana, nanti satu untuk kami, saru untuk kalian. Kita masih punya waktu beberapa hari sebelum kembali bekerja."


Bian hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia tidak enak hati untuk menolak permintaan Kaero. 


"Baiklah, Pak. Nanti saya akan coba tanyakan kepada istri saya apakah dia mau liburan ke Malang."


"Maauuuuu!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Nah kan, kan, kan itu.