
"Jadi ini yang bernama Nak Dena?"
"Eh?"
Dena dan Kinan langsung berbalik ke arah sumber suara. Mereka cukup terkejut saat melihat Rama dan dua orang perempuan beda usia di sampingnya.
"Pak Rama?" Dena menatap Rama dan kedua wanita tersebut bergantian.
"Iya. Kebetulan kita bertemu di sini. Kenalkan, ini Mama dan adik saya," ucap Rama memperkenalkan kedua wanita yang berada di sampingnya tersebut.
Dena sempat terkejut. Namun untuk kesopanan, dia segera mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan ibu dan adik Rama tersebut sambil berusaha tersenyum. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kinan.
"Waahh, tidak menyangka jika kita bisa bertemu disini, ya. Padahal, kapan hari itu waktu kami ke Jakarta, kami sempat mampir ke apartemen kamu loh, tapi kita tidak sempat bertemu," ucap Bu Anisa, ibunya Rama, sambil tersenyum lebar ke arah Dena.
Belum sempat Dena menanggapi perkataan ibunya Rama, Firda, adik Rama sudah menyelanya.
"Waahhh ternyata Kak Dena aslinya jauh lebih cantik ya, Kak. Jauh banget sama di foto. Benar-benar mirip artis nih. Tinggi banget. Kak Dena model, ya?" Cecar Firda kepada Dena.
Dena yang masih terkejut pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia bingung harus menjawab apa.
"Ehm, kalian mau kemana? Bisa kami antar sekalian," tawar Rama.
Kali ini, Dena dan Kinan saling pandang. Kemudian, keduanya kompak menggelengkan kepala. Tentu saja mereka tidak akan mau pergi bersama dengan Rama dan juga keluarganya. Akan sangat tidak nyaman jika mereka melakukannya.
Ketika Rama hendak protes, Kinan buru-buru menarik lengan Dena sambil berpamitan. "Pak Rama, Ibu, dan Adik, kami permisi dulu, ya. Kasihan sopir taksinya sudah menunggu lama." Kinan benar-benar menarik lengan Dena dan berjalan tergesa-gesa menuju taksi mereka terparkir.
Dena dan Kinan berjalan sangat cepat. Bahkan, mereka nyaris berlari karena khawatir jika Rama nekad mengejar mereka. Tak berapa lama kemudian, Dena dan Kinan sudah sampai di taksi yang menunggu mereka.
"Huft, kenapa aku jadi ikutan parnoan begini sih, Den?" gerutu Kinan. "Kamu, sih benar-benar nggak peka. Sudah jelaskan sekarang jika pak Rama menyukaimu? Bahkan, sampai mengajak ibu dan adiknya segala."
"Cckkk, aku kan nggak tahu, Kin. Mana paham aku jika dia ternyata punya niatan terselubung seperti itu."
Kinan mencebikkan bibir sambil menatap wajah Dena sekilas. "Mulai sekarang, kamu harus mengambil sikap, Den. Jika kamu suka sama pak Rama, kamu bisa terima apapun kebaikannya yang dilakukan untuk kamu. Tapi, jika kamu tidak menyukainya, segera tegaskan perasaanmu dan jangan memberikan harapan kepadanya. Ingat, Den, pak Rama itu pernah punya masa lalu. Jangan sampai kamu jadi orang selanjutnya yang mematahkan hatinya," ucap Kinan panjang lebar.
Dena mencebikkan bibirnya. "Cckkk, mematahkan hatinya bagaimana? Kin, bukan mauku jika ada orang yang suka kepadaku. Bukan mauku juga jika mereka punya perasaan lebih kepadaku. Jujur, aku juga tidak mau seperti ini," Dena tampak frustasi.
Kinan mendesahkan napas ke udara. "Kamu benar, Den. Kita memang tidak bisa mengatur siapa orang yang boleh menyukai atau membenci kita. Yang bisa kita lakukan adalah tetap menjaga diri dengan baik agar tidak sampai mengecewakan orang lain."
Denan mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, kamu benar. Lalu, menurut kamu, apa yang harus aku lakukan?"
Kinan tampak berpikir. Setelah cukup lama, dia segera menoleh ke arah Dena. "Sebaiknya, kamu segera cari pasangan pura-pura agar pak Rama tidak terus berharap kepadamu?"
Dena cukup terkejut setelah mendengar perkataan Kinan. "Eh, kenapa harus pasangan pura-pura jika aku sudah punya yang resmi?"
"Eh?"