The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 98



Malam itu, Rean dan Dena makan malam bersama. Rean benar-benar menyiapkan makan malam itu dengan baik. Sebuah private dinner yang membuat Dena tercekat karena tidak menyangka jika sang suami akan melakukan hal seperti itu.


Bahkan, entah darimana Rean juga memberikannya buket bunga mawar merah yang sangat indah. Dena benar-benar merasa sangat bahagia. Dia merasa sangat dihargai oleh suaminya tersebut.


Dena tidak menyangka meskipun usia Rean masih sangat muda, tapi dia bisa memperlakukannya dengan sangat baik. Dena benar-benar bersyukur memiliki Rean sebagai suaminya.


Acara makan malam tersebut benar-benar sangat berkesan. Baik Dena dan Rean benar-benar merasakan bahagia. Hingga selesai, Rean dan Dena tak berhenti menyunggingkan senyumannya.


Menjelang pukul sembilan malam, Rean dan Dena langsung bergegas kembali ke kamar mereka. Kedua tangan mereka saling bertaut di sepanjang perjalanan menuju kamar.


"Aku bersih-bersih dulu, Mas." Dena melepaskan tangan Rean dan langsung bergegas menuju kamar mandi.


Rean menganggukkan kepala. Dia menunggu giliran membersihkan diri. Rean mengambil ponselnya dan menghubungi sang mama. Rean lupa belum membalas pesan mama Revina tadi sore. Rean berjalan menuju balkon kamar tersebut.


"Hallo, Ma." Sapa Rean setelah panggilan telepon tersebut terhubung.


"Re, kamu kemana saja?"


"Maaf, Ma. Tadi di jalan. Ini aku sedang menginap di hotel.


Terdengar suara terkesiap dari sang mama di seberang sana. Tampak sekali jika mama Revina terdengar bahagia.


"Kamu mau buka pabrik, Re?" Mama Revina bertanya dengan antusias.


"Hehehe, doakan, Ma."


"Alhamdulillah. Mama akan mendoakan kamu, Sayang. Kalau perlu, kamu di sana saja sampai sebulan. Jangan biarkan istri kamu keluar kamar."


Rean mendengus kesal setelah mendengar ucapan sang mama. "Cckkk, mana ada sebulan di sini, Ma? Mau ngapain juga."


"Ya, produksi, dong."


"Ini kan hanya pembukaan, Ma. Biar sedikit merasa spesial begitu. Untuk produksinya, nanti saja di rumah kan juga bisa."


"Beda, Sayang. Namanya nanti jadi made in hotel."


Hhhh. Rean hanya bisa mendesahkan napas beratnya.


"Ada apa Mama menghubungiku tadi sore?"


"Oh, iya lupa. Mama mau bilang jika hari minggu ada acara satu tahun keponakan kamu. Jika kamu bisa datang, langsung saja ke rumah kakak kamu, ya."


"Iya."


"Jam berapa acaranya?"


"Jam dua siang."


Rean bisa bernapas lega. Dia masih punya waktu untuk bersantai sedikit lebih lama dengan Dena.


"Baiklah, Ma. Nanti aku sampaikan kepada Dena."


"Iya. Ya sudah, Mama tutup dulu. Semangat buat pembukaan pabriknya, Re. Ingat, pelan-pelan dulu. Jangan langsung ngegas. Kasih kesempatan buat istri kamu untuk menikmati awal-awal pembukaan pabrik. Setelah itu, terserah kamu. Hahaha."


Rean benar-benar geram dengan godaan sang mama. Setelah menutup panggilan telepon, dia segera memasuki kamar. Terlihat pintu kamar mandi sudah terbuka. Rean buru-buru memasukinya untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Rean langsung memakai baju tidur yang disiapkan oleh sang istri. Rean segera merebahkan diri di atas tempat tidur dan menunggu Dena selesai. Belum sempat Rean menyalakan ponselnya, terdengar pintu ruang ganti terbuka.


Rean menolehkan kepala ke arah pintu ruang ganti. Terlihat kepala Dena menyembul dari dalamnya. Dia terlihat malu-malu. Hal itu terlihat jelas pada wajahnya yang merah merona.


Belum sempat Rean bertanya, tiba-tiba Dena beranjak keluar dari dalam kamar ganti. Kedua bola mata Rean langsung membulat dengan sempurna saat melihat penampilan Dena di depannya.


Jantung Rean mendadak berjumpalitan dengan mata dan mulut membulat dengan sempurna. Rean bahkan sampai memutar tubuhnya untuk memastikan penglihatannya.


"Ya-yang?" 


Mulut Rean masih membuka menutup seperti mulut ikan yang megap-megap karena kekurangan air. Kedua mata Rean tak berkedip menatap sang istri yang berada tak jauh darinya. Saat itu, Dena memakai baju haram namun halal saat dipakai di depan sang suami.


Rean masih tak berkedip. Kedua matanya menelusuri tubuh sang istri yang hampir tak tertutupi tersebut meskipun dia memakai baju. Namun, yang dipakai Dena sama sekali tidak menutupi apapun di dalamnya. Baju haram namun halal berwarna hitam dengan panjang hanya satu jengkal di bawah perut tersebut benar-benar membuat Rean kegerahan.


Kedua bola mata Rean semakin membulat dengan sempurna saat melihat Dena berjalan pelan-pelan menuju ke arahnya. Tatapan mata Dena benar-benar berhasil menggoda Rean hingga membuat napasnya memburu.


Hampir setiap gerakan Dena tak lepas dari pandangan mata Rean. Bahkan, rasanya Rean seolah tak rela untuk berkedip. Dena sudah mendekat ke tempat tidur di mana Rean berada. Belum sempat Dena bersuara, Rean sudah langsung menarik lengan Dena.


"Maaasss!"


\=\=\=\=


Sabar ya, gantian ngetiknya ini 🙏