The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 22



Rean mendapatkan panggilan telepon sang papa untuk memintanya datang ke kantor. Tanpa berpikir panjang, Rean langsung mengiyakan permintaan sang papa.


"Iya Pa, bisa. Aku akan berangkat sekarang." Jawab Rean.


Tak butuh waktu lama bagi Rean untuk sampai di kantor Als. Dia langsung memarkirkan motornya dan segera beranjak menuju resepsionis. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar sebuah suara memanggilnya.


"Re!"


Seketika Rean menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang laki-laki yang lumayan dikenalnya berjalan ke arah Rean. Senyuman hangat juga tersemat di bibirnya saat berjalan menghampiri Rean.


"Kak Sean? Kapan balik ke Jakarta?" tanya Rean begitu laki-laki tersebut berada di depan Rean.


"Sudah sejak seminggu yang lalu. Mau ketemu om Bian?"


"Iya, Kak."


"Ya sudah, langsung naik saja. Om Bian sudah selesai meeting, kok."


Rean langsung mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia langsung beranjak menuju ruangan sang papa. Begitu sampai di depan pintu ruangan tersebut, Rean langsung mengetuknya. Terdengar suara jawaban dari dalam untuk mempersilahkan Rean masuk.


Ceklek.


Begitu memasuki ruangan, Rean cukup terkejut saat melihat seseorang yang tengah berada di dalamnya.


"Om Hendra?!" Rean benar-benar terkejut saat melihat Om Hendra, ayahnya miss Dena, di ruangan papanya. Dia berjalan mendekat dan meraih tangan dua orang yang berada di sana bergantian.


"Dari kampus Re?" tanya Om Hendra basa-basi.


"Iya. Om Hendra sudah lama disini?" Tanya Rean.


"Baru beberapa menit yang lalu. Kebetulan Om ada di sekitar sini, jadi sekalian Om mampir untuk bertemu dengan papa kamu."


Rean hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dia mendudukkan diri single sofa yang berada tepat di depan sang papa. Kening Rean berkerut saat menatap papa Bian. Dia masih belum mengerti mengapa sang papa memintanya datang ke kantor.


"Ehm, sebenarnya ada apa, Pa? Mengapa aku diminta untuk datang ke kantor?" tanya Rean.


Papa Bian dan Om Hendra saling pandang sekilas sebelum akhirnya papa Bian bersuara.


"Sebenarnya begini, Re. Papa meminta kamu datang ke kantor hari ini karena Om Hendra ingin meminta bantuanmu," jelas pap Bian.


Lagi-lagi kening Rean berkerut. Dia masih belum bisa mencerna apa yang dimaksudkan oleh papanya tersebut.


"Maksudnya bagaimana, Pa? Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Om Hendra?" tanya Rean sambil menoleh menatap wajah Om Hendra.


"Sebenarnya begini, Re. Om ingin meminta bantuan kamu. Ini tentang Mayang," kata Om Hendra memulai pembicaraan.


Seketika kedua bola mata Rean membulat dengan sempurna. Dia terkejut sekaligus bingung dengan maksud perkataan Om Hendra. "Maksudnya bagaimana, Om?" 


"Begini Re, seperti yang kamu ketahui, Mayang itu adalah putri Om satu-satunya. Dia memang sangat peduli sekali dengan pendidikan. Sejak SMP, dia sudah ikut kelas akselerasi. Jadi bisa dilihat di usianya yang baru dua puluh empat tahun ini, Mayang bisa meraih gelar S2nya, bahkan sudah menjadi dosen."


"Selama ini, Mayang hanya fokus pada pendidikan dan karirnya. Om takut jika dia lupa akan kodratnya sebagai seorang wanita," jelas Om Hendra.


"Lupa akan kodratnya sebagai seorang wanita yang bagaimana, Om?" Rean semakin bingung. Dia benar-benar belum mengerti maksud perkataan Om Hendra.


"Selama ini, Mayang sama sekali tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Dia bahkan tidak pernah membawa teman laki-lakinya ke rumah. Om sampai harus meminta kenalan Om untuk memata-matai Mayang dan mencari tahu siapa laki-laki yang tengah dekat dengannya. Namun, semua itu tampak sia-sia. Mayang benar-benar tidak memiliki seseorang yang tengah dekat dengannya," jelas Om Hendra.


"Lalu, apa yang bisa aku bantu, Om?" kali ini Rean bertanya setelah memahami maksud perkataan Om Hendra.


"Ehm, Om sudah berbicara dengan orang tua kamu. Jika kamu tidak keberatan, Om akan menjodohkan kamu dengan Mayang. Bagaimana?" tanya Om Hendra dengan tatapan penuh harapan.


"Iya. Itupun jika kamu mau dan tidak keberatan."


Bagi Rean, tentu saja dia sangat bahagia. Sudah lama di menaruh perasaan kepada dosen favoritnya tersebut. Namun, dia tidak serta merta menyetujui keinginan Om Hendra tersebut. Dia masih memikirkan tanggapan dan juga reaksi miss Dena dengan rencana papinya.


"Sebenarnya, kalau boleh jujur kepada Om Hendra, aku sudah sejak lama menaruh hati kepada putri Om. Namun, aku sadar siapa diriku yang masih menjadi seorang mahasiswa tingkat pertama. Sepertinya, sangat mustahil untuk mendapatkan hati seorang miss Dena," kata Rean dengan wajah putus asanya.


Om Hendra mengernyitkan keningnya. Dia lumayan terkejut saat mendengar pengakuan Rean. Namun, disisi lain dia juga merasa bahagia mendengar ungkapan hati Rean.


"Boleh Om tanya sesuatu?"


Rean menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Jika Om berhasil meyakinkan Mayang untuk menikah denganmu, apa yang akan kamu lakukan?"


Rean langsung tersenyum dan menatap wajah Om Hendra dengan tatapan penuh keyakinannya.


"Aku berjanji akan menjaga miss Dena dengan baik, Om. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga dan membahagiakannya."


"Om bisa pegang janji kamu?" tanya Om Hendra.


"Bisa, Om. Om Hendra bisa memegang janji yang aku katakan."


Tampak raut wajah bahagia muncul pada wajah Om Hendra. Beliau mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Om Hendra menoleh menatap wajah papa Bian.


"Anggap kita sudah besanan," ucap Om Hendra sambil tersenyum.


Papa Bian pun langsung tergelak mendengar perkataan Om Hendra. Setelah itu, pembicaraan ringan mereka lakukan. Om Hendra berjanji akan membicarakannya dengan miss Dena.


***


Malam itu, Om Hendra sengaja mengunjungi apartemen sang putri. Dia memang tidak memberitahukan kedatangannya terlebih dahulu. Om Hendra langsung mampir setelah dari kantor Papa Bian.


Seperti biasa, Om Hendra langsung memencet kode nomor apartemen miss Dena. Beliau sudah sangat hafal kode nomor tersebut. Miss Dena yang sedang berada di dapur pun menoleh ke arah pintu.


"Lho, Pi? Kenapa tidak bilang mau datang?" miss Dena tergopoh-gopoh menghampiri sang papi. Dia segera mengambil bungkusan martabak yang dibawa papinya tersebut.


"Memangnya kenapa? Mau mampir ke rumah putri Papi sendiri, masa iya harus ngomong dulu."


"Bukan begitu, Pi. Aku kan bisa pesankan makan malam. Papi pastikan belum makan."


"Memang belum."


"Tuh, kan. Aku pesan makanan dulu."


Om Hendra mengangguk mengiyakan. Dia segera masuk ke dalam kamar depan yang biasa digunakannya dengan sang istri jika menginap di apartemen putrinya tersebut. Setelah mengganti baju, om Hendra segera keluar kamar dan berjalan menuju balkon. Beliau ingin menggantung jaketnya yang kebasahan karena percikan air hujan saat berjalan tadi.


Begitu membuka pintu menuju balkon, hal pertama yang om Hendra lihat adalah celana Rean dan juga 'kurungan' yang tergantung di jemuran. Sontak saja om Hendra menoleh ke arah dapur dan bersuara.


"Kamu sudah berani memasukkan laki-laki ke apartemen kamu, May?"


"Eh?"


\=\=\=


Nah lho, apakah ini jalan Mayang menerima rencana perjodohannya? 🤭