
Cello dan Shanum langsung berdiri tegak dan saling menjauhkan tubuh. Mereka terlihat kikuk dan salah tingkah saat menyadari jika saat itu mereka tidak hanya sendiri. Ada bi Yam yang juga sedang berada di dapur.
Menyadari hal itu, wajah Shanum langsung memerah dan terasa sangat panas. Hal yang sama juga dirasakan oleh Cello. Dia hanya bisa tersenyum nyengir sambil menggaruk kepalanya hingga membuat rambutnya berantakan.
Setelah beberapa saat larut dalam kecanggungan, Cello segera berdehem dan menatap wajah sang istri lekat-lekat.
"Aku keluar sebentar, ya. Nggak akan lama, kok. Nggak enak jika tidak datang. Aku sudah janji soalnya." Kata Cello sambil menatap wajah sang istri lembut.
Shanum pun mengangguk mengiyakan. Tidak mungkin jika dia melarang sang suami untuk pergi bersosialisasi dengan teman-temannya. Dia juga tidak mungkin membatasi ruang gerak Cello.
"Iya. Jangan lama-lama, Mas."
Setelahnya, Cello memberikan senyuman sekilas dan mengecup kening Shanum sebelum beranjak. Namun, saat hendak pergi, Shanun menarik tangan Cello hingga membuatnya berhenti.
"Ada apa?" Tanya Cello dengan kening berkerut.
Shanum berdiri di depan Cello dan berjinjit untuk merapikan rambut sang suami yang berantakan.
"Sebentar, berantakan ini rambutnya." Kata Shanun sambil menyisir rambut Cello dengan jarinya. "Sudah rapi. Dah, berangkat sana. Cepat pulang," lanjut Shanum yang dijawab dengan anggukan oleh Cello.
Cello segera melangkahkan kakinya menuju garasi dan langsung berangkat. Dia ingin cepat sampai di tempat Aldi dan segera pulang. Otaknya sudah dipenuhi dengan adegan peluncuran dan penjelajahan roket.
Sementara di rumah, Shanum segera beranjak ke kamar setelah bi Yam memintanya beristirahat. Shanum langsung mengangguk mengiyakan. Dia juga merasa malu jika berlama-lama di sana.
Shanum segera menyiapkan kamar tidurnya dengan mengganti sprei dan menyalakan aromaterapi. Dia juga segera menyetel AC kamar tidur tersebut dengan suhu yang sedikit lebih dingin. Setelahnya, Shanum segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia juga memakai sejumlah perawatan tubuh seperti yang diajarkan oleh mommy Fara.
Setelah cukup lama mematut diri di depan cermin, Shanum langsung berdiri dan tersenyum. Dia merasa sudah cukup dengan apa yang dilakukannya. Setelahnya, Shanum segera beranjak menuju walk in closet dan mulai memilih pakaian yang akan dipakainya nanti.
"Haduuhhh, semua pakaian ini mommy yang menyiapkan. Aku pakai yang mana?" gumam Shanum sambil memilih pakaian 'horor' yang ada pada deretan tengah lemari baju tersebut.
Shanum tidak menghitung berapa jumlahnya. Namun, dia yakin jika jumlah pakaian tersebut adalah puluhan. Entah mengapa mommy Fara membelikannya pakaian 'horor' sebanyak itu.
"Hhhhh, aku bingung memilih baju sebanyak ini," kata Shanum sambil menghembuskan napas beratnya. Dia masih melirik dua baju yang kini dipegangnya pada tangan kanan dan kirinya.
"Kenapa harus pakai baju model begini, sih. Biasanya, jika di novel-novel itu pakai baju 'horor' begini, ujung-ujungnya dirusak atau di robek. Apa harus begitu ya?" Monolog Shanum pada dirinya sendiri.
"Tapi, menurutku ribet sekali jika harus pakai baju begini. Bukanya nanti malah mengganggu tangan jika mau bekerja?" Lagi-lagi Shanum masih berbicara sendiri di depan lemari baju sambil menatap baju-baju 'horor' tersebut.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Shanum mengembalikan baju-baju tersebut pada tempatnya semula. Dia memutuskan untuk tidak memakai salah satu dari mereka.
"Aku tidak akan memakai salah satunya. Lebih baik aku langsung polosan saja. Dengan begitu, mas Cello tidak akan kesulitan." Kata Shanum sambil menyambar salah satu jubah tidurnya. Ya, dia memutuskan hanya memakai jubah tidur tanpa memakai apa-apa lagi di dalamnya.
Shanum mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan kepada sang suami.
Jangan lama-lama, Mas. Aku sudah polosan ini. Takut kedinginan di rumah. Mau diangetin secepatnya. ~ tulis Shanum pada pesan singkatnya kepada sang suami.
•••
Nyicil dulu ya