
Bian benar-benar berusaha untuk bisa fokus ketika melakukan aktivitasnya. Bagaimana tidak, dia yang berada di belakang tubuh Revina masih bisa melihat pabrik nutrisi Revina yang menyembul di bagian depan tubuhnya. Seketika keringat dingin Bian langsung keluar. Apalagi kedua tangan Bian juga tidak bisa diajak bekerja sama. Kedua tangannya kesulitan membuka salep anti alergi tersebut karena bergetar.
"Mas, kenapa lama sekali. Ayo cepetan, aku kedinginan ini." Kata Revina. Ya, bagian atas tubuh Revina memang sudah polosan saat ini. Mengingat bentolan di punggungnya sudah sangat merata.
"I-iya. Ini masih dibuka."
Beberapa saat kemudian, Bian sudah berhasil membuka salep anti iritasi tersebut. Dia masih terlihat bingung bagaimana cara mengoleskan salep tersebut.
"I-ini pakai apa mengoleskan salepnya?" Tanya Bian. Pasalnya, dia terlihat ragu saat hendak mengoleskan salep tersebut menggunakan ujung jarinya .
"Pakai tangan langsung saja Mas, biar cepat merata. Nggak usah pakai yang lainnya." Jawab Revina.
Bia segera mengangguk mengiyakan. Dia berusaha memberanikan diri untuk mengambil salep tersebut dengan ujung jarinya. Selanjutnya, Bian mengoleskannya pada punggung Revina yang terlihat bentol-bentol dan merah.
"Yang rata, Mas. Kalau bisa, seluruh punggung terkena salep itu." Kata Revina mengingatkan Bian.
"Iya."
Sekitar lima menit kemudian, Bian sudah selesai mengoleskan salep tersebut ke seluruh bagian punggung Revina. Dia berusaha untuk tidak melewatkan sedikitpun bagian yang merah-merah tersebut.
"Sudah selesai." Kata Bian sambil menutup salep tersebut.
"Benarkah?"
"Iya." Bian masih tidak berani menatap Revina yang saat ini masih memunggunginya.
"Nggak mau bantu pakaikan salep untuk bagian depan nih?" Goda Revina.
Seketika Bian tersedak salivanya sendiri. Otaknya sudah mulai menjelajah video-video yang ada di link-link online. Bukannya Bian tidak mengerti hal-hal semacam itu, namun dia tidak tertarik untuk menontonnya. Bian hanya pernah menontonnya beberapa kali dulu saat dia masih kuliah. Itu pun dia terpaksa menontonnya karena ajakan teman-temannya.
Bia yang langsung tersadar pun segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Menurut Bian, Revina bisa melakukannya sendiri.
"Ti-tidak. Kamu bisa melakukannya sendiri untuk bagian depan. Aku akan membersihkan diri dulu." Kata Bian. Dia buru-buru meletakkan salep anti iritasi tersebut di atas tempat tidur dan beranjak pergi ke kamar mandi sebelum tubuh Revina benar-benar berbalik.
Revina yang melirik sang suami sudah berlalu ke kamar mandi hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kali ini kamu selamat, Mas. Jangan harap kamu akan selamat jika aku sudah sembuh nanti." Gumam Revina sambil meraih salep anti iritasi tersebut dan mulai mengoleskannya pada bagian bawah leher dan perutnya.
Setelah selesai, Revina segera memakai kembali pakaiannya dan beranjak menuju tempat tidur. Sebelumnya, dia sudah mengganti sprei dan beserta bantal dan gulingnya tadi. Dia tidak mau jika tidurnya akan terganggu nanti.
Revina merebahkan diri sambil menunggu Bian selesai. Mungkin karena terlalu lelah, Revina justru langsung tertidur. Dia bahkan tidak menyadari saat Bian sudah selesai dari kamar mandi dan merebahkan diri di sampingnya. Tak butuh waktu yang lama bagi Bian untuk menyusul Revina ke alam mimpi.
Menjelang sore, keluarga daddy Kenzo sudah tiba di rumah. Mereka langsung beristirahat setelah membersihkan diri. El juga melakukan hal yang sama. Dia bahkan sudah menghempaskan diri di atas sofa bed yang ada di dalam kamarnya.
Fara yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia segera beranjak membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, Fara sudah terlihat keluar dengan memakai baju rumahan dengan rambut yang dibungkus handuk. Dia berjalan mendekati El untuk membangunkannya.
"Mas, bangun. Mandi dulu, gih." Kata Fara sambil menggoyang-goyangkan bahu El.
El mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum membukanya. Dia menoleh untuk menatap wajah sang istri yang berada di sampingnya.
"Sudah selesai?" Tanya El.
"Sudah, sekarang gantian mandi gih." Kata Fara sambil meraih seperangkat alat sholatnya. El yang melihat hal itu langsung bangkit dari tidurnya dan segera duduk.
"Kamu kok sudah sholat, Yang. Sudah selesai kebanjirannya?" Tanya El penasaran.
"Iya, sudah kok, Mas." Jawab Fara sambil tersenyum.
"Yes, yes, yes. Nanti malam lemburan buka pabrik." Jawab El sambil mengedip-ngedipkan matanya seperti lampu sein sepeda motor.
"Lhah, memang nggak capek apa, Mas?" Tanya Fara. Pasalnya dia langsung merona ketika mendengar perkataan El.
"Mana ada capek untuk urusan begituan. Justru itu untuk ngecharge tenaga." 🙄
"Eh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Haduuuhh, nggak yang tua, nggak yang muda kenapa semua jadi embuuhhh.🤦♀️
Jangan lupa klik vote, like dan komen untuk othor ya. Terima kasih.