
Kinan langsung bergegas pulang setelah membaca pesan dari Adrian. Bahkan, tadi Kinan sempat menghubungi Adrian namun ponselnya sudah keburu tidak aktif.
Menjelang petang, Kinan sudah sampai di rumah. Dia segera membersihkan diri dan langsung membuka laptop. Kinan bermaksud mencari beberapa berita online terkini. Dia khawatir jika ada yang membawa-bawa namanya.
Cukup lama Kinan duduk di depan laptop. Dia sudah menemukan beberapa artikel berita tentang Adrian. Namun, Kinan sama sekali tidak menemukan namanya tertulis disana. Ehm, atau mungkin belum.
Setelah mematikan laptop, Kinan mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Adrian. Namun, lagi-lagi ponselnya tidak bisa dihubungi. Hingga beberapa kali Kinan mencoba, masih tidak ada jawaban dari Adrian.
Malam itu, Kinan memutuskan untuk membuat makan malam untuknya. Dia juga mulai memasukkan beberapa nilai dari hasil ujian para mahasiswanya. Kinan memang sudah terbiasa langsung mengirimkan hasil nilai ulangan para mahasiswanya begitu selesai ujian. Dia tidak ingin pekerjaannya menumpuk di kemudian hari.
Begitu selesai, Kinan segera membereskan makan malamnya dan seluruh perlengkapan kampusnya. Esok hari, masih menyisakan satu mata kuliah di jam pertama. Kinan harus bergegas beristirahat agar esok hari dia bisa kembali fresh.
Keesokan hari, Kinan sudah bersiap ke kampus. Dia tidak memasak pagi itu. Kinan hanya membeli bubur ayam dari tukang bubur yang setiap pagi selalu berkeliling kompleks perumahannya.
Kinan sampai di kampus seperti biasa. Dia segera bergegas menuju ruang dosen dan langsung mengambil perlengkapan untuk menjaga ujian para mahasiswanya. Hari ini, Kinan hanya mendapat jadwal satu mata kuliah.
Tak lama, hanya sekitar enam puluh menit, ujian pada jam pertama tersebut sudah selesai. Kinan segera beranjak menuju ke ruang dosen. Disana, Kinan bertemu dengan Dena yang ada jadwal mata kuliah pada jam ketiga.
"Eh, bumil sudah datang," sapa Kinan saat berjalan memasuki biliknya.
Ruang dosen tersebut memang disekat-sekat dengan pembatas hampir setinggi bahu orang dewasa. Setiap bagian, akan ditempati oleh enam dosen yang mengajar pada bidang yang hampir sama.
"Tadi sekalian Rean mau ke rumah orang tuanya. Jadi, sekalian mengantar ke kampus," jawab Dena.
Dena memutar tubuhnya sedikit untuk menatap wajah Kinan. Ada beberapa pertanyaan yang sangat ingin ditanyakannya. Kinan yang menyadari hal itu, langsung berbalik.
"Eh, ada apa?" tanya Kinan.
"Kamu belum menceritakan acara resepsi di Bandung kemarin, Kin. Dan, aku juga mau tanya tentang kebenaran berita ini. Ini beneran atau hanya settingan?" tanya Dena sambil menyodorkan ponselnya.
Kinan menoleh dan melihat sebuah artikel tentang berita tentang Adrian kemarin dari portal berita online. Kinan hanya bisa mendesahkan napas berat sebelum menjawab pertanyaan Dena.
"Aku akan menceritakan semuanya. Tapi, setelah kamu selesai dengan jadwal mata kuliah kamu, Den. Nggak mungkin kan kita ngobrol disini?"
Dena langsung mengangguk setuju. Dia juga tidak mau jika Kinan terpaksa harus menghentikan ceritanya yang belum selesai karena terpotong dengan jadwal kuliahnya yang sudah harus dimulai.
Belum sempat Dena menjawab secara langsung ucapan Kinan, terdengar sebuah suara dari salah satu dosen senior. Beliau melongokkan kepala pada di atas pembatas sambil menatap Kinan.
"Miss Kinan, apa benar Anda akan segera menikah dengan Pak Adrian Hanggara. Beritanya sudah heboh di group kampus, lho. Apalagi, berita itu juga muncul di beberapa portal berita online. Jadi, kapan akan diresmikan pernikahannya?"
"Eh, ehmm, i-itu…,"
Hayo, Kinan mau jawab apa nih?
Scroll ya.