
Setelah obrolan absurd antara Kinan dan Adrian, Kinan segera meminta Adrian untuk memakai celana yang sudah disiapkannya. Setelah itu, dia akan membantu mengobati luka Adrian.
Tak butuh waktu lama, Kinan sudah selesai mengobati luka Adrian serta memasang perban. Tak terlalu terlihat, karena Kinan cukup rapi memasang perban tersebut.
Begitu selesai, Kinan dan Adrian segera keluar dari kamar. Saat itu, bertepatan dengan keluarga besar Kinan yang hendak berpamitan karena hari sudah menjelang petang. Selain itu, orang tua Adrian pun juga harus segera kembali ke Jakarta malam itu juga.
"Sayang, kamu baik-baik sama Iyan, ya. Jika dia nakal, segera hubungi Mama biar Mama sunat dua kali nanti," ucap Mama Asdrian sambil memeluk menantu barunya tersebut.
Kinan langsung terkekeh geli mendengar ucapan sang mertua.
"Jangan dong, Ma. Kami kan belum ngapa-ngapain." Kinan masih berseloroh menanggapi ucapan mertuanya tersebut.
Menantu dan mertua tersebut tampak kompak melontarkan ucapan absurd. Kinan dan mama Adrian tidak menyadari jika Adrian sudah memberengut kesal tak jauh dari mereka.
Setelah berpamitan, kini hanya tinggal Kinan, Adrian dan mama Kinan. Masih ada tetangga yang juga membantu untuk membereskan peralatan di dalam rumah. Kinan dan sang mama dengan cekatan membantu membereskan peralatan yang masih berantakan.
Lalu, apa yang dilakukan oleh Adrian? Dia memindahkan meja dan kursi yang berada di ruang tamu rumah Kinan. Bahkan, Adrian tidak canggung membawa alat pel untuk mengepel lantai yang lengket.
Menjelang makan malam, Kinan dan yang lainnya segera bersiap untuk makan malam. Kebetulan, makanan dari catering tadi siang masih lumayan banyak. Sebagian, mama Kinan membagikan makanan tersebut kepada tetangga dekat.
Kinan dan sang mama segera menghangatkan makanan tersebut untuk makan malam. Malam itu, pertama kali bagi Adrian makan malam dengan status sebagai seorang suami.
Dengan telaten, Kinan mengambilkan makanan untuk Adrian. Sebenarnya, Adrian cukup canggung saat diperlakukan seperti itu oleh Kinan di depan mertuanya. Namun, setelah melihat tidak ada kecanggungan yang diperlihatkan oleh Kinan, Adrian pun hanya bisa menurut.
Obrolan ringan saat makan malam pun terjadi. Mama Kinan juga memberikan wejangan-wejangan pernikahan kepada Kinan dan Adrian. Tak lupa juga, mama Kinan menitipkan putri semata wayangnya kepada Adrian.
Mama Kinan tersenyum bahagia. Dia yakin jika Adrian adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Mama Kinan bisa merasa lega saat menitipkan putrinya kepada Adrian.
Setelah makan malam selesai, Adrian pindah ke ruang tengah untuk menonton televisi. Tapi lebih tepatnya, televisi yang menonton Adrian. Karena, Adrian sudah sibuk dengan ponselnya. Dia yang baru tadi sore mendapatkan kembali ponselnya setelah disita selama dua hari oleh orang tuanya, harus memeriksa beberapa pekerjaan.
Beruntung asisten Adrian bisa diandalkan. Dia yang menghandle pekerjaan Adrian selama menjalani masa-masa pingitan.
Kinan yang sudah selesai membereskan meja makan dengan sang mama, segera berjalan menghampiri Adrian di ruang tengah, sementara sang mama sudah lebih dulu beristirahat.
"Mas, sudah malam. Istirahat dulu," ucap Kinan sambil menarik gorden ruang tamu dan mematikan lampu depan.
"Mama mana?" Adrian menoleh ke arah Kinan.
"Sudah istirahat. Sekarang, kamu juga istirahat dulu. Seharian acara tadi pasti capek." Kinan duduk sebentar di sofa depan Adrian.
"Aku nggak terlalu capek, kok." Adrian mengalihkan pandangan kembali pada ponselnya.
"Yakin nggak capek? Bagaimana kalau belah-belahan sekarang?"
Glek.
\=\=\=
Belah opo sih, Kin. 🤧