
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Re?" tanya papa Bian sambil mulai menikmati ronde pesanannya.
Rean menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan-pelan sebelum menjawab pertanyaan sang papa.
"Aku ingin tahu apa alasan sebenarnya papa dan papi Hendra menjodohkan aku dengan Dena, Pa. Selain itu, mengapa pernikahan kami juga seolah-olah dipercepat?" Rean menatap ke arah sang papa.
Papa Bian menoleh ke arah Rean sekilas. Keningnya berkerut dengan tatapan mata masih menatap wajah sang putra.
"Apa kamu keberatan dengan itu semua, Re? Apa kamu menyesal telah menikah dengan Dena?"
Rean menggelengkan kepala. "Tidak, Pa. Aku sama sekali keberatan. Aku juga tidak menyesal sudah menikah dengan Dena. Bahkan, aku sangat bersyukur bisa menikah dengan dia."
"Lalu, kenapa kamu menanyakan hal itu?"
Rean mendesahkan napas ke udara sebelum menjawab pertanyaan sang papa. "Aku hanya ingin tahu alasan papa dan papi Hendra menjodohkan kami, Pa. Menurutku, papi Hendra bisa saja menjodohkan Dena dengan laki-laki lain yang jauh lebih matang usianya dari pada aku. Papi pasti juga punya banyak koneksi untuk bisa memilihkan calon yang sesuai untuk Dena, kan?"
Papa Bian menghentikan sementara aktivitasnya memakan ronde. Dia menggeser tubuhnya hingga kini bisa berhadapan dengan sang putra.
"Sepertinya, sudah waktunya kamu tahu alasan Papa menjodohkan kamu dengan Dena," ucap papa Bian menjeda perkataannya.
Rean sudah memasang telinga dengan baik, dan sudah bersiap untuk mendengarkan cerita sang papa.
"Aku siap mendengarkan, Pa." Rean berkata dengan mantab.
"Baiklah. Papa akan menceritakan sesuatu kepadamu. Dulu, setelah mama dan papa menikah, kami memang tinggal di Jakarta. Papa masih bekerja di perusahaan pak Kaero di Jakarta saat itu. Hingga setelah mama kamu melahirkan kakakmu, kami masih tinggal di Jakarta selama kurang lebih satu tahun."
"Setelah itu, Papa dipindah tugas ke Surabaya. Papa diminta untuk mengelola cabang perusahaan yang ada di sana. Hingga kamu lahir sekitar satu tahun setelah kepindahan kami ke Surabaya."
"Saat itu, mama kamu memang berhenti bekerja karena harus mengurusi dua orang bayi yang jaraknya berdekatan. Kami juga harus mengurus segala sesuatunya disana sendiri, karena jauh dari rumah orang tua."
"Beberapa tahun pun berlalu, hingga kakak kamu sudah lulus SD. Kakek dan nenek kamu meminta Shanum untuk melanjutkan sekolah ke Jakarta untuk menemani mereka. Dengan berat hati, kami mengantarkan kakak kamu ke Jakarta."
Rean cukup terkejut saat mendengar perkataan sang papa. Mamanya Hamil? Kenapa Rean tidak tahu? Dan, dimana adiknya sekarang? Batin Rean
"Mama hamil, Pa?" Rean benar-benar terkejut mendengar berita tersebut.
"Iya. Awalnya, papa dan mama sangat bahagia sekali setelah mendengar berita kehamilan mama kamu. Namun, kenyataan tidak seperti yang kami harapkan."
"Saat itu, kamu sedang liburan kenaikan kelas enam di Jakarta sekaligus berlebaran di sana. Kamu pasti ingat, mengapa waktu itu papa dan mama tidak ikut berlebaran di Jakarta? Itu karena mama kamu mengalami keguguran, Re."
Lagi-lagi Rean terkejut mendengar berita tersebut. Dia benar-benar tidak menyangka jika mamanya pernah mengalami keguguran. Selama ini, papa dan mamanya memang tidak mengatakan hal itu kepadanya.
"Ke-keguguran, Pa? Apa yang terjadi?"
Papa Bian menghirup napas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan cerita.
"Mama kamu mengalami kecelakaan waktu itu. Ada seseorang berusaha mencelakai mama kamu waktu kami baru saja keluar dari restoran. Ada orang yang dengan sengaja menjalankan sepeda motornya di atas trotoar untuk menabrak mama kamu."
"Kejadian itu benar-benar sangat cepat. Papa yang sudah berada di seberang jalan untuk mengambil mobil tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga ada seseorang yang menarik lengan mama kamu dengan cepat, hingga membuat mereka jatuh bersamaan dan menabrak bagian belakang delman yang sedang melintas."
"Keduanya jatuh berguling di atas aspal saat itu. Beruntung tidak ada kendaraan dari arah belakang. Namun, peristiwa lain yang tak terduga terjadi. Karena kecelakaan itu, ada satu orang lagi mengalami keguguran selain mama kamu. Dia adalah mamanya Dena, yang telah menolong mama kamu."
"Ha?"
\=\=\=
Jangan lupa mampir di cerita othor yang lainnya ya, "Mendadak Istri 2"
Untuk informasi cerita terbaru, bisa kepoin igeh othor @keenandra_winda. Terima kasih.