
Vanya memarkirkan motornya pada tempat parkir kampusnya. Setelah itu, dia segera berjalan menuju ruang kelasnya. Saat sedang menaiki tangga, terdengar suara ponselnya yang berada di dalam tas. Vanya segera mengambil dan memeriksa id penelepon. Dia segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut setelah memastikan id penelepon.
"Hallo, Mas?" Sapa Vanya begitu panggilan teleponnya terhubung. Ya, Kenzo lah yang meneleponnya saat itu.
"Sudah sampai kampus?" Tanya Kenzo.
"Iya, ini baru sampai. Masih jalan mau ke kelas." Jawab Vanya.
"Baiklah, nanti kabari aku jika sudah sampai di rumah." Kata Kenzo.
"Iya Mas, nanti aku akan memberi kabar." Jawab Vanya.
Setelahnya, panggilan telepon tersebut terputus. Vanya segera melangkahkan kembali kakinya menuju ruang kelasnya. Sesampainya disana, dia sudah disambut oleh Fida dengan hebohnya. Beberapa teman Vanya pun menoleh saat melihat kehebohan Fida.
Vanya langsung membungkam bibir Fida saat dirinya hendak bertanya tentang honeymoonnya ke Bali. Dia sudah tidak sabar mendengar cerita dari sang sahabat.
"Hhhssstttt. Jangan bicara macam-macam di kampus. Aku tidak mau ada yang dengar." Bisik Vanya pada telinga Fida.
Fida pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Vanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari Nabila, sang sahabat.
"Nabila kemana?" Tanya Vanya.
"Oh, dia ke Bogor hari ini. Mengantar mamanya ke rumah omanya. Omanya sakit." Jawab Fida.
Vanya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, tidak banyak percakapan yang mereka lakukan karena perkuliahan sudah dimulai. Vanya dan Fida kembali fokus pada materi kuliah yang diberikan oleh dosen mereka. Hingga dua mata kuliah selesai mereka ikuti hari itu.
Menjelang makan siang, Vanya dan Fida berjalan menuju tempat parkir motor mereka. Vanya dan Fida memutuskan untuk pergi ke mall siang itu.
Dan, disinilah mereka berada. Mereka makan siang sambil ngobrol tentang banyak hal. Lebih tepatnya, Fida sedang melakukan interogasi kepada Vanya.
"Beneran kalian belum melakukan 'itu'?" Tanya Fida dengan hebohnya.
Vanya mendengus kesal mendengar pertanyaan sang sahabat. Entah mengapa dia harus meladeni pertanyaan sahabatnya itu. Dia merasa sangat malu. Vanya hanya bisa mengangguk mengiyakan sebagai jawabannya.
"Yaahhh, kenapa bulanan kamu harus datang disaat seperti ini sih. Sayang honeymoon ke Bali jika hanya cuma pindah tidur doang." Gerutu Fida. Entah mengapa dia ikut merasa kesal.
"Yyeeee, memang itu mauku? Orang aku juga nggak ngundang kok." Kilah Vanya.
Fida mendengus kesal dengan jawaban sang sahabat. Dia kembali memasukkan sesuap makan siangnya ke dalam mulut dan mengunyahnya. Setelah beberapa saat kemudian, Fida kembali bertanya.
"Kapan selesai bulanan kamu?" Tanya Fida.
"Tadi pagi." Jawab Vanya dengan entengnya.
Wajah Fida terlihat berbinar saat mendengar jawaban sang sahabat. Dia mempunyai ide yang menurutnya bagus untuk Vanya.
"Bagus. Aku ada ide. Setelah ini, kita akan mulai mencari semua keperluan kamu untuk unboxing nanti malam." Kata Fida dengan penuh semangat.
Uhuk, uhuk, uhuk.
Vanya langsung tersedak saat mendengar perkataan Fida. Dia tidak habis pikir sahabatnya ini sudah memikirkan ke arah sana. Dia sendiri saja masih bingung memikirkannya.
"Apaan sih, unboxing gimana coba." Dengus Vanya kesal. Pasalnya Fida mengucapkan kata itu dengan sedikit keras. Dua orang pelanggan yang berada di samping mereka pun langsung menoleh saat mendengar celetukan Fida.
"Tentu saja unboxing melakukan 'itu'." Kata Fida dengan penuh semangat.
Vanya menoleh menatap wajah sang sahabat.
"Kenapa harus nanti malam?" Tanya Vanya cengo.
Fida mendengus kesal mendengar pertanyaan Vanya.
"Tentu saja harus nanti malam. Seharusnya sih sudah sejak malam pertama setelah acara pernikahanmu." Gerutu Fida.
Vanya mencebikkan bibirnya setelah mendengar jawaban sang sahabat.
"Tapi aku kan masih bingung harus melakukan apa. Jadi pemanasan dulu deh." Jawab Vanya.
Fida semakin gregetan setelah mendengar jawaban Vanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Vanya.
Vida menghembuskan nafas beratnya sebelum menjawab.
"Dengar Van, aku memang belum menikah dan belum berpengalaman tentang hal ini. Tapi, aku tahu masalah ini dari kakakku yang menikah setahun yang lalu. Laki-laki, apalagi jika sudah menikah pasti menginginkan untuk melakukan 'itu' dengan pasangan halalnya."
"Kata kak Dini, laki-laki itu akan uring-uringan, mudah marah dan sulit fokus dalam bekerja jika belum menuntaskan keinginannya untuk melakukan 'itu'. Apalagi jika sudah menikah. Mungkin, hal itu akan berbeda pada laki-laki yang belum menikah."
"Jadi menurutku, suamimu juga pasti menginginkan hal yang sama saat mengetahui haidmu sudah selesai." Kata Fida panjang lebar.
Vanya pun membenarkan apa yang dikatakan sang sahabat. Memang benar dengan semua itu. Bahkan, Kenzo terlihat sangat kesal saat dia tidak bisa melanjutkan keinginannya menjamah tubuh Vanya lebih jauh lagi.
"Lalu, apa yang harus aku persiapkan?" Tanya Vanya kepada Fida.
Fida kembali tersenyum lebar. Vanya menjadi ngeri saat melihat senyuman sang sahabat.
"Jangan tersenyum seperti itu. Aku ngeri melihatnya." Gerutu Vanya.
Fida langsung mendengus kesal setelah mendengar perkataan Vanya. Dia mulai menghabiskan makan siangnya itu.
Setelah selesai menyantap makan siang, Fida langsung menarik lengan Vanya menuju ke sebuah gerai khusus pakaian wanita. Di sana sudah ada berbagai macam jenis pakaian tidur yang bisa membuat malu hanya dengan melihatnya.
"Kenapa kesini? Aku sudah punya banyak baju tidur." Kilah Vanya. Sebenarnya, dia merasa malu berada di sana.
"Apa kamu yakin, baju tidurmu seperti yang ada di sini?" Tanya Fida sambil menunjuk beberapa jenis baju tidur yang benar-benar seperti kaca transparan. Vanya menelan salivanya dengan keras saat membayangkan dirinya memakai pakaian seperti itu. Mengapa harus pakai pakaian seperti ini jika memakainya pun sama artinya dengan polosan, batin Vanya.
"Tidak. Tidak seterbuka ini sih." Jawab Vanya. Ya, memang pakaian yang disiapkan mama mertuanya tidak seberani dan senakal pakain-pakaian yang ada di gerai itu.
"Bagus. Aku akan membantu kamu memilihkannya." Kata Fida dengan semangat empat limanya.
Setelahnya, Fida langsung berjalan menyusuri gerai itu dan mengambilkan beberapa baju tidur yang sangat kurang bahan. Beberapa kali Vanya memprotes tindakan Fida, namun tetap saja tidak digubrisnya. Mau tidak mau, Vanya terpaksa membayar semua barang yang sudah dipilihkan oleh Fida.
Setelah membayar semua barang belanjaannya dan berjalan keluar gerai baju tersebut, Fida kembali menyeret Vanya untuk pergi ke salon kecantikan. Dia memaksa Vanya untuk melakukan perawatan.
Saat Vanya hendak menolak dan bertanya untuk apa melakukan itu semua, Fida langsung menjawab agar suaminya langsung tergelincir saat menyusuri tubuh Vanya. Memang main perosotan bisa tergelincir, batin Vanya.
Aduuuhh, ibu. Otak anakmu sudah diracuni oleh Fida, otakku sudah tidak polos lagi. Batin Vanya.
Namun, mau tidak mau Vanya mengikuti semua perintah Fida. Dia juga ingin memberikan yang terbaik untuk sang suami. Vanya berharap, dengan melakukan ini, ikatan hati diantara mereka akan cepat terwujud dan semakin kuat.
Saat sedang melakukan perawatan, ponsel Vanya bergetar. Ada sebuah pesan singkat dari sang suami yang memberitahukan bahwa dia akan makan malam diluar bersama kliennya sebelum kepulangan sang klien ke Australia. Vanya segera membalas pesan itu.
Iya Mas, tidak apa-apa. Silahkan makan malam bersama klien. Nanti di rumah, giliran aku yang akan memakanmu.~Balas Vanya.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa dukungannya ya, like, komen dan vote. Beri tips dan hadiah juga boleh kok 🤗🤗
*nggak apa-apa kan ngarep 🤭
Sambil menunggu up, silahkan mampir ke ceritaku satunya "Mendadak Istri"
Untuk informasi up dan karya terbaru, silahkan follow ig othor di @keenandra_winda
Thank you 🤗