The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 113



Shanum sudah dipindahkan di ruang perawatan. Cello, mama Revina, papa Bian dan juga Rean sudah berada di sana sejak tadi. Mereka menemani Shanum yang masih terlihat belum begitu pulih.


"Pa, Ma, apa tidak sebaiknya kalian pulang dulu. Ini sudah hampir jam satu dini hari. Kasihan juga Rean nanti," kata Cello sambil menoleh menatap Rean yang tertidur diatas sofa bed yang berada di dalam kamar Shanum.


"Apa kamu yakin akan menemani Shanum sendiri disini?" tanya mama Revina.


"Yakin, Ma. Besok pagi mommy juga sudah datang. Mama dan papa istirahat saja dulu di rumah. Besok baru ke sini lagi."


Mama Revina terlihat menoleh ke arah papa Bian. Papa Bian mengangguk untuk membalas tatapan mama Revina.


"Ya sudah kalau begitu. Papa dan mama pulang dulu. Besok pagi, kami akan ke sini lagi. Kamu juga istirahat Cell. Jangan terlalu capek. Setelah ini, tenaga kamu pasti banyak terkuras nanti," ucap mama Revina.


"Iya, Ma."


"Ingat, jika ada apa-apa, segera telepon," kali ini papa Bian ikut bersuara.


"Pasti, Pa."


"Ya sudah. Kami pulang dulu. Segera istirahat Cell. Ayo Mas, kita pulang dulu."


Cello segera mengangguk mengiyakan. Setelahnya, papa Bian segera membangunkan Rean dan mengajaknya pulang. Cello mengantarkan kedua mertuanya hingga keluar dari ruang perawatan.


Cello segera membersihkan wajah dan juga kakinya. Dia menatap penampilannya saat itu yang terlihat sangat mengerikan. 


"Untung tadi masih belum lepas segitiga bermuda. Pasti sangat mengerikan sekali jika sampai lupa tidak memakainya," gerutu Cello sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Setelah selesai dari kamar mandi, Cello kembali ke dalam kamar perawatan. Dihampirinya Shanum yang terlihat sedang terlelap. Wajah lelahnya sangat jelas terlihat. Cello benar-benar bersyukur memiliki Shanum dan kedua orang jagoannya.


Cello memberikan beberapa kecupan pada kening sang istri sambil menggumamkan terima kasih. Dia segera beranjak ke arah sofa bed yang ada di dekat jendela. Cello tidak ingin mengganggu istirahat Shanum.


Tak butuh waktu lama bagi Cello untuk terlelap. Tubuhnya yang sudah sangat lelah benar-benar menyambut baik saat direbahkan. Cello benar-benar tertidur nyenyak malam itu.


Keesokan paginya, Shanum yang sudah bangun saat mendengar suara adzan subuh berkumandang. Dia mengedarkan pandangan dan mendapati sang suami tengah terlelap tak jauh darinya. Shanum segera memanggil Cello untuk membangunkannya.


Seketika Cello terbangun dan mendapati Shanun sudah bersandar di atas brankarnya. Cello buru-buru menghampiri sang istri.


"Sayang, kamu sudah bangun?" 


Cello segera beranjak dan mengambilkan air minum untuk Shanum. Setelah cukup, Cello segera mengembalikan gelas minum tersebut pada tempatnya.


"Mas, sudah Subuh. Kamu sholat dulu gih. Di dalam tas ada sarung bersih dan kaos. Coba cari yang bagian depan," kata Shanum sambil menunjukkan tasnya.


Cello mengernyitkan keningnya bingung. Bagaimana bisa Shanum menyiapkan sarung dan juga kaos untuknya, batin Celli. Namun, Cello segera beranjak dan mencari di bagian yang ditunjukkan oleh sang istri.


"Kok kamu bisa menyiapkan semua ini, Yang?" tanya Cello. Pasalnya, dia cukup terkejut saat melihat ada pakaiannya di dalam tas tersebut.


"Mommy yang bilang, Mas. Mommy bilang jika aku harus memasukkan minimal satu stel baju kamu. Mommy khawatir jika nanti aku melahirkan, kamu akan panik dan tidak akan memperhatikan penampilan lagi. Eh, ternyata memang benar. Hehehe."


Cello mencebikkan bibirnya. Namun, meskipun begitu dia cukup senang. Cello segera membersihkan diri dan segera menunaikan kewajibannya. Setelah itu, Cello baru membantu Shanum untuk membersihkan diri.


Pagi itu menjelang pukul delapan pagi, mommy Fara dan juga daddy El tiba di rumah sakit. Mereka benar-benar ingin segera menemui menantu dan para cucunya. Mama Fara langsung memeluk Shanum begitu mereka masuk ruang perawatan.


"Sayang, terima kasih. Terima kasih sudah melahirkan cucu-cucu mommy yang luar biasa. Terima kasih sudah berjuang dengan sangat baik. Terima kasih," kata mommy Fara sambil menciumi pipi Shanum.


Shanum yang mendapat perlakuan manis dari sang mertua merasa sangat terharu. Dia benar-benar merasa seperti anak kandung, bukan lagi sebagai menantu.


"Sama-sama, Mom. Terima kasih juga sudah menganggapku seperti anak mommy sendiri. Terima kasih sudah menerimaku dengan baik." Jawab Shanum dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu ini ngomong apa sih, Sayang. Tentu saja kamu diterima dengan baik di keluarga ini,"


Belum sempat Shanum menjawab perkataan mommy Fara, terdengar suara seorang perawat sambil mendorong box bayi yang berisi putra kembar Cello. Seketika wajah mommy Fara langsung berbinar bahagia.


"Masya Allah, cucu-cucuku, cakep sekali. Cell, ternyata kamu bisa juga buat yang imut-imut seperti ini," kata mommy Fara bahkan tak berkedip menatap wajah-wajah bayi mungil tersebut.


Cello langsung mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang mommy.


"Apa-apaan itu! Jelas saja aku bisa melakukannya. Bibit unggul ini," jawab Cello.


"Tentu saja, bibit daddy memang unggul, Cell." Kata daddy El tak mau kalah. Dia juga sudah ikut menatap wajah para cucunya.


"Ccckkk, unggul apanya. Jika unggul, aku sudah memiliki banyak anak, Mas. Lha ini mentok satu doang padahal setiap hari nyetak." Gerutu mommy Fara.


"Masa sih, Yang? Kok aku lupa ya kapan nyetaknya?" 🙄