The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 1



Langkah kaki seorang remaja laki-laki terlihat terburu-buru berjalan di sepanjang koridor lantai dua sekolahnya. Dia terlihat terburu-buru untuk segera pulang. Bajunya yang berantakan dan resleting tas punggungnya yang bahkan belum tertutup dengan sempurna pun tak dihiraukannya. Dia langsung berjalan tergesa-gesa menuju tempat parkir yang ada di sebelah selatan sekolahnya. Namun, langkah kaki remaja laki-laki tersebut terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya dari arah kantor guru.


“Rean!”


Seketika langkah kaki remaja laki-laki tersebut terhenti. Ya, dia adalah Rean Aksa Atmaja. Remaja laki-laki yang baru saja dinyatakan lulus dari sekolahnya tersebut menoleh ke arah sumber suara. Keningnya berkerut saat melihat guru olahraganya berjalan ke arahnya.


“Eh, Pak Burhan. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Rean sambil merapikan sedikit bajunya yang cukup berantakan.


“Ada acara apa di sekolah, Re? Bukankah kelas kamu baru besok ada jadwal mengambil ijazah?” tanya Pak Burhan sambil mengamati gerak-gerik Rean.


“Hehehe, iya Pak. Kelas saya memang masih besok jadwalnya.”


“Lalu, kenapa kamu hari ini datang ke sekolah?”


Rean terlihat gelagapan. Mana mungkin dia akan mengatakan jika dia baru saja meletakkan surat cinta untuk gadis yang selama ini dikaguminya. Rean berusaha memutar otaknya dengan keras untuk mencari alasan yang tepat.


Dan, ting. Rean berhasil menemukan alasan yang sekiranya masuk akal.


“Ehm, sebenarnya begini, Pak. Saya kan sudah lulus dari sekolah ini, dan rencananya saya akan pindah mengikuti orang tua saya ke Jakarta. Saya juga berniat untuk melanjutkan kuliah di sana. Jadi, maksud saya tadi datang ke sekolah sebenarnya untuk meminjam trophy kejuaraan basket, Pak. Saya berniat untuk membuat duplikatnya yang sama persis seperti ini. Ya, hitung-hitung buat cerita anak cucu jika dulu ayah dan kakeknya pernah menjuarai kejuaraan basket tingkat provinsi. Hehehe,” kata Rean sambil menunjukkan trophy yang berada di dalam tasnya.


Untuk alasan yang dibuat Rean memang benar adanya. Selain untuk memberikan surat cinta untuk gadis yang selama ini dikaguminya, Rean juga berniat untuk meminjam trophy tersebut.


Kening Pak Burhan yang semula berkerut, kini sudah berubah. Wajah curiganya kini juga sudah terlihat melunak. Pak Burhan memang mengenal baik Rean dan keluarganya. Bukan karena kebetulan Rean dan Pak Burhan terlihat sangat dekat, hal itu terjadi karena kebetulan pak Burhan adalah sahabat papa Bian, papanya Rean.


“Oh begitu. Lalu, kenapa kamu tadi terlihat mengendap-ngendap seperti itu? Walaupun kamu mau meminjam trophy itu, kamu bisa meminjamnya baik-baik. Pihak sekolah pasti juga akan mengizinkannya, Re.”


“Iya, Pak. Saya minta maaf. Saya hanya takut jika tidak diberi izin.”


“Ya sudah. Kamu bisa meminjam trophy tersebut. Tapi ingat, trophy itu harus sudah kembali ke sekolah sebelum hari Senin depan,” kata Pak Burhan yang segera diangguki oleh Rean.


Setelahnya, Rean segera pamit untuk pulang. Dia bernafas lega saat Pak Burhan tidak menanyakannya macam-macam. Sepulangnya dari sekolah, Rean langsung melajukan sepeda motornya ke sebuah tempat pembuatan dan pemesanan trophy. Ya, Rean ingin membuat duplikat trophy yang sama persis dengan trophy tersebut. Dia ingin mempunyai kenangan tentang sekolahnya tersebut sebelum pindah ke Jakarta.


Menjelang sore, Rean sudah sampai di rumah. Terlihat sang mama sedang berada di ruang tengah rumah mereka sambil merapikan beberapa kopernya.


“Jadi dikirim kapan, Ma?” tanya Rean sambil berjalan mendekati sang mama.


“Kamu itu datang-datang bukannya mengucapkan salam malah main nyelonong saja,” gerutu mama Revina. Ya, wanita tersebut adalah Revina, mama Rean.


“Hehehe, maaf Ma. Assalamualaikum,” ulang Rean.


“Waalaikumsalam. Gitu kan bagus, Re.”


“Iya,iya, Ma. Maaf tadi lupa.”


“Lalu, kapan ini mau dikirimnya, Ma?” tanya Rean penasaran. Pasalnya, sang mama sudah sejak beberapa hari yang lalu memintanya untuk membereskan barang-barangnya yang akan dibawa ke Jakarta. Namun, hingga hari ini barang-barang tersebut sama sekali belum dikirim ke Jakarta.


“Besok lusa.”


Rean hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dia segera beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Malam harinya, Rean dan kedua orang tuanya terlihat sedang mengobrol setelah makan malam. Mereka banyak membicarakan tentang kuliah yang akan diambil oleh Rean. Obrolan mereka terhenti saat ponsel Rean berdering. Layar ponsel tersebut menunjukkan nama Andika, sang sahabat, membuat Rean segera mengangkatnya.


“Sudah tidur, Re?”


“Belum nih. Ada apa, Mas? Kamu dimana? Kenapa berisik sekali?” tanya Rean penasaran. Pasalnya, Rean tidak begitu jelas mendengar apa yang disampaikan oleh sahabat sekaligus orang kepercayaannya tersebut. 


Ya, dia adalah Yudhi, kakak kelas Rean yang berbeda usia dua tahun dengannya. Rean mempercayakan pengelolaan distronya kepada Yudhi. Selain karena sebagai sahabat, Rean juga berusaha untuk membantu perekonomian keluarga Yudhi. Jadi, Rean meminta Yudhi untuk menjaga salah satu distronya di Surabaya.


"Aku di depan distro. Tadi, ada seorang anak perempuan datang mencari kamu."


"Eh, siapa?" tanya Rean bingung.


"Entahlah, saat aku tanya siapa namanya, dia malah diam tidak menjawab. Setelah mengetahui kamu tidak ada, dia langsung pergi."


Kening Rean berkerut. Dia berusaha memikirkan siapa kemungkinan orang yang mencarinya tersebut.


"Apa ada pesan?"


"Ah iya, ada. Dia menitipkan sebuah kado dengan bungkus berwarna biru muda. Sekarang ada di laci meja kamu di dalam distro."


Seketika jantung Rean berdegup dengan cepat. Rean sudah bisa menebak siapa yang mencarinya tersebut.


Ternyata seperti ini rasanya ditolak cewek, batin Rean. Setelahnya, Rean hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat mendengar jawaban Yudhi.


"Oke. Besok aku lihat deh. Thanks, ya."


"Oke. Aku pulang dulu."


"Hati-hati pulangnya."


"Oke."


\=\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤗