
Malam itu, Kenzo dan Vanya makan malam bersama di rumah. Sesekali mereka saling bercerita tentang hal-hal yang mereka lakukan. Saat sedang menikmati makan malam, tiba-tiba terdengar suara bel. Kenzo dan Vanya saling menoleh.
"Siapa kira-kira yang datang malam-malam begini Mas?" Tanya Vanya.
Ken menggelengkan kepalanya sambil mengunyah makan malamnya. Dia hendak berdiri untuk membukakan pintu, namun segera di cegah oleh Vanya.
"Biar aku saja Mas. Mas Ken lanjutkan kembali makan malamnya." Kata Vanya sambil mengusap bibirnya agar tidak belepotan makanan. Segera dia beranjak berdiri untuk membukakan pintu.
Ceklek.
Vanya membuka pintu rumahnya. Terlihat ada seorang wanita tengah berdiri di sana dengan membawa beberapa makanan di tangannya yang diyakini Vanya sebagai makan malam untuk Kenzo. Wanita itu mengerutkan keningnya menatap wajah Vanya.
"Anda…" belum selesai Vanya bertanya namun sudah di potong oleh wanita tadi.
"Kamu siapa? Mengapa ada di rumah Kenzo? Kamu asisten rumah tangga baru ya?" Tanya wanita itu sambil mengamati penampilan Vanya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Vanya masih mengerutkan keningnya. Siapa wanita ini. Kenapa dia terlihat sudah sangat dekat dengan mas Kenzo. Batin Vanya.
"Saya…" lagi-lagi perkataan Vanya kembali di potong oleh wanita tadi.
"Minggir! Jangan menghalangi jalanku. Kamu sebagai asisten rumah tangga harusnya segera mempersilahkan tamu majikanmu untuk segera masuk, bukan dibiarkan berdiri di depan pintu seperti ini." Kata wanita itu sambil menerobos masuk ke dalam rumah.
Vanya yang melihat hal itu langsung melongo. Apa seperti itu kebiasaan orang-orang di sini. Dan, apa katanya tadi? Asisten rumah tangga? Memang dia pikir siapa dirinya, berani-beraninya mengira sang nyonya rumah sebagai asisten rumah tangga. Lihat saja nanti. Gerutu Vanya saat melihat wanita itu melenggang masuk ke dalam rumahnya. Vanya mengikuti wanita itu hingga ke ruang makan rumahnya.
"Hai Ken, apa kabar?" Sapa wanita itu yang sudah berdiri di depan Kenzo yang tengah menyantap makan malamnya.
Kenzo sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu. Dia melirik ke arah Vanya yang sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah membunuhnya.
Glek glek glek.
Kenzo menelan bulat-bulat makanan yang belum sepenuhnya terkunyah lembut itu. Dia segera meraih air minum yang ada di dekatnya dan segera menenggaknya hingga tandas.
"Hai El. Aku baik." Jawab Kenzo datar. Dia bahkan tidak melihat ke arah wanita itu setelahnya. Kenzo masih melirik ke arah sang istri yang sedang mengawasinya.
"Aku melihat mobil kamu baru masuk garasi, aku pikir kamu akan menginap disini malam ini. Jadi, aku bawakan makan malam ini." Kata wanita itu sambil meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja makan. Dia juga melirik makan malam yang sudah terhidang di meja makan tersebut. Seketika matanya memandang piring yang ada di samping Kenzo dan masih menyisakan sedikit makanan disana.
Vanya yang ditatap seperti itu tidaklah takut. Jangan salah, dia bukan tipe orang yang mudah ditindas. Vanya masih melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap balik wanita itu dengan tatapan datarnya.
Kenzo yang seperti melihat akan ada bencana perang adu tajam lidah dan kuku segera menengahi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan.
"Ah, iya. Aku sudah makan malam. Mau ikut gabung makan malam juga bersama kami El?" Tawar Kenzo bersikap ramah.
Seketika wanita itu menoleh menatap wajah Kenzo. Dia seolah tidak terima saat Kenzo menggunakan kata 'kami' pada perkataannya.
"Kami? Kamu ikut makan malam bersama asisten rumah tangga kamu Ken?" Tanya wanita itu tidak terima.
Seketika Kenzo terkejut mendengar perkataan wanita itu. Bagaimana bisa dia menganggap Vanya sebagai asisten rumah tangganya. Kenzo segera melirik ke arah Vanya yang masih melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya terlihat biasa-biasa saja. Namun, hal itu justru semakin membuat Kenzo khawatir.
"Apa maksud kamu El?" Tanya Kenzo.
"Dia." Tunjuk wanita itu kepada Vanya. "Dia asisten rumah tangga kamu kan?" Tanyanya kemudian.
Kenzo terlihat geram mendengar perkataan wanita itu. Dia hendak menyahuti perkataan wanita itu, namun segera dipotong oleh Vanya.
"Iya, saya adalah asisten rumah tangga plus plus."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf nyicil sedikit dulu ya