
Setelah perdebatan yang dilakukan antara Vanya dan Kenzo terkait masalah panggilan, akhirnya Vanya sepakat dengan panggilan "mas" untuk Kenzo. Vanya juga segera pamit untuk segera masuk ke dalam kamar kosnya. Namun, ketika Vanya hendak membuka pintu mobil, Kenzo menghentikan tangannya. Seketika Vanya menoleh memandang Kenzo dengan wajah kesalnya.
"Ada apa lagi sih, aku kan sudah sepakat mau memanggil Om Mas," ketusnya.
Kenzo benar-benar geram dengan perkataan Vanya. "Ccckkkk, kemarikan ponselmu," kata Kenzo sambil menengadahkan tangannya.
Vanya mengerutkan keningnya ketika melihat tangan Kenzo. "Buat apa?" Tanya Vanya.
Karena tak sabar menunggu, Kenzo segera meraih ponsel Vanya yang sejak tadi di pegangnya. Kenzo segera mengusap layar ponsel tersebut hingga terbuka. Segera di ketiknya sesuatu di ponsel tersebut. Kenzo terlihat melakukan panggilan singkat ke ponselnya. Setelah beberapa saat kemudian, Kenzo mengembalikan ponsel Vanya. Sementara Vanya menerima ponselnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudah, cepat turun, sudah malam," kata Kenzo.
Vanya yang kesal segera membuka pintu mobil dan berlalu begitu saja tanpa berpamitan pada Kenzo. Segera setelah Vanya keluar, Kenzo juga keluar dan berpindah pada kursi penumpang. Reyhan, sang asisten yang tadi membawa mobil mbak Erika segera mengambil alih kemudi.
Sebelum menutup pintu mobil, Kenzo menoleh ke arah Vanya. "Besok, aku jemput untuk makan siang. Ada yang harus kita bicarakan," kata Kenzo. Kenzo yang melihat Vanya hendak memprotes segera menyela, "Tidak ada bantahan," lanjutnya sambil menutup pintu mobil.
Vanya hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar setelah melihat kepergian Kenzo. Dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar kosannya dengan langkah gontai. Seluruh badannya terasa remuk. Vanya merasa sangat lelah sekali. Begitu sampai di dalam kamar kosnya, Vanya segera mengunci pintu dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia benar-benar merasa tidak nyaman karena badannya terasa lengket.
Setelah membersihkan diri, Vanya segera merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ketika matanya sudah hampir terpejam, terdengar suara getaran dari ponselnya. Dengan malas tangan Vanya segera meraih benda tipis tersebut yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Dilihatnya sekilas pesan singkat yang sudah masukn ada ruang chat pribadinya.
Seketika matanya membulat setelah melihat pesan yang baru saja di terimanya.
From : Your hubby
21: 57
Besok aku tunggu di depan kampus jam 1 siang. Ada yang harus kita bicarakan.
21: 59
Aku tidak menerima penolakan
22:04
Cepat tidur!
22:08
Awas, jika kamu mengganti namaku pada ponselmu. Aku pastikan kamu akan menyesal besok.
Vanya membulatkan matanya setelah membaca pesan terakhir dari Kenzo. Seketika dia melempar ponselnya ke atas bantal tanpa repot-repot membalasnya. Dia benar-benar merutuki kesialannya hari itu karena sudah dipertemukan dengan om-om menyebalkan seperti Kenzo. Tak berapa lama kemudian Vanya sudah terlelap ke alam mimpi karena rasa lelahnya.
Sementara di tempat Kenzo, dia masih memandangi ponselnya. Kenzo menunggu balasan dari Vanya. Namun, hingga hampir satu jam berlalu, Vanya tidak juga memberikan balasan untuk semua pesan singkatnya. Kenzo benar-benar geram. Dia merasa sangat kesal karena tidak dianggap oleh Vanya.
"Cccckkk. Apa yang dilakukan anak kecil itu hingga dia tidak membalas pesanku," gerutu Kenzo sambil berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. "Bukannya dia sudah membaca pesanku," lanjutnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Kenzo meletakkan ponselnya dengan kasar pada nakas yang ada di samping tempat tidurnya karena tidak adanya balasan dari Vanya. Dia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelahnya.
Keesokan paginya, Vanya segera berangkat ke rumah mbak Erika untuk mengembalikan kendaraannya. Vanya tidak menceritakan perihal Kenzo dan keluarganya. Vanya hanya menceritakan dia harus membantu mempersiapkan kue untuk ulangtahun pengusaha itu. Mbak Erika hanya manggut-manggut mengerti. Dia merasa paham karena yang memesan kue itu adalah orang yang sangat penting. Jadi sudah sewajarnya jika Vanya membantu mereka. Apalagi, mereka sedikit terlambat mengantarkan pesanannya.
Beberapa saat kemudian, Vanya segera meminta ijin untuk ke kampus karena hari ini dia ada jadwal kerja kelompok dengan teman-temannya. Vanya memesan ojek online karena motornya ada di eSTe, dan akan sangat memakan waktu jika dia harus mengambilnya ke sana dulu.
Vanya dan beberapa temannya mengerjakan tugas kelompok hingga lupa waktu. Mereka asik berdebat dan saling melemparkan candaan. Hingga terdengar suara dering ponsel Vanya. Vanya segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Seketika matanya membulat dan mulutnya terbuka.
Nabila, sahabat Vanya yang berada di dekatnya melongokkan kepalanya untuk melihat siapa yang menghubungi Vanya. Seketika Nabila membulatkan matanya saat mengetahui id penelepon.
"Hubby??"
.
.
.
.
.
.