The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 87



"Pagi, Rean."


"Lho, Miss Kinan?" Rean cukup terkejut saat melihat salah satu dosennya tersebut berada di depan pintu apartemen pagi-pagi.


Dena yang mendengar perkataan Rean dari dalam pun, langsung berteriak. "Siapa, Mas? Kinan?"


Rean yang tersadar pun langsung tergagap. Dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sambil mengayunkan pintu lebar-lebar.


"Iya, Yang." Rean sedikit berteriak. Setelah itu, Rean mempersilahkan Kinan masuk. "Silahkan masuk, Miss."


Kinan yang menyadari panggilan Rean dan Dena hanya senyum-senyum sendiri. Meskipun begitu, dia tetap berjalan memasuki apartemen tersebut. Kinan yang memang sudah sering datang berkunjung, langsung menuju ruang makan apartemen tersebut.


Senyuman pada bibir Kinan tak luntur ketika dia mendudukkan diri di kursi yang berada di ruang makan tersebut yang langsung menghadap Dena.


Menyadari apa yang dipikirkan Kinan, Dena semakin salah tingkah. Dia mengambil kruknya dan turun dari kursi dengan bantuan Rean. Dena berjalan mendekat ke arah Kinan. Sementara Rean, dia kembali ke dapur untuk melanjutkan memasaknya.


"Kenapa senyum-senyum begitu ih?" Dena mendudukkan diri di depan Kinan.


"Nggak ada apa-apa. Aku tapi sempat kaget saat 'mas' Rean yang buka pintu. Aku pikir, tadi 'Sayang' Dena yang bukain pintu," Kinan langsung terkekeh karena ucapannya sendiri.


Perkataan Kinan tersebut, sontak saja membuat Dena dan Rean yang mendengarnya menjadi salah tingkah. Rupanya, Dena dan Rean tadi tidak sadar dengan nama panggilan yang mereka ucapkan.


Kinan lagi-lagi tergelak melihat tongkah pasangan suami istri tersebut. Hingga tawa Kinan baru berhenti saat dia mendapatkan tatapan tajam dari Dena.


"Hehehe, maaf, Den. Habisnya aku kaget sekali tadi. Ternyata, kamu bisa juga ya memanggil Rean dengan panggilan, 'mas'?" goda Kinan.


Wajah Dena masih memerah karena malu. Namun, dia bisa cepat mengubah ekspresi wajahnya agar tidak semakin digoda oleh Kinan.


"Cckkk, apaan, sih? Memang seharusnya begitu, kan? Kami sudah menikah. Sudah seharusnya aku memanggil suamiku dengan panggilan seperti itu." Dena sengaja mengucapkannya dengan keras agar Rean dapat mendengarnya.


Dena ingin agar Rean tahu jika dia sudah menganggap Rean suami. Dena ingin agar Rean tahu jika pandangannya terhadap suaminya itu sudah berubah, tidak lagi seperti anak kecil.


Kinan yang melihat ekspresi kesal Dena hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Dia bersyukur hati Dena sudah mulai terbuka.


"Oh, ini aku bawakan sambal goreng ati dari mama. Kebetulan, aku semalam menginap di rumah mama. Jadi, sekalian aku mampir kesini sebelum pulang." Kinan mendorong sebuah bungkusan yang tadi dibawanya ke arah Dena. 


Wajah Dena langsung berbinar bahagia. "Waahh, terima kasih. Sampaikan terima kasihku buat Tante Ratna, Kin. Kamu tau aja aku suka sambal goreng buatan mama kamu," Dena tampak berbinar bahagia.


"Iya. Maka dari itu, aku sempetin tadi kesini, siapa tau kalian bangun kesiangan dan tidak sempat memasak. Hehehe,"


Seketika wajah Dena langsung memerah saat mengetahui arah pembicaraan Kinan. Rean yang saat itu sedang membawakan minum pun juga terlihat salah tingkah. Rupanya, dia ikut mendengar perkataan Kinan.


"Memangnya kenapa kami harus bangun kesiangan, Miss?" tanya Rean dengan polosnya. Rean polos? Tidaaakkk 😱😱


"Ya, mana aku tau, Re? Aku kan belum menikah. Mana tahu jadwal kuliah malam kalian."


"Maksudnya apa itu kuliah malam?" Rean semakin penasaran.


"Kalau di kampus, Dena pasti akan mengajarimu materi perkuliahan. Tapi kalau di rumah, aku yakin kamu yang dapat giliran mengajari Dena kuliah malam. Hahahaha," Kinan langsung tergelak karena perkataannya sendiri.


Dena merasa sangat malu mendengar apa yang dikatakan Kinan. Namun, tidak demikian dengan Rean. Dia justru semakin bersemangat menanggapi perkataan Kinan.


"Eh, siapa bilang aku yang ngajarin, Miss? Justru tanpa diajarin pun, istriku ini sudah sangat ahli lho. Dia bahkan bisa langsung mengeluarkan suara aaaa…..aaauuwwh." Belum sempat Rean menyelesaikan perkataannya, dia langsung mengusap-usap pinggangnya karena mendapat cubitan dari Dena.


"Maasss! Jangan ngomong sembarangan." Dena mendelik tajam ke arah Rean dengan wajah semerah paprika.


Rean masih meringis kesakitan. "Mana ada aku ngomong sembarangan, Yang? Coba kapan aku bilang 'sembarangan' tadi?"


"Itu tadi ngomongnya aneh-aneh."


"Aku juga nggak ngomong 'aneh-aneh' Yang. Coba kamu tanya miss Kinan, apa dia dengar aku ngomong 'sembarangan' dan ngomong 'aneh-aneh' tadi?"


"Embuuh, Mas. Embuuhhh."


Hahaha. Rean dan Kinan langsung tergelak.