
Malam itu, beruntung bagi Cello dan Shanum bertemu dengan Fajar dan juga Zee beserta para istri mereka. Cello dan Shanum menjadi tidak merasa sendirian. Sepanjang acara, Cello merasa ada yang terus menerus mengamati mereka. Namun, saat Cello celingukan mencari tanda-tanda tersebut, dia sama sekali tidak menemukan keanehan apapun.
Hingga acara selesai, Cello masih tidak menemukan apapun. Setelah berpamitan kepada Fajar dan juga Zee, Cello segera mengajak Shanum pulang. Dia merasa tidak nyaman berada lama-lama di tempat tersebut.
"Ada apa sih, Mas? Aku lihat dari tadi kamu gelisah terus," tanya Shanum saat mobil yang dikemudikan Cello sudah membelah jalanan menuju rumah.
"Entahlah. Aku hanya merasa ada yang mengamati kita sejak tadi. Hanya saja, aku tidak menemukan tanda-tanda keanehan."
"Eh, maksudnya ada yang sedang ngawasin kita gitu?"
"Aku nggak tahu pastinya. Hanya saja, aku merasa ada yang lihatin kita terus."
Kening Shanum berkerut setelah mendenfar perkataan Cello. Namun, dia tidak mau mendebat hal itu. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah dengan selamat. Shanum dan Cello segera membersihkan diri sebelum beristirahat. Tubuh mereka yang sudah sangat lelah langsung membuat keduanya terlelap tidur tanpa ada aktivitas pemanasan atau pendinginan. Eh, aktivitas intinya mana thor? Nanti, belum saatnya. Yah, padahal sudah nungguin. 😪
Keesokan harinya, seperti biasa Cello dan Shanum berangkat ke kampus dengan kendaraan yang berbeda. Mereka sama-sama ada jadwal kuliah pagi hari itu. Setelah sarapan, Cello dan Shanum langsung berangkat menuju kampus.
Cello dan Shanum memang berkuliah di kampus yang sama. Hanya saja, merwka beda fakultas. Cello dan Shanum berpisah menuju fakultas masing-masing.
Cello memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Dia segera beranjak menuju ruang kelasnya yang berada di lantai dua. Dari kejauhan, dia melihat Aldi yang juga baru saja keluar dari mobilnya. Cello menunggu Aldi berjalan ke arahnya.
"Begadang lagi, lo?" tanya Cello saat Aldi sudah berada di dekatnya.
"Gue nggak bisa tidur. Semalam kakak gue nginep di rumah," jawab Aldi sambil menguap.
"Memangnya apa hubungannya lo nggak bisa tidur dengan kakak lo yang nginep di rumah?" tanya Cello yang penasaran.
"Kakak gue kan baru nikah. Bisa aja lo bayangin apa yang pengantin baru lakukan, hah?" gerutu Aldi sambil berbelok ke arah tangga menuju lantai dua.
"Ccckkk, gue kan juga masih bisa dibilang pengantin baru. Tapi nggak segitunya juga kali."
"Elo kan memang nggak normal." Jawab Aldi sambil ngeloyor masuk ke dalam kelas. Ya, mereka memang sudah sampai di depan kelas.
Sementara di fakultas Shanum, dia langsung berjalan menuju ruang kelasnya yang memang kebetulan juga ada di lantai dua. Dari kejauhan, Shanum sudah bisa melihat keberadaan Nanda, sang sahabat yang juga baru sampai tersebut. Shanum hendak mengejar Nanda, namun tiba-tiba ada seseorang yang mensejajarkan langkah kakinya dengan Shanum.
"Pagi. Ada kuliah pagi hari ini?" Sapa sebuah suara yang tiba-tiba sudah ada di samping Shanum.
"Eh, kak Dio. Selamat pagi juga. Iya Kak, aku ada kuliah jam pertama." Jawab Shanum sambil sedikit mengulas senyumannya.
Sebenarnya, Shanum enggan bertemu atau berinteraksi dengan Dio. Menurutnya, Dio terlalu agresif. Shanum yidak suka dengan hal itu. Hanya saja, Shanum tidak bisa berbuat apa-apa selain membalas sapaan dari kakak tingkatnya tersebut.
"Ehm, ada waktu untuk makan siang bareng nanti?" Tanya Dio sambil masih mengiringi langkah kaki Shanum menuju ruang kelasnya.
"Eh, makan siang?"
"Iya."
"Ehm, maaf Kak. Aku ada acara nanti. Lagi pula, aku juga masih ada kuliah kok. Eh, ini kuliahku sudah mau mulai. Aku permisi dulu ya, Kak." Kata Shanum sambil melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Dio.
Tanpa disadari, ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi mereka dari kejauhan.
•••
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like dan komen untuk othor ya. Terima kasih.