
El dan Fara terlihat berjalan menuju kamar mereka. Saat menunggu pintu lift terbuka, terlihat sepasang suami istri yang cukup El kenal sedang berjalan ke arahnya juga.
"Selamat malam pak Kaero." Sapa El.
"Selamat malam. Mau kembali ke kamar?" Tanya Kaero.
"Iya, Pak. Anda juga mau kembali?"
"Tidak. Kami tidak menginap disini. Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepada Bian sebagai hadiah pernikahan. Tadi lupa masih di mobil dan tidak terbawa." Jawab Kaero sambil menunjukkan dua buah paper bag yang dibawanya.
El dan Fara yang melihat paper bag tersebut langsung paham. Bagaimana tidak, mereka lumayan hafal paper bag tersebut berasal dari butik yang cukup terkenal di Jakarta. Dan mereka bisa menebak apa isi di dalam paper bag tersebut.
"Eheemmmm. Ehmm pasti itu untuk Revina." Kata El sambil menahan kekehannya.
"Benar sekali. Aku hanya berharap Revina bisa membantu Bian untuk lebih berani. Jika dia tidak mengambil inisiatif, bisa dipastikan Bian tidak akan berani untuk memulai. Ngalamat Revina akan nganggur." Jawab Kaero sambil kembali terkekeh geli.
Keyya, istri Kaero yang berada di sampingnya langsung mencubit pinggang sang suami.
"Auuwww, sakit Yang. Suka banget cubit pinggangku, sih." Gerutu Kaero sambil mengusap-usap pinggangnya bekas cubitan sang istri.
"Jangan suka ngawur ngomongnya, Mas. Mana ada istri nganggur. Sedingin-dinginnya laki-laki, pasti dia juga akan nyosor jika disuguhi hidangan empuk. Buktinya kamu sendiri, Mas. Dulu saja berlagak dingin seperti es godor (es balok), eh tahu-tahu langsung tubruk saja." Jawab Keyya.
"Eh, itu kan gara-gara kamu juga. Mana ada laki-laki yang tahan jika setiap hari, setiap malam harus melihat pemandangan Sean yang tengah menghisap pabrik nutrisi meski belum ada produknya." Dengus Kaero.
El dan Fara yang mendengar perdebatan sepasang suami istri yang tengah berdebat horor tersebut hanya bisa membulatkan mata dan mulutnya. Mereka masih mengira-ngira apa maksud perkataan Kaero dengan menghisap pabrik nutrisi meski belum ada produknya.
Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Mereka segera masuk ke dalamnya. Pembicaraan pun masih berlanjut setelahnya.
Sementara itu, Bian tengah berjalan menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh mertuanya. Dia melangkahkan kakinya dengan dada berdegup lumayan kencang. Keringat dingin juga mulai muncul di pelipisnya. Kedua tangannya pun juga terasa berkeringat.
Saat tiba di kamar pengantin, Bian berdiri di depan pintu kamar tersebut. Dia masih belum berani untuk mengetuk pintu tersebut. Namun, saat tangannya hendak meraih pintu, terdengar sebuah suara memanggilnya.
"Bian."
Seketika Bian menoleh menatap ke arah sumber suara. Terlihat empat orang tengah berjalan ke arahnya. Ya, mereka adalah Kaero, Keyya, El dan Fara. Bian menoleh menatap ke arah mereka. Keningnya sedikit berkerut saat melihat kedatangan bosnya tersebut.
"Pak Kaero?" Sapa Bian saat mereka sudah berada di depan Bian.
Kening Bian berkerut saat menerima paper bag tersebut.
"Ini?" Tanya Bian sambil menatap paper bag tersebut.
"Itu buat Revina. Tentunya, kamu juga pasti akan sangat senang sekali jika Revina memakainya. Ah, salah. Aku yakin jika kamu akan lebih menyukai jika Revina polosan." Kata Kaero.
"Eh, i-itu anu.." Bian terlihat salah tingkah. Sementara Keyya, El, dan Fara hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah Bian.
Setelahnya, mereka berempat berpamitan kepada Bian. Mereka meninggalkan Bian yang masih terlihat gugup tersebut. Namun, mau tidak mau dia tetap harus mengetuk pintu tersebut.
Tok tok tok.
Bian memberanikan diri mengetuk pintu tersebut. Jantungnya masih berdegup dengan kencang saat menunggu pintu terbuka. Beberapa saat kemudian, Bian melihat pintu kamar terbuka.
Ceklek.
"Mas, lama sekali. Aku sudah nggak betah."
"Hhaaah?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Waduuhh opo neh iki sing ndak betah? 🤔