
"Fara? Kamu bekerja disini?"
Fara langsung menoleh menatap ke arah sumber suara. Dia menghembuskan napasnya sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
"Ehm, iya Dis. Mau beli apa?" Tanya Fara. Dia tidak ingin meladeni perkataan Adiska, teman sekelasnya saat SMA nya dulu.
"Wah, nggak nyangka ketemu disini. Aku kira kamu kembali ke rumah orang tuamu. Ups, kamu kan tidak diakui oleh ayahmu, kan." Kata Adiska mencibir.
Fara masih berusaha untuk mengontrol emosinya. Dia benar-benar berusaha agar tidak terpengaruh oleh perkataan Adiska.
"Aku tinggal di Jakarta, Dis. Mau pesan apa? Maaf sudah ada yang mengantri." Kata Fara dengan sopan.
Adiska yang mendapat respon biasa dari Fara hanya bisa mendengus kesal karena provokasinya tidak berhasil. Dia menoleh menatap empat orang pelanggan di belakangnya.
"Aku pesan ini, yang rasa coklat dan vanilla, dibungkus." Kata Adiska sambil menunjuk kue yang diinginkannya.
Fara mengangguk sambil mengulas senyumannya. Dia segera menyiapkan pesanan Adiska dan berharap dia segera pergi. Namun, hal yang Fara harap tak kunjung terjadi. Adiska malah memesan kue lagi untuk dinikmati di toko kue mommy Vanya tersebut. Ya, toko kue tersebut juga memang menyiapkan tempat untuk para pelanggan yang ingin menikmati kue-kue mereka.
Mau tidak mau, Fara segera menyiapkan pesanan Adiska. Setelahnya, dia kembali melanjutkan aktivitasnya. Beberapa saat kemudian, nampak datang seorang laki-laki yang mungkin sudah berumur sekitar empat puluh tahunan datang menghampiri Adiska. Fara mengerutkan keningnya saat melihat hal itu. Dia merasa seperti pernah melihat laki-laki itu.
Dan, benar saja. Laki-laki tersebut berjalan ke arah Fara dan membungkuk di depannya.
"Selamat siang, mbak Fara. Anda ikut kesini ternyata." Sapa laki-laki tersebut.
Adiska yang terlihat tidak senang pun mengikuti laki-laki tersebut dan segera menghampirinya.
"Ehm, maaf. Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi maaf, saya belum bisa mengingat Anda." Kata Fara.
"Kamu kenal dia, Yang?" Tanya Adiska kepada laki-laki tersebut. Adiska penasaran bagaimana laki-laki tersebut bisa mengenal Fara.
"Tentu saja aku mengenalnya." Bisik laki-laki tersebut sebelum menoleh ke arah Fara. "Perkenalkan, saya Haristino atau bisa dipanggil Haris. Saya karyawan di kantor Tuan Kenzo." Lanjut Haris.
Fara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ya, sekarang dia sudah mengingat siapa laki-laki tersebut setelah dia menyebutkan namanya.
"Oh, pak Haris. Maafkan saya tidak bisa mengingat Anda tadi." Kata Fara ramah.
"Kamu kenal Fara dimana sih, Yang?" Tanya Adiska.
"Mbak Fara ini istrinya tuan El. Dia menantu tuan Kenzo." Jelas Haris.
"Hhhaaa? Kok bisa?!" Teriak Adiska. Dia benar-benar terkejut dan merasa tidak terima.
"Memangnya kenapa? Kita tidak tahu jodoh, rezeki dan umur seseorang. Kita bisa berjodoh dengan siapa saja." Kata Fara.
Adiska yang masih terlihat kesal pun hendak menjawab perkataan Fara. Namun, seketika tatapan matanya tertuju pada seorang laki-laki yang baru saja memeluk pinggang Fara dengan erat. Bibir Adiska yang hendak terbuka pun langsung menutup dengan rapat. Dia mengetahui siapa laki-laki yang tengah memeluk pinggang Fara tersebut. Ya, laki-laki tersebut adalah El.
"Selamat siang, Tuan." Sapa Haris sambil menunduk.
"Selamat siang." Jawab El sambil mengamati Adiska. Keningnya sedikit berkerut saat melihatnya. Pasalnya, El sudah pernah bertemu dengan anak dan istri Haris. "Siapa dia Pak Haris?" Tanya El.
Haris yang mendengar pertanyaan El sedikit kikuk. Dia tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ehm, i-ini istri muda saya, Tuan El."
"Eh, yang kemarin masih kurang?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Apanya yang kurang? 🤔