
Selama dua hari Cello dan Shanum menginap di rumah kakek dan nenek Shanum. Hari ini, Rean dan juga mama Revina dan papa Bian akan kembali ke Surabaya. Cello dan Shanum akan mengantarkan mereka ke Bandara, sekaligus pulang ke rumah daddy El.
"Hati-hati, Pa, Ma. Langsung kasih kabar jika sudah sampai di rumah," kata Shanum sambil memeluk papa Bian dan juga mama Revina.
"Iya, Sayang. Kalian juga hati-hati pulangnya," kata mama Revina sambil mengecup pipi Shanum.
Setelahnya, giliran Shanum berpamitan kepada Rean. Shanum memeluk adik laki-lakinya tersebut yang memiliki tinggi hampir sama dengan Cello.
"Ccckkk, sudah ih. Jangan lama-lama peluknya. Nanti jika ada yang lihat, bisa turun pamor, nih." Kata Rean sambil melepas pelukan sang kakak.
Sontak Shanum langsung mempoutkan bibirnya. Melihat hal itu, semua orang keluarganya langsung tergelak.
Setelah berpamitan kepada Cello, mama, papa dan juga Rean langsung menuju bersiap-siap untuk take off. Sementara Shanum dan juga Cello, segera beranjak untuk pulang.
Mereka sampai di rumah menjelang petang. Cello dan Shanum segera beranjak untuk membersihkan diri. Malam itu, mereka makan malam berdua karena mommy Fara dan daddy El baru akan kembali ke Jakarta esok hari.
Usai makan malam, Shanum terlihat membersihkan meja makan sambil mengobrol dengan bi Yam. Keduanya terlihat tertawa-tawa di dapur. Cello berjalan mendekati Shanum yang saat itu tengah membantu bi Yam di dapur.
"Aku keluar sebentar, ya. Ada janji dengan Aldi." Kata Cello yang sudah berdiri di belakang Shanum.
Shanum menoleh dan menatap Cello yang sudah rapi dengan outfit santainya. Keningnya berkerut tidak suka saat melihat Cello yang nampak mempesona tersebut. Ah, dia memang selalu mempesona, batin Shanum.
"Mau kemana?" Tanya Shanum penuh selidik.
"Ke tempat futsal Aldi sebentar."
"Sama siapa saja?"
"Tadi hanya janji sama Aldi, sih. Tapi nggak tahu anak-anak disana apa tidak."
Shanum terlihat mengerucutkan keningnya tidak suka. Entah mengapa semakin hari dia semakin tidak tenang dengan perasaannya. Memang benar Shanum dan Cello sudah menikah. Namun, mereka belum benar-benar melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri. Dan hal itu yang sering membuat Shanum cemas. Shanum khawatir jika Cello mencoba-coba di luar sana. Meskipun dia yakin Cello bukan orang seperti itu.
"Ada ceweknya, nggak?" Tanya Shanum sambil masih mengerucutkan bibirnya.
Shanum masih terlihat mempoutkan bibirnya. Cello yang melihat hal itu langsung berjalan mendekat ke arah Shanum dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang istri.
"Nggak usah cemberut gitu. Aku nggak akan lama. Nggak enak jika tidak datang. Aku sudah janji tadi." Kata Cello berusaha untuk menenangkan sang istri.
Shanum hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia tidak boleh terlalu mengekang sang suami. Shanum berusaha untuk percaya dengan Cello.
"Jangan lama-lama ya, Mas." Kata Shanum sambil memeluk tubuh Cello dan menghirup aroma mint yang sudah sangat dihafalnya tersebut.
"Iya. Paling jam sepuluh juga sudah pulang," kata Cello sambil membalas pelukan Shanum.
Shanum mendongakkan kepalanya menatap ke arah Cello sambil berjinjit. Dia mengecup bibir sang suami sekilas dan tersenyum setelahnya.
"Janji ya? Nanti aku mau kita buka puasa," kata Shanum berbisik pada telinga Cello.
Seketika tubuh Cello langsung menegang. Cengkeraman kedua tangannya pada pinggang Shanum langsung mengencang dengan kedua bola mata membulat sempurna.
"Ka-kamu serius?" Tanya Cello.
Shanum tersenyum sambil mengangguk. Dia justru mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami dan mengecupnya sekilas.
"Tentu saja. Aku sudah bersih, kok."
Saat Cello hendak menyambar bibir sang istri, terdengar deheman dari bi Yam yang berada tak jauh dari mereka.
"Eheemmm. Aden dan Non Shanum jika mau huh hah huh hah di dalam kamar saja. Kasihan Bibi yang sudah tua ini jadi ikut terkontaminasi.
"Eh,"
•••
Tinggalkan jejak dengan klik like, komen dan vote ya. Bantu promosi cerita ini ke yang lainnya. Terima kasih.