The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Mandi tengah malam



"Bukan begitu." Kata Vanya. "Keluarlah dulu di balkon, tutup pintunya. Aku akan mandi sebentar." Lanjut Vanya dengan penuh semangat. Ya, menurutnya hanya dengan cara seperti ini dia bisa mandi.


Kenzo menoleh menatap Vanya dengan tatapan tidak percaya. Dia benar-benar tidak menyangka Vanya busa mempunyai ide seperti itu. Apa dia tidak berpikir jika udara saat ini di luar sangat dingin. Bisa-bisa masuk angin nanti. Batin Kenzo.


"Tidak mau." Tolak Kenzo. "Apa kamu pikir udara di luar tidak dingin. Ini sudah dini hari. Bisa-bisa masuk angin aku nanti." Lanjut Kenzo.


Vanya terlihat mendekati Kenzo dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. 


"Aku mohon sebentar saja Mas, aku hanya ingin membersihkan diri, ya ya ya." Pinta Vanya. "Rasanya tubuhku sudah lengket sekali Mas, nggak nyaman tau." Lanjut Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.


Kenzo yang melihat tingkah Vanya jadi tidak tega dibuatnya. Dia segera beranjak dari duduknya sambil menarik selimut.


"Aku tunggu di luar. Jangan lama-lama mandinya." Kata Kenzo sambil berjalan keluar kamar menuju balkon. Dia juga melilitkan selimut tebal itu pada tubuhnya agar tidak kedinginan. Bayangkan saja, betapa dinginnya udara di tepi pantai pukul 01.20 dini hari seperti ini. Namun, Kenzo tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Vanya.


Sementara itu, Vanya segera mengunci pintu yang menuju balkon dan segera menarik korden hingga tertutup rapat. Setelah itu, dia segera berlari menuju kamar mandi. Vanya segera menanggalkan pakaiannya dan menyalakan shower. Dia harus mandi secepat mungkin. 


Sekitar sepuluh menit kemudian, Vanya sdh menyelesaikan acara mandinya. Vanya segera menyambar bathrobe yang ada di dalam lemari. Vanya berjalan keluar kamar mandi sambil melilitkan handuk pada rambutnya yang basah.


Ceklek.


Vanya segera membuka pintu dan meminta Kenzo untuk segera masuk. Ceeesssss. Vanya merasakan udara diluar benar-benar dingin. Dia menjadi merasa bersalah pada Kenzo.


Kenzo segera berjalan memasuki kamar tersebut. Dia memberikan selimut yang tadi dipakainya kepada Vanya. Melihat Kenzo memberikan selimut kepadanya, Vanya mengerutkan kening dan menatap Kenzo bermaksud meminta penjelasan.


"Aku juga ingin mandi. Sekarang gantian kamu keluar dulu." Perintah Kenzo.


Glek. Vanya menelan salivanya dengan keras. Dia benar-benar termakan omongannya sendiri. Namun, Vanya tetap menerima selimut yang diberikan Kenzo dan berjalan menuju balkon. Vanya benar-benar merasakan apa yang dialami oleh Kenzo tadi.


Bbbbrrrrr. Beberapa kali Vanya menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghalau rasa dinginnya. Beruntung bagi Vanya, tidak berapa lama kemudian terdengar pintu terbuka. Kenzo terlihat sudah memakai celana kolor pendek dengan bertelanjang dada. Sebuah kaos putih tersampir pada bahunya. Sebuah handuk bertengger di atas kepalanya. Rambut bagian depannya juga masih meneteskan air sisa-sisa mandinya.


Vanya segera menundukkan kepalanya. Dia terlihat malu mendapati Kenzo yang tengah bertelanjang dada. Tanpa berkata apa-apa, Vanya segera masuk ke dalam kamar. Dia benar-benar merasa sangat dingin. Vanya segera menarik kopernya dan membawanya ke dekat tempat tidur. Sementara Kenzo masih berdiri sambil mengeringkan rambutnya.


Setelah berhasil membuka kopernya, Vanya begiti kaget. Dia sama sekali tidak mengenali barang-barang yang ada di dalamnya. Vanya mengerutkan keningnya, bingung. Dia berpikir mungkin kopernya telah tertukar.


"Mas, sepertinya koperku tertukar deh." Kata Vanya


"Mana mungkin. Itu koper tadi yang di bawa dari rumah." Jawab Kenzo datar.


"Beneran Mas. Aku sama sekali tidak mengenali satu pun pakaian yang ada disini." Kata Vanya sambil masih berusaha menemukan pakaian atau benda yang dikenalinya.


Seketika Vanya membulatkan mata dan mulutnya karena terkejut setelah mendengar penjelasan Kenzo.


"Semuanya?!" Tanya Vanya masih tidak percaya.


"Ccckkk. Periksa saja sendiri!" Kata Kenzo sambil berjalan menuju lemari pendingin.


Vanya segera menuruti perintah Kenzo. Dia membongkar semua pakaian yang ada di dalam kopernya. Ada beberapa dress, celana jean, pakaian dalam lengkap, kaos, dan apa ini? Lingerie?. Vanya teriak tertahan melihat apa yang ada di depannya. Ada lima buah lingerie disana dengan berbagai macam warna dan model.


Vanya segera melemparkan lingerie-lingerie itu kembali ke dalam koper. Dia merasa malu hanya dengan melihatnya saja. Karena kesal tidak menemukan baju tidur yang normal, Vanya segera menutup kopernya dan segera menyalakan ponselnya. Begitu ponselnya menyala, banyak pesan dari Fida dan Nabila. Tadi pagi, mereka sempat datang ke acara ijab qobul Vanya. Namun, mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengobrol bersama. Kenzo selalu memonopoli Vanya hingga acara berakhir.


"Tidak ganti baju?" Tanya Kenzo yang melihat Vanya tidak beranjak dari duduknya.


"Enggak."


"Kenapa?" 


"Tidak ada baju tidur yang normal. Lihat saja itu. Semua baju tidur kurang bahan." Jawab Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.


Seketika Kenzo mengikuti arah pandang Vanya. Dia benar-benar terkejut mengetahui ulah tante Risma.


"Tidak akan nyaman tidur pakai bathrobe seperti itu. Pakailah salah satu baju tidur itu. Aku janji tidak akan melirik." Kata Kenzo.


Vanya mendengus kesal. "Iya, mas Ken memang tidak akan melirik, tapi justru akan dengan senang hati melihat."


.


.


.


.


.\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukungannya ya,


Thanks 🤗🤗