
Berita bahagia tentang kehamilan Fara sudah terdengar oleh keluarga besar El. Pun demikian dengan para sahabat mommy Vanya dan juga El sendiri.
Pagi itu, El sudah berangkat ke kantor bersama dengan daddy Kenzo. Mereka menggunakan kendaraan yang sama untuk berangkat ke kantor.
"Nanti daddy akan langsung berangkat ke Bogor dengan om Reyhan. Kamu langsung ke kantor Zee. Dia sudah siap dengan laporan perkembangan proyek terbaru kalian." Kata daddy Kenzo sambil masih mengotak atik ponselnya.
"Daddy menginap di Bogor?"
"Nggak lah. Mana mungkin daddy menginap jika tidak mengajak mommy kamu. Tidak ada selimut yang hangat selain mommy kamu."
"Ccckkk. Sudah tua juga masih saja ke arah sana pikirannya." Gerutu El lirih.
"Daddy dengar, El."
Seketika El langsung mencebikkan bibirnya. Dia kembali fokus pada kemudi yang ada di depannya.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai El sudah sampai di depan kantor sang daddy. Setelah daddy Kenzo turun, El langsung mengemudikan mobilnya menuju kantor Zee. Dia harus membahas banyak hal terkait dengan proyek terbaru mereka.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, El sudah sampai di gedung GC. Dia langsung menuju ruang kerja Zee yang berada di lantai dua belas.
"Eh, selamat pagi mas El. Silahkan masuk, sudah ditunggu oleh mas Zee." Kata mbak Mei, sekeretaris Zee.
"Terima kasih, Mbak." Jawab El sambil melirik mbak Mei. "Waahh, sepertinya sudah mau melahirkan, Mbak?" Tanya El saat menyadari jika perut mbak Mei sudah membuncit.
"Hehehe iya, Mas. Ini minggu terakhir sebelum aku cuti melahirkan." Jawab mbak Mei sambil tersenyum.
"Semoga lahirannya lancar, Mbak. Bayi dan mamanya juga sehat."
"Aamiin. Terima kasih, Mas."
Setelahnya, El langsung berjalan memasuki ruangan Zee.
Ceklek.
Zee membuka pintu ruangan Zee setelah mengetuknya. Terlihat Zee tengah menelepon di dekat jendela lebar yang berada di ruangannya. Penampilan young daddy tersebut benar-benar santai. Dia hanya memakai kemeja dan celana jean dengan sepatu kets yang tidak pernah ketinggalan.
Setelah beberapa saat kemudian, Zee sudah menyelesaikan panggilan teleponnya. Dia segera berjalan menyusul Zee yang sudah duduk di sofa yang berada diruangannya.
"Selamat, Bro. Akhirnya adonan lo berhasil juga. Hahaha." Kata Zee sambil menepuk-nepuk bahu El.
"Emang lo kira gue buat roti apa." Jawab El sambil mendengus kesal.
El hanya bisa mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Zee. Setelahnya, mereka langsung membahas pekerjaan yang memang membutuhkan diskusi yang cukup serius.
•••
Sementara di tempat lain, terlihat Revina sedang membereskan barang-barangnya dan memasukkan sebagiannya ke dalam tas. Sore itu, dia sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Langsung balik atau mampir dulu, Rev?" Tanya Erin, sang sahabat.
"Mampir belanja dulu deh. Bahan dapur banyak yang habis soalnya."
"Iya deh, yang sudah jadi istri." Kata Erin sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.
Ya, Erin memang sudah mengetahui jika Revina sudah menikah dengan Bian. Sebenarnya, Revina belum ingin memberitahukan hal itu kepada Erin. Namun, Angga yang memiliki bibir paling nyinyir tersebut sudah keceplosan untuk memberitahukan pernikahan Revina kepada Erin.
"Itu kan sudah jadi kewajiban. Kewajiban istri itu, harus bisa membuat suami puas. Baik perut, maupun bawahnya. Hehehe."
Erin yang mendengar jawaban Revina langsung mendengus kesal. Dia sudah mulai hafal dengan tingkah absurd sang sahabat.
"Sudah-sudah. Aku nggak mau dengar kuliah plus-plus. Belum waktunya aku mendapatkan materi seperti itu." Kata Erin sambil memanyunkan bibirnya.
"Halah, apanya yang belum waktunya. Muka saja polos seperti barbie. Tapi, coba saja buka pencarian google di ponsel kamu. Isinya plus plus eks eks semua."
"Huusssttt, jangan keras-keras. Nggak enak di dengar orang. Apalagai di baca reader. Malu, tau."
"Lhah."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf up masih tidak menentu. 🙏