
Karena terlalu lama menangis, Dena akhirnya terlelap. Dia tertidur begitu saja diatas tempat tidur, dengan tangan masih menggenggam ponsel.
Suara adzan subuh yang terdengar menggema, membangunkan Dena pagi itu. Dena mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia masih berusaha mengumpulkan nyawa sambil menatap sekeliling. Setelah tersadar, Dena langsung beranjak dari tidurnya. Dia memeriksa ponsel dan masih tidak mendapati pesan balasan dari Rean.
Dena juga kembali mencoba untuk menghubungi Rean. Namun, lagi-lagi panggilan telepon tersebut masih tidak tersambung.
Dena memutuskan untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai, dia duduk termenung di ruang makan. Pikirannya berkelana kemana-mana. Semuanya berkutat pada satu nama, Rean.
Dena mengetahui Rean saat ini berada di Bandung dari orang tuanya. Semalam, Dena memberi tahu orang tuanya jika dia sudah kembali ke apartemen. Saat itu, Dena diberitahu jika Rean harus pergi ke Bandung untuk mengurusi distronya.
Setelah berpikir sejenak, Dena memutuskan untuk berangkat ke Bandung saat itu juga. Dia sudah mencoba untuk menghubungi Rean berkali-kali, namun hasilnya tetap saja tidak terhubung. Dena berpikir, jika Rean marah dengannya.
Pagi itu, Dena sudah bersiap. Bahkan, jam pagi itu masih menunjukkan pukul lima lewat Dena sudah bersiap untuk berangkat ke Bandung. Dengan berbekal alamat yang diberikan kedua orang tuanya, Dena langsung meluncur ke Bandung saat itu juga. Bahkan, dia melewatkan sarapan pagi itu.
Sepanjang perjalanan, Dena benar-benar merutuki kebodohannya. Dia benar-benar menyesal dengan semua perbuatannya. Dia sudah bertekad akan memperbaiki semuanya jika sudah bertemu dengan Rean. Dena bahkan sudah tidak peduli lagi jika ada yang akan mengetahui berita pernikahannya dengan Rean.
"Aku minta maaf, Mas. Maafkan semua keegoisanku. Maafkan semua tingkah lakuku yang masih kekanakan. Hiks, hiks." Dena tak kuasa menahan air matanya yang terus menetes sepanjang perjalanan menuju Bandung. Bahkan, Dena sering kehilangan fokus saat menyetir kendaraannya.
Beberapa kali Dena sempat istirahat di rest area. Dia merasa tubuhnya benar-benar lelah. Selama beristirahat, Dena mencoba menghubungi Rean beberapa kali. Namun, panggilan telepon tersebut masih belum tersambung. Bahkan, pesan-pesan yang dikirimkan oleh Dena sejak semalam juga belum ada tanda-tanda terkirim.
Sementara itu di Bandung, Rean masih bergelung di dalam selimut. Sejak semalam dia ngobrol dengan papa Bian dan pulang kembali ke hotel, dia langsung tertidur. Tubuhnya benar-benar merasa sangat letih. Bahkan, punggungnya terasa pegal-pegal.
Sejak dari Surabaya kematin, tenaga dan pikiran Rean benar-benar dipaksa bekerja dengan keras. Ditambah lagi kesalahpahaman dengan sang istri, benar-benar membuat Rean merasa sangat capek.
Rean tertidur dengan sangat lelap. Bahkan, setelah menjalankan kewajibannya tadi pagi, Rean kembali bergelung di dalam selimut. Dia mengabaikan ponselnya yang kehabisan daya sejak semalam.
Mama Reavina yang sudah membangunkan Rean untuk sarapan pun tidak digubrisnya.
"Nanti saja, Ma. Aku masih ngantuk. Badanku capek semua ini," gumam Rean sambil menarik kembali selimutnya. Saat itu, sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.
"Enggak, Ma. Mama dan papa sarapan saja dulu. Nanti aku nyusul." Rean masih memejamkan mata.
Papa Bian yang melihat sang putra terlihat kelelahan pun membiarkannya. Papa Bian juga tidak ingin putranya tersebut semakin kecapekan.
"Biarkan saja. Mungkin Rean masih capek. Kita sarapan saja dulu. Atau, kamu mau sarapan di kamar saja?" tanya papa Bian sambil menoleh ke arah mama Revina.
"Nggak mau! Tadi kamu sudah minta 'sarapan' di kamar. Jika kita sarapan di kamar, kamu pasti minta tambah lagi, Mas. Heran deh, nggak ingat itu cucu sudah dua masih saja semangat mau bikin anak." Mama Revina masih bersungut-sungut kesal.
"Eh, mana ada bikin anak. Yang ada juga hanya jengukin pabriknya."
"Sama saja, Mas."
Belum sempat papa Bian menjawab perkataan mama Revina, Rean sudah menyibak selimut dan menyipitkan matanya.
"Apa-apaan sih ini. Jika mau bikinin aku adik jangan debat terus disini, Ma, Pa. Sana ke kamar kalian saja. Aku masih ngantuk." Rean menggerutu sambil menatap wajah kedua orang tuanya dengan kesal.
"Baiklah-baiklah. Kami pergi sekarang. Ayo, Mas." Mama Revina menarik lengan papa Bian beranjak menuju pintu kamar.
"Eh, jadi kembali ke kamar, Yang?"
"Astaga!"
\=\=\=
Hehehe, yang masih gregetan sama Dena boleh nih 🤭