The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.45



Sementara di rumah El, keluarganya juga sedang melakukan buka puasa. El bahkan sudah sejak tadi melirik ke arah Fara berkali-kali. Hal tersebut rupanya tidak luput dari perhatian orang tuanya.


"Ada apa dengan mata kamu, El?" Tanya daddy Kenzo.


"Memangnya kenapa dengan mataku, Dad?" Tanya El sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Fara sempat melirik sesaat ke arah sang suami.


"Dari tadi melirik Fara terus. Istri kamu tidak akan pergi kemana-mana. Tidak usah dilirik terus."


"Apaan sih, Dad." Gerutu El. "Memangnya kenapa jika El melirik istri sendiri. Daripada melirik orang lain, lebih baik melirik istri sendiri, kan." Lanjut El sambil masih melanjutkan suapannya.


"Jelas rugi lah. Apa enaknya melirik, kalau Daddy sih tidak mau. Daddy saja tidak pernah melirik mommy kamu, ogah."


Mommy Vanya yang mendengar jawaban daddy Kenzo langsung menoleh sambil menatapnya dengan tajam. 


"Seriusan, Dad?" Tanya El penasaran.


"Iya lah. Ngapain juga melirik, nggak puas. Mendingan lihat langsung saja, bisa di puas-puasin. Bener nggak, Yang?" Kata daddy Kenzo sambil menoleh menatap wajah mommy Vanya. Jangan lupakan alisnya yang sudah mulai naik turun menggoda mommy Vanya.


"Hhhhh, kamu ini, Mas. Jangan ngajarin yang iya-iya terus pada El. Bisa-bisa otaknya sudah tercemar sama otak kamu yang rada-rada oleng." Gerutu mommy Vanya.


"Mana ada itu yang iya-iya." Kata daddy Kenzo sambil mendengus kesal.


El dan Fara yang mendengar perdebatan orang tuanya hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Setelahnya, mereka melanjutkan buka puasa.


Malam itu, hujan tinggal menyisakan gerimis yang tidak terlalu deras. Fara berjalan di samping mommy Vanya saat berjalan pulang dari masjid setelah melaksanakan tarawih. Sementara El dan daddy Kenzo, masih berjalan di belakang bersama dengan para bapak-bapak yang lain.


Sesampainya di rumah, seperti biasa Fara selalu melakukan tadarus. Sekitar dua puluh menit kemudian, El sudah terlihat memasuki kamarnya dengan membawa sebotol air putih. Fara yang kebetulan sudah menyelesaikan tadarusnya langsung mengambilkan baju ganti untuk sang suami.


"Ini Mas. Ganti bajunya dulu." Kata Fara sambil menyerahkan kaos dan celana pendek untuk El.


El menerima pemberian Fara sambil terus memandangi tubuh Fara. Fara yang merasa diperhatikan pun mendongak menatap wajah El. 


"Ada apa, Mas?" Tanya Fara dengan kening berkerut.


"Masih sakit?" Tanya El tiba-tiba.


"Eh, apanya yang sakit, Mas? Aku tidak sakit kok." Jawab Fara. Dia masih belum mengerti maksud dari pertanyaan El.


"Itu." Jawab El sambil menunjuk bagian bawah Fara dengan gerakan kepalanya. 


Sontak saja Fara langsung merasa malu setelah mengerti pertanyaan El. Dia hanya bisa menundukkan kepala sambil mengangguk pelan.


"Bukanya kamu suka? Semalam siapa yang terus bilang iya auuhh, terus Mas, iyaa itu, terus, ehhhmmm….." Belum sempat El melanjutkan perkataannya, namun mulutnya sudah dibungkam oleh tangah Fara. Rupanya Fara merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh El.


El pelan-pelan menurunkan tangan Fara yang membungkam mulutnya. Sebuah senyuman tak lepas dari bibir El saat melihat sang istri yang tengah merasa malu.


"Kenapa?" Tanya El.


"Jangan ngomong begitu, Mas." Jawab Fara dengan lirih.


"Memangnya kenapa? Aku kan hanya ngomong kenyataan." Goda El.


"A-aku malu, Mas."


"Kenapa mesti malu. Kita kan sudah menikah. Memang sudah seharusnya melakukan hal seperti itu, kan."


"I-iya. Tapi kan baru pertama kali, Mas. Jadi masih wajar jika aku malu." Jawab Fara sambil masih menundukkan wajahnya. Dia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap wajah El.


"Jadi, jika sudah berkali-kali tidak akan merasa malu lagi?" Pancing El.


"Iya, Eh."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Up lagi.


Ada yang tanya bagaimana caranya kasih vote, ini othor kasih tahu.


Tinggal klik bagian vote yang berada di bawah, setelah itu, klik vote.