
Sesampainya di rumah, Kenzo benar-benar kewalahan mendapat serangan dari Vanya. Dia berusaha untuk memenuhi kebutuhan sang istri, sementara dirinya harus berkonsentrasi penuh agar tidak membahayakan sang istri dan calon bayi mereka.
"Yang, aku benar-benar capek ini." Kata Kenzo yang kini sedang berada dibawah Vanya.
Bagaimana tidak capek, punggungnya benar-benar sudah terasa panas sekali karena harus menyangga tubuh sang istri. Ditambah lagi tenaganya yang sudah terkuras habis karena terus bergerak selama beberapa jam terakhir. Mereka hanya beristirahat untuk makan siang. Itupun dengan paksaan Kenzo.
"Ehmmmmmhhhh, bentar lagi, Mas." Jawab Vanya sambil masih terus menggoda sang suami. Kali ini, giliran Vanya yang mengambil alih kendali.
Kenzo pun hanya bisa pasrah menerima serangan sang istri. Dulu, saat sebelum Vanya hamil mungkin tidak akan seperti ini. Kenzo bisa melakukan berbagai gaya dan tindakannya pun tidak harus terlalu berhati-hati seperti sekarang ini. Kondisi Vanya yang tengah hamil besar inilah yang membuatnya tidak bisa leluasa bergerak. Tindakannya pun juga harus berhati-hati agar tidak membahayakan sang istri dan calon bayi mereka.
Sekitar lima belas menit kemudian, Vanya benar-benar menyelesaikan aktivitasnya. Dia langsung merebahkan diri di samping sang suami yang masih duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Rasanya Kenzo akan sangat sulit bergerak setelah ini. Punggungnya terasa pedih sekali.
"Huh huh huh, aku lelah sekali, Mas." Kata Vanya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Sama." Jawab Kenzo sambil bergerak pelan-pelan untuk merebahkan tubuhnya.
"Istirahat sebentar, Mas. Setelah itu kita bisa mandi bersama." Kata Vanya sambil memainkan ujung jarinya pada perut Kenzo.
Seketika Kenzo membulatkan mata dan mulutnya. Apa-apaan itu mandi bersama, bisa-bisa aku akan diserang lagi nanti. Rasanya aku tidak akan sanggup menghadapi Vanya jika nanti hamil lagi dan ngidam hal seperti ini. Batin Kenzo.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah terlelap karena rasa capek yang mereka rasakan.
Keesokan harinya, Vanya sedang menyiapkan sarapan di dapur bersama dengan bi Ani. Saat Vanya sedang menata sarapan di atas meja makan, dia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah ruang makan. Vanya menoleh dan melihat Reyhan ternyata sudah ada di dekat meja makan dengan membawa beberapa paper bag di kedua tangannya.
Sontak Vanya yang melihat paper bag tersebut langsung berbinar bahagia. Sudah bisa dipastikan itu semua adalah pesanannya.
"Waahh, sudah sampai Rey? Kapan datang?" Tanya Vanya sambil berjalan mendekat untuk mengambil paper bag tersebut.
"Kemarin sore, Nona." Jawab Reyhan.
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Netra matanya masih mengamati paper bag yang tengah dibawa oleh Reyhan.
"Itu semua pesananku?" Tanya Vanya tidak sabar.
Reyhan segera mengangguk dan menyerahkan paper bag tersebut kepada Vanya.
"Benar, Nona. Ini semua pesanan Anda." Jawab Reyhan.
"Waaaahh, terima kasih banyak Rey. Aku sudah tidak sabar untuk memakan kue lapis legit dan abon ini." Kata Vanya sambil menelan salivanya dengan keras. Rasanya dia sudah sangat ingin menghabiskannya.
"Duduk dulu Rey, sarapan akan segera siap. Aku panggilkan mas Kenzo dulu." Kata Vanya sambil hendak berjalan menuju kamar tidurnya. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat sang suami sudah berjalan menuju ruang makan.
"Kapan kamu sampai, Rey?" Tanya Kenzo sambil melingkarkan tangan kanannya pada perut sang istri dan mengusap-usapnya dengan lembut.
"Kemarin sore, Tuan. Saya minta maaf tidak bisa langsung datang kesini." Jawab Reyhan.
Vanya yang dilirik pun merasa malu. Setiap kali setelah melakukan olahraga adu lemas, entah mengapa dirinya selalu malu. Dia selalu merasa heran mengapa dirinya bisa seagresif itu.
Reyhan yang tidak mengerti maksud perkataan atasannya tersebut hanya biaa mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya, mereka segera sarapan bersama.
"Hari ini ada undangan dari kantor utama untuk menghadiri launching produk terbaru, Tuan." Kata Reyhan di sela-sela sarapannya.
Kenzo mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti setelah mendengar perkataan Reyhan.
"Kamu jadi dijemput mama?" Tanya Kenzo kepada Vanya.
"Iya, Mas. Semalam mama bilang akan menjemput kesini sekalian mengantar sesuatu." Jawab Vanya.
"Baiklah, nanti hati-hati. Jangan terlalu capek. Jika sudah sampai, segera hubungi aku. Nanti aku yang akan mengantar kamu pulang jika acara sudah selesai." Kata Kenzo sambil mengambil air minumnya.
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dia menoleh menatap Reyhan yang juga melakukan hal yang sama dengan Kenzo.
"Nanti Fida juga akan hadir, Rey. Jangan lupa menyiapkan sesuatu yang spesial untuknya. Kalian kan sudah lama tidak bertemu." Goda Vanya.
Seketika tubuh Reyhan menegang. Dia sama sekali tidak mengetahui jika Fida juga akan hadir pada acara launching produk tersebut.
"Se-sesuatu yang spesial? Apa contohnya, Nona?" Tanya Reyhan. Dia benar-benar tidak mengetahui tentang hal itu.
"Ya, sesuatu yang tidak bisa Fida lupakan. Seperti, lamaran mungkin." Kata Vanya dengan santainya.
"Uhukk"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda
Thank you