The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 6



Rean hanya bisa mendengus kesal saat mendengar obrolan absurd kedua orang tuanya.


"Papa dan Mama bisa nggak sih, nggak ngomongin hal-hal abstrak begitu. Kalau mau ngecharge, malam kan juga bisa, Pa." Gerutu Rean sambil menyeruput minumannya.


"Kamu kira Papa kamu nggak ngerjain Mama di malam hari? Dia sih hampir setiap malam ngerjain Mama, Re. Eh, ternyata pagi juga masih saja minta tambahan. Heran, deh." Gerutu mama Revina.


Papa Bian yang mendengar perkataan mama Revina hanya bisa tersenyum sambil menggaruk alisnya. "Ya, itu sih alami, Yang," kilah Papa Bian.


"Ckckck, alami apanya, Mas. Buatan kamu sih iya."


Ya, begitulah obrolan absurd keluarga Rean di pagi hari. Mereka masih sering melakukan obrolan-obrolan yang membuat Rean dewasa sebelum waktunya.


Setelah sarapan, Rean bergegas berangkat ke kampus. Dia mengendarai motor besarnya membelah jalanan ibukota yang sudah lumayan padat tersebut. Hari itu, adalah hari pertama perkuliahan Rean.


Sekitar satu jam kemudian, Rean sudah sampai di kampus. Dia langsung memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir yang terletak paling dekat dengan ruang kelasnya. Sebelum menuju ruang kelas, Rean mengambil ponselnya untuk menghubungi Dandi.


"Halo, Dan. Dimana lo?" tanya Rean setelah panggilan telepon tersebut terhubung.


"Gue di kantin. Habis sarapan, nih. Lo dimana?"


"Masih di parkiran."


"Oke, tungguin gue. Gue jalan ke sana."


"Oke."


Panggilan telepon pun terputus. Tak berapa lama kemudian, Dandi sudah terlihat berjalan ke arah Rean. Setelah itu, mereka segera berjalan menuju kelas.


Hari itu, perkuliahan pertama dimulai. Rean dan Dandi, lumayan mendapatkan teman baru disana. Mungkin karena baru pertama kali bertemu, atau setidaknya pernah beberapa kali bertemu, mereka hanya cukup saling sapa.


Menjelang pukul dua siang, perkuliahan mereka pun selesai. Rean dan Dandi segera beranjak meninggalkan kelas, dan menuju tempat parkir.


"Langsung balik, lo?" tanya Dandi sambil memasangkan helm.


"Enggak. Gue mampir ke distro dulu. Lo balik sekarang?"


"Iya. Mau ada acara di rumah. Nggak enak jika nggak ikut hadir."


Setelah itu, mereka berdua langsung berpisah, karena lokasi yang dituju berlawanan arah. Tak butuh waktu lama bagi Rean untuk sampai di distro miliknya. Dia langsung memarkirkan sepeda motornya dan segera memasuki distro tersebut. Terlihat ada empat orang pembeli di sana. Rean langsung berjalan menuju ruangannya karena ada yang harus dia lakukan.


Begitu memasuki ruangan, Rean segera membuka ponselnya dan melakukan panggilan video pada orang kepercayaannya di Surabaya. Dia harus memantau perkembangan usahanya di Surabaya.


Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian, panggilan video tersebut berakhir. Rean keluar dari ruangannya dan membantu beberapa karyawannya. Hingga menjelang makan malam, Rean memutuskan untuk pulang. Dia menitipkan distro kepada orang kepercayaannya tersebut.


Sesampainya di rumah, Rean sudah ditunggu oleh sang papa. Dia terlihat membawa sebuah brosur kendaraan yang akan ditawarkan kepada Rean. Melihat hal itu, Rean hanya bisa menghembuskan napas berat.


"Papa masih tetap mau membelikanku mobil?" tanya Rean sambil berjalan melintasi papa Bian menuju dapur. Papa Bian langsung mengikuti sang putra.


"Tentu saja. Tinggal kamu putra Papa satu-satunya. Kakak kamu kan sudah menikah."


"Memangnya kenapa jika tinggal aku putra Papa satu-satunya? Papa mau buatkan aku adik lagi?" tanya Rean sambil berbalik.


"Tidak. Tentu saja Papa tidak akan melakukannya."


"Lalu?"


Papa Bian menghembuskan napas berat sebelum menjawab pertanyaan Rean. "Papa hanya ingin merasakan bagaimana rasanya membelikan kendaraan untuk putra putri Papa, Re. Kamu kan tau, jika selama ini, Papa belum pernah membelikan kendaraan untuk kamu maupun kakak kamu."


"Dulu, kakek kamu membelikan kendaraan untuk Shanum. Lalu, kamu juga membeli sendiri motor kamu ini dari hasil usaha sendiri. Bahkan, dulu saat di Surabaya, kamu juga hanya naik motor atau mobil mama kamu."


Rean menjadi tidak enak hati setelah mendengar perkataan sang papa. Mau tidak mau, dia akhirnya menyetujui permintaan Papa Bian untuk membelikannya kendaraan.


"Baiklah kalau begitu. Aku mau. Untuk kendaraannya, terserah Papa maunya yang bagaimana. Aku sih terima beresnya saja," ujar Rean.


Papa Bian langsung sumringah. Namun, senyum tersebut tidak bertahan lama saat mendengar perkataan mama Revina.


"Awas saja jika sampai kamu modifikasi mobil Rean, Mas."


"Eh?"


\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. 🤗