The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Siapa Yang Akan Membantuku?



Pagi itu setelah melaksanakan kewajiban seorang muslim, Vanya kembali terlelap. Tubuhnya benar-benar terasa remuk. Bahkan, untuk bergerak pun terasa sangat lemas. 


Hal berbeda dirasakan oleh Kenzo. Dia sudah berolahraga lari-lari pagi keliling komplek rumahnya. Reyhan, yang juga sudah bangun sejak subuh langsung meminta izin untuk pulang ke rumahnya. 


Fida yang juga sudah bangun pagi itu terlihat sudah berada di dapur. Dia membuka lemari pendingin untuk mengambil air minum dan menenggaknya. Kenzo yang sudah selesai berolahraga pun segera berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat Fida yang sedang berada di dapur.


"Kamu ada acara hari ini Fid?" Tanya Kenzo.


Fida yang semula memunggungi Kenzo pun terlonjak kaget dengan suara Kenzo yang tiba-tiba.


"Eh, nggak ada. Aku free kok Kak." Jawab Fida. 


Ya, Kenzo meminta Fida untuk memanggilnya dengan sebutan kakak. Dia tidak mau dipanggil dengan sebutan tuan atau pak oleh sahabat istrinya.


"Bisa minta tolong temani Vanya dulu. Aku akan ke kantor hari ini." Kata Kenzo.


"Hhmm, baiklah. Aku akan menemani Vanya. Dia belum bangun?" Tanya Fida.


"Entahlah. Mungkin belum." Jawab Kenzo.


Fida mengangguk-anggukkan kepalanya. Otak gesreknya sudah bisa memprediksi jika sang sahabat pasti digarap habis-habisan oleh sang suami semalam.


"Kamu mau sarapan apa? Aku pesankan online." Tanya Kenzo.


Fida yang tersadar pun langsung menggelengkan kepalanya dan tangannya.


"Eh, nggak usah. Aku bisa buat sarapan sendiri kok. Kemarin sudah belanja banyak sekali bahan makanan. Sayang jika tidak dimasak." Kata Fida.


"Baiklah, lakukan apa yang kamu suka. Aku tidak sarapan di rumah." Kata Kenzo sambil beranjak menuju kamarnya.


Fida mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dia kembali ke dalam kamar. Dia ingin membersihkan diri dulu sebelum bertempur di dapur. Fida bisa memastikan jika Vanya akan bangun siang hari itu. Dia sudah sangat hafal dengan kebiasaannya itu. Sudah beberapa kali Vanya molor saat janjian dengan Fida dan Nabila. Jika Nabila sangat sabar, berbeda dengan dirinya yang masih suka uring-uringan.


Ceklek


Kenzo membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Vanya masih tertidur di balik gulungan selimutnya. Wajah lelahnya sangat terlihat meskipun dia sedang tertidur. Jika sudah seperti itu, Kenzo merasa sangat bersalah pada Vanya. Dia sering berkata dalam hati untuk tidak mengulangi perbuatannya seperti itu. Halah preetttt, paling besok-besok juga diulangi lagi, Bang. Othor mah nggak percaya, apalagi para reader.


Kenzo segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Awalnya, dia berniat untuk tidak ke kantor hari ini. Namun, Vanya memaksanya untuk berangkat ke kantor. Dia bahkan mengancam akan ikut menginap di rumah Fida jika Kenzo tidak berangkat bekerja. Akhirnya, mau tidak mau Kenzo tetap berangkat ke kantor.


Setelah semua siap, dia segera bergegas pergi ke kantor. Reyhan sudah menunggunya di depan. 


Saat di dalam mobil, Kenzo dan Reyhan membicarakan masalah Rasha.


"Jadi benar asisten pak Bisma kemarin adalah laki-laki yang dulu pernah menyukai nona Vanya, Tuan?" Tanya Reyhan dari balik kemudinya.


"Hhhmmm. Dia bahkan sudah berniat untuk melamar Vanya melalui tantenya." Jawab Kenzo.


"Waahh, pantas saja dia terlihat tidak suka dengan anda." Kata Reyhan


"Kamu sudah punya rencana Rey?" Tanya Kenzo sambil menoleh menatap Reyhan.


"Sudah, Tuan. Tapi, saya perlu mendiskusikan hal ini dengan anda terlebih dahulu. Saya tidak mau jika rencana ini nanti akan mempengaruhi hubungan kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan pak Bisma." Kata Reyhan.


Kenzo mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia setuju dengan pemikiran Reyhan. Dia juga tidak mau jika hal itu sampai terjadi dan berakibat buruk bagi perusahaannya.


Sementara di rumah Kenzo, Fida sudah menyelesaikan masakannya. Dia membuat nasi goreng sosis dengan telur gulung isi daging ayam. Fida juga sudah membuatkan susu untuk Vanya. 


Setelah selesai menyiapkan sarapannya di atas meja makan, Fida mengambil ponselnya untuk menghubungi Vanya. Dia enggan membangunkan Vanya ke dalam kamarnya. Jadi, dia lebih memilih menghubungi sang sahabat untuk membangunkannya.


Tuut tuut tuuuuuuttt


Berkali-kali Fida menghubungi Vanya namun tetap tidak ada jawaban. Fida yakin jika Vanya masih tidur. Dia berusaha untuk menghubungi Vanya kembali. Beruntung bagi Fida, karena pada panggilan ke delapan teleponnya diangkat oleh Vanya.


"Ada apa sih Fid? Masih pagi kenapa berisik sekali sih." Gerutu Vanya dengan suara mengantuk.


"Hheeehh, pagi apanya. Lihat jam neng. Sekarang sudah jam delapan. Cepat bangun dan mandi. Jika tidak segera bangun, maka aku pastikan akan menghubungi suami kamu agar kembali dari kantor dan akan mengurungmu seharian di dalam kamar." Ancam Fida.


Dan, benar saja. Ancaman Fida sangat manjur. Vanya segera menutup panggilan teleponnya dan segera beranjak menuju kamar mandi dengan pelan-pelan. Dia masih merasakan remuk di sekujur tubuhnya.


Tak beberapa lama kemudian, Vanya terlihat menuruni tangga sambil berpegangan pada pegangan tangga. Fida yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia beranjak berdiri dan berjalan menuju arah Vanya. Fida membantu Vanya berjalan menuju meja makan.


"Kamu ini sudah menikah selama beberapa bulan tapi masih saja bertingkah seperti pengantin baru saja." Kata Fida setelah mendudukkan diri di samping Vanya.


Vanya mendengus kesal mendengar perkataan Fida.


Fida mencebikkan bibirnya sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Setelah mengunyah dan menelannya, Fida kembali berbicara kepada Vanya.


"Memangnya sekuat itu ya, laki-laki bule?" Tanya Fida.


Vanya mengedikkan bahunya.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Aku kan hanya pernah melakukannya dengan suamiku." Jawab Vanya.


"Hhhmm, aku jadi penasaran." Kata Fida menerawang. 


Sontak saja Vanya langsung menatapnya dengan tajam.


"Apa maksudmu penasaran? Kamu mau macam-macam dengan suamiku?" Ketus Vanya.


"Idiihhh ogah. Suami kamu itu nyeremin. Ngobrol biasa saja bisa mengintimidasi begitu, apalagi saat serius. Hhiiiyyy, takut lah." Jawab Fida.


"Lalu, apa maksudmu dengan penasaran tadi?"


"Ya, itu tadi. Jika suami kamu yang bule bisa seganas itu, bagaimana dengan suamiku nanti." Jawab Fida.


Seketika Vanya menoleh menatap wajah Fida. Dia mengerutkan keningnya bingung.


"Apa maksudnya? Kamu sudah menemukan calon suami?" Tanya Vanya.


"Yyyeee, bukan lah. Aku juga belum menemukan orang yang mau membantuku untuk pura-pura jadi pacar." Jawab Fida sedih.


Vanya yang melihat perubahan ekspresi pada wajah Fida merasa kasihan. 


"Tenanglah, aku akan berusaha membantu kamu untuk mencari pacar bohongan. Siapa tahu dia bisa menjadi pacar dan suami sungguhan." Kata Vanya sambil tersenyum.


Fida menoleh menatap wajah Vanya yang tengah tersenyum bahagia.  Dia belum menemukan petunjuk tentang rencana Vanya saat itu.


"Kenapa kamu bisa sangat yakin akan menemukan laki-laki itu Van? Sementara aku yakin suami kamu tidak akan mengizinkan kamu mencari sendiri laki-laki yang mau menjadi pacar bohonganku." Tanya Fida.


"Oh, aku tidak mencari lagi. Aku bahkan sudah menemukannya." Jawab Vanya dengan penuh semangat.


Fida yang mendengar hal itu langsung melongo.


"Hhaahh? Secepat itu? Jangan bilang kamu mengajukan suami kamu Van?" Tanya Fida ngeri.


Vanya mendengus kesal mendengarnya.


"Enak saja! Tentu saja bukan. Aku tidak bakal mau berbagi suami ya." Ketus Vanya.


Fida terlihat menghembuskan napasnya lega.


"Lalu, siapa laki-laki itu?" Tanya Fida penasaran.


Vanya tersenyum hangat sebelum menjawab pertanyaan Fida.


"Reyhan."


"Apaa?!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote, biar othor semangat up setiap hari


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, silahkan follow ig othor @keenandra_winda


Thank you