
Daddy El dan mommy Fara langsung pulang setelah acara makan siang hari itu. Mereka juga memberikan beberapa saran untuk Cassandra agar mengurungkan niatnya. Cassandra cukup sadar diri. Dia menerima saran dari daddy El dan juga mommy Fara dengan lapang dada.
Dalam perjalanan, daddy El sempat melirik mommy Fara sang sejak tadi hanya terlihat diam saja.
"Ada apa, Yang?" tanya daddy El sambil menoleh sekilas ke arah mommy Fara.
"Ehm, aku hanya bingung, Mas."
"Bingung kenapa?"
"Kenapa Cassandra bisa langsung tertarik pada Om Ken? Padahal, kita tahu usianya sudah tidak muda lagi. Ya, meskipun beliau masih terlihat sangat bugar."
Daddy El tidak langsung menjawab pertanyaan mommy Fara. Namun, beberapa saat kemudian, dia menolehkan kepalanya sambil tersenyum.
"Sayang, kita tidak bisa mengatur hati seseorang. Kita tidak bisa memaksa atau melarang seseorang untuk suka atau membenci orang lain. Semua itu kembali ke diri pribadi orang tersebut."
"Untuk kasus Cassandra, aku tidak tahu pasti alasannya apa. Setahuku, dulu saat kita masih sama-sama kuliah di US, dia sangat tertarik dengan salah satu dosen kami."
"Beliau adalah Mr. Jackson. Meskipun usia beliau saat itu sudah tidak muda lagi, namun kharisma beliau sangat besar. Beliau benar-benar sosok dosen yang sangat bisa mengayomi dan menjadi pendengar yang baik untuk para mahasiswanya. Mungkin, hal itu salah satu alasan Cassandra menyukai Mr. Jackson."
"Eh, benarkah?" Tanya mommy Fara memastikan.
"Iya. Cassandra sendiri waktu itu sang bilang kepadaku. Selain itu, dia juga melihat hidup Mr. Jackson sangat sempurna. Bisa jadi hal itu juga yang membuat Cassandra menyukai Om Ken."
Mommy Fara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Mungkin memang begitu, Mas. Ada beberapa orang yang memang melihat hidup orang lain terlihat sempurna. Padahal, mereka tidak tahu apa yang sudah dialami orang tersebut untuk sampai di titik tersebut. Kesulitan apa yang dihadapinya, bahkan sampai kehilangan apa saja yang dialaminya. Beberapa diantara mereka hanya melihat hasil akhir tanpa tahu prosesnya."
Daddy El mengangguk mengiyakan perkataan mommy Fara.
Obrolan mereka berlanjut hingga mobil yang dikendarai daddy El memasuki halaman rumah. Kening mereka berkerut saat melihat sebuah motor besar terparkir di depan rumah.
"Motor siapa, Mas?" tanya mommy Fara sambil menoleh ke arah daddy El.
"Kalau dilihat dari jenisnya, sepertinya motor Zee. Tapi, entahlah. Siapa tau itu temannya Cello."
Namun, tebakan daddy El terbukti setelah melihat seseorang tengah bermain-main dengan kedua cucunya.
"Sudah lama, Zee?" tanya daddy El sambil berjalan mendekati sang sahabat.
"Barusan, kok. Kalian dari mana? Tumben barengan."
"Oh, ini tadi dari makan siang di luar. Sudah makan?" tanya daddy El.
"Sudah, kok. Tadi mampir dulu di tempat Kiara sebelum ke sini."
Daddy El mencebikkan bibirnya. Dia sudah bisa menduga makan siang jenis apa yang dimaksud oleh Zee. Daddy El bisa melihat dengan jelas banyak sekali tanda stempel alami pada leher Zee. Daddy El bisa memastikan jika stempel tersebut memang baru dibuat.
"Ccckkk, makan siang itu yang memang benar-benar mengisi perut kamu, Zee. Jangan yang hanya mengisi perut Kiara."
"Eh, maksudnya hanya mengisi perut Kiara apa?" Tanya Zee dengan tatapan polosnya.
Ya kali gen daddy Vanno bisa polos begitu 🤧🤧
Jangan lupa, mampir di cerita othor yang lainnya ya. Setelah ini end, cerita baru akan up 🤗