The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 17



Malam itu, pertama kali bagi Cello makan malam sebagai menantu di rumah kakek Shanum. Dia bergabung dengan keluarga Shanum yang masih berada di sana, meski kakek dan nenek Shanum tidak ikut karena harus beristirahat. Ada papa Bian, mama Revina, Rean, bibi Nur, dan juga Keyla, cucu bibi Nur yang seumuran dengan Shanum.


Cello yang memang memiliki sifat yang cukup introvert, hanya menjawab beberapa pertanyaan yang memang ditujukan kepadanya. Dia terlihat sangat kesulitan untuk memulai pembicaraan, apalagi bagi Cello, saat itu adalah pertama kalinya dia bertemu dengan keluarga Shanum.


"Nak Cello, setelah ini kalian akan tinggal dimana?" Tanya nenek Nur, salah satu bibi papa Bian yang berasal dari Surabaya. Tatapan matanya sedari tadi tak lepas dari wajah Cello.


"Ehm, kami sudah sepakat akan tinggal sementara di rumah daddy, Nek. Tapi nanti, kami berencana untuk tinggal di rumah sendiri." Jawab Cello.


"Baguslah jika begitu. Harusnya kalian memang memiliki rumah sendiri. Kalian kan orang kaya, masa tidak bisa membeli rumah untuk putra satu-satunya." Kata Nenek Nur. Tatapan matanya seolah mengatakan jika Cello seharusnya membelikan rumah untuk Shanum.


Mama Revina yang mendengar perkataan nenek Nur langsung mendelik tajam.


"Dimanapun Cello dan Shanum tinggal, sepertinya itu bukan menjadi urusan Bibi." Kata mama Revina.


"Ccckkk, aku kan hanya memberitahu. Memang sudah seharusnya suami itu memberikan nafkah untuk istrinya, termasuk tempat tinggal dan juga fasilitas yang bagus. Apa gunanya menikah dengan cucu orang kaya jika tidak mendapatkan apa-apa." Cibir bibi Nur.


Mendengar perkataan sang bibi, baik Revina maupun Bian terlihat menahan emosi. Revina terlihat ingin membalas ucapan sang bibi, namun Bian segera menghentikan niatnya. Bian memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya. Mama Revina hanya mendengus kesal melihat suaminya yang tengah menggengkan kepalanya.


"Kami tidak memiliki niatan menjodohkan Shanum dengan Cello hanya untuk mendapatkan seperti apa yang Bibi katakan tadi. Kami punya alasan sendiri melakukannya. Kami bukan seperti Bibi yang menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki yang pantas disebut sebagai kakeknya." Kali ini Bian yang menjawab perkataan sang bibi. Dia mengatakan hal itu sambil memotong daging yang berada di piringnya dengan santainya. Bahkan, Bian sama sekali tidak menatap ke arah sang bibi.


"Dasar tidak punya santun! Kamu itu seharusnya memberikan contoh yang baik di depan anak-anakmu bagaimana cara menghormati orang tua! Bukannya malah berkata tidak sopan seperti itu!" Kata bibi Nur penuh emosi. Kedua bola matanya membesar seolah hendak lepas dari tempatnya.


Bukanya takut, Bian dan Revina justru menanggapi perkataan bibi Nur tersebut dengan santainya. Mereka bahkan dengan tenang menyendokkan makanan dan menyuapkannya ke dalam mulut seolah tidak mendengar perkataan apapun. Namun, hal berbeda justru diperlihatkan oleh Rean, adik Shanum.


"Awas! Hati-hati nanti matanya keluar, Nek. Disini ada banyak kucing lho. Kasihan nanti jika matanya lepas dan menggelinding bisa dijadikan mainan kucing." Kata Rean dengan santainya.


Mendengar perkataan Rean, emosi bibi Nur semakin memuncak. Dia menatap tajam ke arah Rean.


"Kamu kira mataku kelereng?!" Bentak bibi Nur. "Dasar, kecil-kecil sudah punya bakat tidak sopan kepada orang tuanya!"


"Ciieeee, yang merasa matanya seperti kelereng. Padahal aku tidak bilang lho, Nek."


••


Jangan lupa vote, like dan komen buat othor ya.