The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 125



Jadwal kuliah Rean hari itu hingga jam ketiga. Pada jam kedua, Rean sudah duduk manis di deretan meja paling depan tepat di depan meja dosen. Bisa ditebak mengapa dia memilih duduk di tempat tersebut? Ya, karena jam kedua adalah jadwal kelasnya miss Dena. Rean selalu antusias mengikuti kelas dosen favoritnya tersebut.


"Selamat pagi semuanya," sapa miss Dena begitu memulai perkuliahannya hari itu. "Saya akan memeriksa kehadiran kalian semua hari ini," lanjutnya sembari memulai memeriksa kehadiran para mahasiswanya.


Sepanjang perkuliahan, Rean selalu menatap wajah miss Dena sambil senyum-senyum sendiri. Entah mengapa dia selalu suka menatap wajah dosennya tersebut lama-lama.


Miss Dena yang menyadari jika Rean tengah menatapnya langsung menoleh. Dia mengerucutkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Rean.


"Ada apa, Re? Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya miss Dena sambil menatap ke arah Rean.


"Ada Miss."


"Silahkan ajukan pertanyaannya."


"Apa yang dibutuhkan untuk mulai membangun usaha baru, Miss?" tanya Rean sambil masih menatap ke arah miss Dena.


"Yang pertama, buatlah sebuah riset dulu. Cari tahu apa saja yang paling diminati dan dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Setelah itu, kamu baru bisa mulai membuat perencanan dan mulai memikirkan langkah apa yang harus kamu ambil. Setelah itu, baru kamu bisa mulai menghitung modal yang diperlukan."


Rean mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu, saat ini apa yang paling Anda minati dan butuhkan, Miss?" tanya Rean langsung setelah mendengar penjelasan miss Dena.


"Kalau saya, saat ini sangat menginginkan…," belum sampai miss Dena menyelesaikan perkataannya, dia sudah tersadar jika saat ini Rean telah mengerjainya. Sontak saja miss Dena langsung menatap tajam ke arah Rean.


"Rean Aksa Atmaja!!!"


"Iya Miss, saya."


"Coba sedikit lebih serius jika sedang kuliah. Jangan bercanda terus kerjaannya! Kamu mau nilai mata kuliah saya D, iya?!"


"Saya sih nggak masalah jika harus mengulang lagi, Miss. Asalkan mengulangnya tetap dengan Anda. Jangankan untuk mata kuliah, untuk mengulang-ulang hal lain pun ikhlas kok, Miss." Jawab Rean sambil mengulas senyumannya.


Hhhuuuuuuuuu.


Sontak saja terdengar suara ejekan dari para teman Rean. Mereka sudah sangat hafal jika Rean sering menggoda dosennya tersebut. Maklum, selama hampir satu semester ini, setiap minggu ada saja tingkah Rean untuk membuat dosennya tersebut emosi jiwa.


Siang itu, Rean sudah menyelesaikan kuliahnya. Dia langsung beranjak menuju cafe sang kakak ipar. Seperti biasa, Rean langsung ikut turun tangan untuk membantu para karyawan jika sedang ramai. Hari itu, Cello masih berada di kampus. Rean menunggu kedatangan sang kakak ipar sambil memainkan ponselnya setelah membantu beberapa karyawan.


Namun, saat tengah mengutak-atik ponselnya, tiba-tiba terdapat sebuah panggilan telepon dari sang papa. Rean langsung buru-buru mengangkat panggilan telepon tersebut karena khawatir ada sesuatu hal yang penting.


"Hallo, Pa."


"Kamu dimana, Re?"


"Bisa kamu ke Als sekarang? Ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan."


Tanpa berpikir panjang, Rean langsung mengiyakan permintaan sang papa.


"Iya Pa, bisa. Aku akan berangkat sekarang." Jawab Rean. Setelahnya, dia segera mengirimkan pesan kepada Cello jika dia harus pergi ke kantor papanya. 


Tak butuh waktu lama bagi Rean untuk sampai di kantor Als. Dia langsung memarkirkan motornya dan segera beranjak menuju resepsionis. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar sebuah suara memanggilnya.


"Re!"


Seketika Rean menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang laki-laki yang lumayan dikenalnya berjalan ke arah Rean. Senyuman hangat juga tersemat di bibirnya saat berjalan menghampiri Rean.


"Kak Sean? Kapan balik ke Jakarta?" tanya Rean begitu laki-laki tersebut berada di depan Rean.


"Sudah sejak seminggu yang lalu. Mau ketemu om Bian?"


"Iya, Kak."


"Ya sudah, langsung naik saja. Om Bian sudah selesai meeting, kok."


Rean langsung mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia langsung beranjak menuju ruangan sang papa. Begitu sampai di depan pintu ruangan tersebut, Rean langsung mengetuknya. Terdengar suara jawaban dari dalam untuk mempersilahkan Rean masuk.


Ceklek.


Begitu memasuki ruangan, Rean cukup terkejut saat melihat seseorang yang tengah berada di dalamnya.


"Om Hendra?!"


Nah lho, nah lho.



Miss Dena



Rean yang super bandel.


Jangan lupa tinggalkan vote, like dan komen ya.


othor sudah up 3 bab lho 🤧