The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 76



Pembicaraan absurd tersebut benar-benar membuat Rean kesal. Mamanya itu selalu membuatnya tidak bisa berkutik.


Hari itu juga, diputuskan papa Bian akan membantu Rean untuk mengambil alih lokasi yang berada di samping distronya tersebut. Menurut papa Bian, sayang sekali jika lokasi strategis tersebut tidak diambil. Rean bisa membuat rumah sekaligus tempat usaha yang lainnya. Bahkan jika Rean mau, dia juga bisa membuat kos-kosan. Lokasi yang dekat dengan pusat pendidikan akan sangat menguntungkan baginya untuk membuat kos-kosan.


Malam itu, Rean dan papa Bian jalan-jalan mengelilingi kota Bandung. Hingga mereka berhenti di sebuah cafe tak jauh dari lokasi distro Rean.


"Kamu segera minta Arya untuk membuat janji temu dengan pemilik lokasi tersebut, Re. Nanti Papa temani."


"Iya, Pa. Nanti aku akan hubungi Bang Arya. Papa dan Mama masih lama fi Bandung?"


"Besok weekend, Re. Mama kamu ngajak jalan-jalan. Mungkin lusa kami kembali ke Jakarta," ucap papa Bian sambil menyeruput kopinya.


Rean mengangguk mengiyakan. Setelah itu, Rean segera menghubungi Bang Arya untuk membuat janji bertemu dengan pemilik lokasi. Tak berapa lama kemudian, sudah ada balasan dari Bang Arya. Dia memberitahukan jika pemilik ingin bertemu esok hari saat makan siang. Rean pun mengiyakan permintaan tersebut.


Malam itu, Rean dan papa Bian segera kembali ke hotel. Mereka cukup lelah dan ingin segera beristirahat.


Sementara di sebuah hotel di Jakarta, seorang perempuan tengah menatap langit dari balkon kamar hotelnya. Dia tampak gelisah. Entah apa yang membuat hatinya tidak tenang seperti kemarin. 


Ditangannya, dia masih memegang ponsel yang memang dalam keadaan off. Perempuan tersebut belum mengaktifkan kembali ponselnya sejak kemarin.


Tadi pagi, Dena sempat menghubungi Kinan dan meminta untuk menemuinya di hotel. Kinan menceramahi Dena panjang lebar. Kinan yang sudah hafal dengan sifat Dena yang selalu pergi untuk menenangkan diri jika ada masalah, menjadi semakin kesal karena dia masih melakukannya.


"Kamu itu sudah menikah, Den. Jangan dibiasakan untuk pergi dari rumah. Apapun masalahnya, bicarakan semuanya dengan suami kamu. Meskipun kalian harus bertengkar dan beradu argumen, itu jauh lebih baik dari pada pergi meninggalkan rumah seperti ini."


"Kalau kamu masih seperti ini, bukankah kamu jadi seperti anak kecil yang menghindari masalah? Den, masalah tidak akan selesai jika kamu lari seperti ini. Seharusnya, kamu bicarakan dulu baik-baik dengan Rean. Bukankah kamu bilang, Rean belum menjelaskan apa-apa, kan?"


"Tapi aku sudah terlanjur kecewa, Kin. Aku sedang diklat dan tidak ada di rumah, Rean malah mengajak perempuan ke apartemen. Dan, dia juga tidak jujur kepadaku jika sudah ada di Jakarta. Kami cukup intens berkomunikasi, Kin. Tapi, dia sama sekali tidak memberitahuku jika sudah berada di Jakarta." Dena masih kekeh dengan pendapatnya.


"Aku yakin Rean punya alasan melakukan itu semua. Kamu belum memdengar penjelasannya, kan? Sebaiknya, tanyakan dulu alasan Rean melakukan hal itu. Coba bicarakan ini dulu baik-baik. Dan ingat, saat ini kalian sudah menikah. Kedepannya, jangan terus-terusan memelihara ego masing-masing saja. Coba sesekali kamu juga jadi pendengar, dengarkan dulu semua penjelasan Rean sampai selesai. Baru setelah itu, kamu bisa memberikan komentar."


Dena masih terngiang-ngiang dengan perkataan Kinan tadi pagi. Setelah dipikir-pikir, ada benarnya apa yang Kinan sampaikan. Selama ini, dia memang sudah terbiasa melakukan hal seperti ini jika berselisih paham dengan siapa saja. Bahkan, jika dia berselisih paham dengan orang tuanya sekalipun.


Namun, kedua orang tuanya mengertikan kondisinya. Setelah Dena pikir, mungkin kedua orang tuanya melakukan hal itu karena Dena putrinya. Jadi, mereka masih memberi waktu untuknya menenangkan diri asal mereka tahu jika Dena baik-baik saja.


Akan tetapi, sekarang kondisinya berbeda. Dia sudah menikah. Dan, Rean belum mengenalnya dengan baik. Bagaimana jika Rean tidak bisa mengertikannya? Apakah Rean akan menuntut perpisahan? Masa iya dia sudah menjadi janda tapi masih pera*wan?"