
Cello segera beranjak menuju kamar mandi setelah kedua orang tuanya meninggalkan kamar. Dia ingin beristirahat malam itu tanpa memikirkan tentang rencana pernikahannya.
•••
Beberapa hari berlalu setelah kedatangan opa dan oma Cello, mereka sudah tinggal kembali di rumahnya sendiri. Meskipun rumah mereka masih berada di komplek perumahan yang sama, hanya berbeda blok.
Hari yang ditunggu oleh Shanum pun tiba. Hari ini adalah wisuda sekolah menengah atas Shanum. Bian, Revina dan putra kedua mereka, Rean, juga turut hadir dalam acara wisuda tersebut. Shanum terlihat sangat anggun saat memakai kebaya berwarna pink tersebut. Rambut yang disanggul kecil dengan beberapa anak rambut yang sengaja dibiarkan terlihat sangat pas dengan wajahnya.
Siang itu, setelah acara wisuda, Shanum dan keluarganya mengadakan makan siang bersama di sebuah restoran tak jauh dari sekolah Shanum. Rupanya kakek dan neneknya juga sudah berada di sana.
"Kapan rencana kalian akan bertemu orang tua Cello, Rev?" tanya sang Fida, nenek Shanum.
"Belum tahu, Ma. Kami belum merencanakannya lagi. Kemungkinan lusa aku akan menelepon mommynya Cello."
"Bagus, semakin cepat semakin baik. Jadi, tidak perlu menunggu lebih lama lagi pernikahan mereka akan bisa dilaksanakan."
"Iya, Ma. Aku maunya juga begitu."
Shanum yang mendengar hal itu hanya bisa mengerutkan keningnya. Dia bingung apakah pernikahannya akan digelar dengan mewah? Mengingat keluarga Cello adalah keluarga cukup terpandang dengan relasi bisnis dimana-mana.
"Ehm, apakah pernikahan ini nanti akan digelar dengan mewah, Ma?" tanya Shanum kepada sang mama.
Revina menoleh untuk menatap wajah sang putri. Senyum terbit pada bibirnya saat melakukannya.
"Kenapa, Sayang? Kamu tidak ingin jika pesta pernikahan kamu dibuat meriah?" tanya Revina.
"Ehm, bukan tidak ingin, Ma. Hanya saja, aku kan baru lulus SMA. Sebentar lagi aku juga harus menjalani masa-masa orientasi di kampus. Aku hanya tidak mau orang-orang berpikir yang tidak-tidak tentang pernikahanku," jawab Revina.
Para orang tua yang berada di sana seketik memikirkan tentang hal itu. Benar. Mereka tidak memikirkan hal itu sebelumnya.
"Aku kira apa yang dikatakan Shanum benar, Sayang. Kita juga tidak mau jika nanti orang-orang beranggapan buruk tentang pernikahan Shanum. Kita harus membicarakan ini dengan orang tua Cello," kata Bian, papa Shanum.
Revina hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia kembali menatap wajah sang putri.
"Lalu, apa yang kamu inginkan, Sayang?" tanya Revina.
"Ehm, aku mau yang sederhana saja, Ma. Yang penting sah dan sakral. Kita bisa mengundang keluarga dan kerabat terdekat. Untuk acara resepsi pernikahan, kita bisa melakukannya nanti jika kondisi sudah memungkinkan."
"Benar. Nenek rasa itu ide yang bagus. Nenek juga akan membicarakannya dengan oma nya Cello."
Setelah itu, makan siang kembali dilanjutkan dengan diselingi obrolan ringan lainnya.
•••
"Assalamualaikum, Mom, Oma."
Dua orang yang tengah ngobrol tersebut seketika menoleh dan menjawab salam Cello bersamaan. Setelahnya, Cello langsung mendudukkan diri di samping mommynya dan merebahkan kepalanya di pangkuan mommy Fara. Wajah Cello langsung ndusel pada perut sang mommy.
"Aiisshhh, ini anak masih saja manja. Sudah mau nikah juga dikurang-kurangin itu nempel mommy kamu, Cell," kata oma Vanya.
"Biarin, aku kan memang anak mommy."
"Ccckkk, ini anak sama persis dengan bapaknya," gerutu oma Vanya.
Sementara Fara hanya bisa tersenyum sambil mengusap-usap kepala Cello.
"Sudah makan siang?" tanya mommy Fara sambil masih mengusap-usap kepala Cello.
"Hhhmm,"
"Ya sudah, mandi dulu gih. Banyak kumannya ini pasti."
"Nanti ah, Mom. Masih capek."
"Istirahatnya nanti setelah bersih-bersih," bujuk mommy Fara.
Belum sempat Cello menjawab perkataan mommy Fara, terdengar suara dari belakang mereka.
"Cckkk, ini anak sudah bangkotan masih saja mau nyusu."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukung cerita ini dengan klik like, komen dan vote ya. Biar othor semangat upnya. Scroll 👇