
Kedua bola mata Kinan langsung membulat saat melihat siapa tamu yang baru saja datang.
"Lho, Om?"
Kinan cukup terkejut saat melihat Adrian sudah berada di depan pintu rumahnya. Dia juga masih memakai pakaian formal. Terlihat sekali dia baru saja selesai meeting seperti ucapannya semalam yang akan melakukan meeting pagi ini.
Adrian masih berdiri di depan pintu rumah Kinan dengan ekspresi datar.
"Kenapa Om ada disini?" tanya Kinan. Entah sadar atau tidak, Kinan belum mempersilahkan Adrian masuk. Mereka masih berdiri berhadap-hadapan di depan pintu.
Kedua alis Adrian terangkat. Dia masih menatap wajah Kinan sambil melepas kancing jasnya.
"Bukankah semalam kamu mengundangku untuk makan siang?" tanya Adrian dengan polosnya.
Kinan langsung mengerucutkan bibir dan mendengus kesal.
"Iya, benar. Tapi, tidak sekarang juga, Om. Astaga! Aku bahkan belum selesai memasak." Kinan memutar kedua bola matanya.
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu."
Kinan hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Mau tidak mau, dia segera mempersilahkan Adrian memasuki rumahnya.
Adrian langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu seperti yang dipersilahkan oleh Kinan. Dia masih mengedarkan pandangannya ke rumah sederhana yang ditempati oleh perempuan tersebut.
Kinan berjalan menuju dapur untuk mengambilkan air minum buat Adrian. Kinan bisa melihat jika Adrian cukup kelelahan. Tak berapa lama kemudian, Kinan sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas jus jeruk dingin.
"Silahkan, Om." Kinan meletakkan gelas jus jeruk tersebut di depan Adrian.
"Terima kasih," ucap Adrian sambil langsung mengambil jus jeruk tersebut dan menenggaknya hingga tandas.
Kinan memperhatikannya dengan kening berkerut. Rupanya, memang benar Adrian cukup kehausan.
"Nggak usah. Sudah cukup."
Kinan segera mengangguk. Setelahnya, dia mengambil gelas kosong tersebut dan berniat membawanya kembali menuju dapur.
"Kalau begitu, aku tinggal ke dapur untuk melanjutkan masak, Om."
Adrian hanya mengangguk sambil melepaskan jasnya. Dia berniat ingin istirahat sambil memeriksa email yang sudah masuk.
Setelah itu, Kinan kembali melanjutkan acara memasaknya. Beruntung saat itu dia sudah membuat bumbu dan tinggal memasukkan masakannya. Kinan juga mulai menggoreng bakwan jagung yang sudah dibumbui sejak tadi.
Lima belas menit berselang, Adrian terlihat bosan. Dia mengedarkan pandangan kembali ke seluruh bagian rumah. Adrian hanya mendengar suara minyak goreng yang meletup-letup dari arah dapur.
Setelah meletakkan ponselnya, Adrian beranjak berdiri. Dia melipat kedua lengan kemeja putihnya hingga sebatas siku. Setelahnya, Adrian berjalan memasuki rumah kinan lebih dalam lagi. Langkah kakinya membawa Adrian menuju dapur.
Adrian bisa melihat Kinan tengah berdiri membelakanginya dan menghadap ke arah kompor. Rupanya, Kinan sedang menyelesaikan aktivitas memasaknya.
Adrian berjalan mendekati Kinan. Dia melongokkan kepala melalui bahu Kinan. Postur tubuh Kinan yang seratus tujuh puluh satu sentimeter, masih kalah tinggi dibandingkan Adrian yang memiliki tinggi badan seratus delapan puluh tiga sentimeter.
"Masak apa?" tanya Adrian tepat di samping telinga Kinan.
Sontak saja hal tersebut membuat Kinan langsung terlonjak kaget. Karena gerakan tiba-tiba Kinan yang terlonjak kaget dan bergerak ke belakang, membuat Kinan menabrak dada bidang Adrian dengan cepat.
Adrian yang tidak siap dengan reaksi Kinan, tidak sempat menjaga keseimbangan tubuhnya. Alhasil, dia ikut bergeser ke belakang dan punggungnya langsung membentur mini bar yang ada di dapur.
Kinan yang hendak merosot jatuh, langsung mendapat pelukan dari belakang. Tangan Adrian menelusup pada bagian depan tubuh Kinan melewati bawah ketiakknya. Dan alhasil, Adrian langsung berpegangan pada, ah sudahlah.
\=\=\=
Hayo, si Om berpegangan pada apa nih?