The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 34



Setelah mengambil SKL, mereka bertiga segera berjalan menuju tempat parkir. Shanum mengambil sepeda motornya dan diikuti oleh Megan. Ya, Megan, teman sekelas Shanum saat itu akan nebeng dengannya. Sementara Destia, teman Shanum yang satunya, harus menjemput salah satu temannya lagi.


"Nanti ikutin Destia dulu ya. Jemput temen gue sebentar." Kata Megan saat hendak naik ke boncengan Shanum.


"Jauh nggak?"


"Enggak, kok. Belok di dekat minimarket dekat jembatan itu. Mungkin sekitar lima ratus meter rumahnya." Jawab Megan.


Shanum hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia segera menjalankan motornya mengikuti sepeda motor yang Destia.


"Lo beneran suka dengan Cello?" Tanya Megan tiba-tiba.


"Eh, kenapa bertanya begitu?" Tanya Shanum sambil menolehkan wajahnya ke samping.


"Ya, sejak kelas tujuh gue lihat lo selalu heboh jika lihat Cello dan teman-temannya main basket."


"Ya, suka aja lihat mereka main basket. Kaya mereka bisa bicara dengan timnya hanya lewat tatapan mata." Jawab Shanum sambil mengulas senyumnya.


"Ya, mereka sudah punya chemistry, sih. Main mereka juga bagus. Jika tidak, mana mungkin tim basket kita selalu nangkring jadi juara semenjak tiga tahun berturut-turut."


Shanum mengangguk mengiyakan. Dia setuju dengan perkataan Megan. Memang, tim basket sekolah mereka selalu menjuarai pertandingan setingkat SMP yang diadakan. Shanum juga mengakui jika mereka semua sudah terlihat sangat kompak sekali. Hanya saja, saat SMA mereka tidak satu sekolah. Jadi, kekompakan mereka di lapangan tidak bisa disaksikan lagi.


Shanum dan Cello sebenarnya selalu sekolah di tempat yang sama sejak sekolah dasar hingga saat ini. Mereka sebenarnya juga sudah saling mengenal. Hanya saja, mereka tidak terlalu dekat. Mengingat Cello yang lebih menjaga jarak dengan perempuan.


Shanum memang selalu bersemangat saat melihat Cello dan timnya sedang latihan basket atau pun mengadakan pertandingan. Hampir setiap saat Shanum tidak pernah absen untuk melihat. Bagi Shanum, sangat menyenangkan sekali saat melihat para pemain bermandikan peluh sambil menggiring bola dan memasukkannya ke dalam ring. Rambut basah para pemain dan kaos basah karena keringat membuat Shanum selalu bersemangat.


Shanum menyunggingkan senyumannya saat teringat hal tersebut. Dia bahkan tidak terlalu berkonsentrasi terhadap jalanan yang ada di depannya.


"Oh, iya."


Setelahnya, Shanum segera membelokkan sepeda motornya mengikuti Destia yang sudah lebih dulu berbelok. Awalnya, Shanum sedikit curiga saat sepeda motor Destia memasuki sebuah gerbang rumah mewah. Namun, keningnya sedikit berkerut saat melihat tanaman yang tidak terurus dan rumput liar yang tumbuh di halaman rumah tersebut. 


"Ini rumah temen lo? Kenapa rumahnya seperti tidak berpenghuni?" Tanya Shanum saat menghentikan sepeda motornya.


"Iya. Orang tua temen gue nggak tinggal di sini, mereka sudah pindah ke Semarang." Jawab Megan.


"Lalu, temen lo tinggal disini sendirian?" Tanya Shanum penasaran.


"Iya. Tapi dia sering mengajak teman-temannya menginap disini, kok. Ayo masuk dulu." Ajak Megan kepada Shanum. Sementara Destia, sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah tersebut.


Shanum terlihat ragu untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Dia menggelengkan kepalanya sambil menoleh menatap wajah Megan.


"Nggak ah. Gue tunggu di luar." Jawab Shanum sambil menggelengkan kepalanya.


"Masuk saja sebentar, minta minum, haus nih." Kata Megan sambil masih berdiri di dekat sepeda motor Shanum.


"Gue tunggu di luar saja. Lo bisa masuk dulu." Elak Shanum sambil masih berada di atas sepeda motornya.


Melihat Shanum tak bergeming, Megan segera berbalik dan berjalan menuju teras rumah tersebut. Sementara Shanum, dia langsung mengambil ponselnya dan hendak memainkannya. Dia tidak menyadari ada seseorang yang tiba-tiba membekap mulutnya dengan sapu tangan.


"Aaarrgggghhh."


Scroll ya 👇