
Cello masih tersenyum smirk saat melihat wajah terkejut Shanum. Rupanya, menggoda sang istri akan menjadi kebiasaannya mulai hari ini.
"Iya, siapa lagi. Bukannya kamu mau menciumku tadi?" Goda Cello.
Lagi-lagi wajah Shanum tampak terkejut. Dia buru-buru menggelengkan kepalanya untuk mengelak tuduhan Cello.
"Si-siapa yang mau cium. Enak saja!" Bantah Shanum. Namun, wajahnya yang sudah memerah hingga telinga, membuat Cello semakin bersemangat untuk menggoda sang istri.
"Benarkah? Yakin tidak mau ku cium?" Goda Cello sambil mengulas senyumannya. Dia masih menatap dalam pada manik Shanum.
"I-iya lah. Jangan suka berpikir yang aneh-aneh." Kata Shanum sambil membuang muka. Entah mengapa dia merasa malu saat menatap wajah Cello. Dadanya juga sering berdebar-debar tak karuan.
"Baiklah, mari kita coba buktikan." Kata Cello. Dia masih tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke arah Shanum.
Melihat tingkah Cello, mendadak Shanum jadi sesak napas. Entah mengapa dia refleks menahan napasnya dan menutup kedua matanya saat wajah Cello mulai mendekat ke arahnya. Shanum dapat merasakan hembusan napas Cello yang menerpa wajahnya. Hangat.
Harap-harap cemas, Shanum benar-benar menunggu adanya pertemuan benda kenyal tersebut. Namun setelah beberapa saat menunggu dan napasnya sudah terasa mau habis, Shanum memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Cello yang berada sangat dekaylt dengan wajahnya. Jangan lupakan senyum mengejek yang ditampilkan pada wajah bulenya itu. Shanum benar-benar merasa ingin menampol wajah itu dengan bibirnya. Eh,
Seketika Shanum mendorong bahu Cello. Dia benar-benar merasa malu setelah berhasil dikerjai oleh Cello. Melihat Shanum yang salah tingkah, Cello kembali langsung tergelak.
"Hahaha, wajah kamu lucu sekali. Terlihat sekali ngarep mau dicium, ya?" Ledek Cello.
"Issshhh, apaan sih. Siapa juga yang mau di cium." Gerutu Shanum sambil memukul-mukulkan bantal pada bahu Cello.
"Hahaha, jika mau bilang saja. Hahaha." Suara Cello masih terdengar di sela-sela tawanya.
Cello yang menyadari ada yang tidak beres dengan Shanum, langsung menghentikan tawanya. Dia mengamati tubuh sang istri yang tengah tertutup selimut tersebut. Cello baru menyadari jika Shanum tengah menangis dengan melihat bahu Shanum yang bergetar.
Cello buru-buru menggeser tubuhnya mendekat ke arah Shanum. Dia berusaha menyibak selimut Shanum, namun ternyata tidak bisa. Shanum memegangnya dengan sangat erat.
"Hei, maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa tadi. Aku hanya bercanda." Kata Cello panik.
Shanum hanya bisa diam sambil sesenggukan. Entah mengapa tiba-tiba dia seperti itu. Ingatan tentang masa lalunya benar-benar membuatnya sesak.
Cello semakin panik saat melihat Shanum tak bergeming. Dia masih tidak bisa membuka selimut yang kini menutupi tubuh Shanum. Tanpa kehilangan akal, Cello langsung beringsut masuk ke dalam selimut tebal tersebut dari sisi satunya.
Hingga kini, Cello bisa mendekap tubuh Shanum dari belakang. Shanum cukup terkejut saat menyadari tangan kanan Cello sudah menelusup di atas perutnya. Cello mendekap erat Shanum, hingga punggungnya sudah menempel pada dada bidang Cello. Cello menarik tubuh Shanum dan mendekapnya dengan erat.
Shanum hendak melepaskan belitan tangan Cello pada perutnya, namun sama sekali tidak berhasil. Dekapan Cello benar-benar sangat erat.
"Jangan bergerak. Biarkan saja begini. Aku minta maaf jika bercandaku tadi keterlaluan. Aku tidak tahu jika hal itu bisa membuatmu merasa sedih seperti ini. Maafkan aku." Kata Cello sambil memberikan beberapa kecupan pada tengkuk Shanum.
Dan hal itu justru membuat Shanum semakin menangis.
•••
Ada apa sih dengan cerita masa lalu mereka thor?
Nanti ya, kata othor ceritanya sedikit-sedikit dulu, sabar. Kata othor orang sabar itu subur lho 🙄