
"Eh, nungguin aku? Takut aku dibawa pergi brondong ya?" tanya Kinan sambil berjalan mendekati Adrian.
Adrian yang tersadar pun langsung mendengus kesal.
"Cckkk. Memang siapa yang mau gondol perempuan seperti kamu?!"
Kinan mencebikkan bibirnya. Setelah itu, dia memberikan pukulan kecil pada bahu Adrian.
"Jangan ngomong sembarangan ya, Om. Memang aku perempuan seperti apa? Sudah bagus tawaran Om aku terima, jika tidak, aku bisa jamin Om akan kelimpungan mencari cara menghadapi orang tua Om."
Adrian enggan menanggapi ucapan Kinan. Jika diladeni, Adrian sangat yakin jika Kinan tidak akan berhenti.
"Sudah, sudah. Ayo segera masuk. Orang tuaku sudah menunggu." Adrian hendak menarik tangan Kinan namun ditahannya.
"Eh, sebentar."
Adrian berbalik dan mengernyitkan kening. "Ada apa?"
"Bagaimana penampilanku? Apa make upku sesuai?" tanya Kinan meminta pendapat Adrian.
Adrian mengernyitkan kening. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Pasalnya, dia tidak pernah mendapat pertanyaan seperti itu sebelumnya.
"Iya." Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari bibir Adrian.
Kinan mengerucutkan bibir kesal. "Kok hanya iya sih, Om. Jawab dengan benar kenapa, ih."
"Benar." Lagi-lagi Adrian berhasil membuat Kinan kesal.
"Iihh, aku bilang jawab dengan seharusnya, Om."
"Sudah, sudah. Semua pas. Kamu puas?!" jawab Adrian sambil menarik tangan Kinan. Dia tidak menoleh lagi jika tidak ingin mendapatkan pertanyaan aneh dari Kinan.
"Cckkk. Nggak ikhlas sekali jawabnya." Kinan mencebikkan bibir sambil mengekori langkah kaki Adrian.
Begitu mereka sudah sampai di depan, Adrian menanyakan kepada petugas tempat kedua orang tuanya menunggu. Pasalnya, Adrian sudah mendapatkan pesan jika orang tuanya baru saja tiba.
Setelah mendapatkan informasi, Adrian dan Kinan langsung menuju private room yang ada di lantai dua. Hal itu membuat jantung Kinan mulai berdetak tak karuan.
"Om, kenapa aku jadi deg deg an begini, ya?" gumam Kinan sambil refleks menempelkan tubuhnya.
"Iya, tapi rasanya jadi beda jika Papa Om juga ikut serta."
"Tenang saja, Papa jauh lebih santai daripada Mama."
Kinan hanya bisa mendesahkan napas berat. Dia berusaha mengatur degup jantungnya yang berdetak tak karuan.
Kini, Kinan dan Adrian sudah berdiri di depan pintu private room. Namun, saat Adrian hendak membuka pintu ruangan tersebut, Kinan mencegahnya. Adrian menoleh dan menatap Kinan dengan kening berkerut.
"Ada apa?"
"Aku gugup, Om. Kenapa rasanya seperti mau bertemu calon mertua, ya?" ucap Kinan sambil memegangi dadanya.
"Sudah, nggak usah gugup. Ada aku."
Setelah menghela napas dalam-dalam, akhirnya Kinan membiarkan Adrian membuka pintu tersebut.
Ceklek.
Adrian membuka lebar-lebar pintu itu dan mengajak Kinan masuk. Terlihat orang tua Adrian tengah tersenyum hangat menyambut kedatangan mereka.
Kinan cukup terkejut saat mendapati sambutan hangat tersebut. Dia mengikuti langkah kaki Adrian mendekati kursi yang sudah disediakan.
"Ah, kalian sudah datang," ucap mama Adrian.
"Selamat malam Tante, Om." Kinan menyapa mereka sambil menundukkan kepala.
"Malam Pa, Ma." Kini giliran Adrian yang bersuara.
"Hhhmmm." Papa Adrian hanya menjawab dengan gumaman. Netranya masih menatap tangan Adrian yang masih menggenggam erat tangan Kinan.
Papa Adrian menoleh ke arah sang istri. "Ma, anak kamu ternyata posesif sekali. Disini kan hanya ada kita, kenapa dia genggam tangan kekasihnya erat begitu, dikira Papa mau menikung calon istrinya apa?"
"Eh, i-ini…,"
\=\=\=\=
Kasih jejak yang banyak ya, biar othor semakin semangat.