The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Musim - 2 End



El begitu terkejut setelah mendengar perkataan Zee. Bukanya mengejar Revina, El justru memaksa Zee untuk menjelaskan semuanya. El mengatakan jika Revina pasti akan baik-baik saja. El juga mengatakan, jika Revina sedang sedih, dia pasti akan pergi kerumah neneknya.


Setelah berhasil meyakinkan Zee jika Revina baik-baik saja, El terus mendesak Zee agar menjelaskan apa maksud dari perkataannya. Dan, disinilah mereka sekarang berada. Zee dan El berada di depan rumah Zee. Sejak tadi, El memaksa ingin bertemu dengan istri Zee.


Setelah memarkirkan sepeda motornya, mereka segera berjalan menuju pintu utama rumah Zee. Zee segera membuka pintu dan mempersilahkan El untuk segera masuk.


"Dimana istri lo?" Tanya El sambil mendudukkan diri di sofa yang berada di ruang tengah rumah Zee.


Zee mengedarkan pandangan dan tidak menemukan siapa-siapa di rumah. Zee menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan El.


"Sepertinya belum pulang. Tadi pagi dia ikut mama ke yayasan." Jawab Zee. "Tunggu sebentar, gue ganti baju dulu." Lanjut Zee sambil beranjak menuju kamar tidurnya yang berada di lantai dua rumah mereka.


El mengedarkan pandangannya ke beberapa bagian rumah Zee. Rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Cukuplah untuk keluarga kecil Zee dan istrinya.


Ini merupakan kali pertama bagi El berkunjung ke rumah Zee. Pasalnya, dia biasanya berkunjung ke rumah orang tuanya yang berjarak dua rumah dari rumah Zee. Ya, Zee memang tinggal di satu kompleks dengan rumah mommy dan daddynya yang berarti juga berada pada kompleks yang sama dengan rumah papa dan mamanya.


Tak berapa lama kemudian, Zee terlihat sudah turun dan berjalan menuju dapur. Dia menoleh menatap El yang tengah memainkan ponselnya.


"Mau minum apa?" Tanya Zee.


"Apa aja boleh, yang penting dingin. Siang-siang gini enak yang seger-seger."


"Oke."


Zee segera menuangkan jus jeruk yang memang selalu ada di lemari pendingin. Entah mengapa keluarga Geraldy itu selalu suka dengan jus jeruk. Setelah siap, dia segera membawa jus jeruk tersebut ke ruang tengah. Saat meletakkan gelas di atas meja, terdengar suara pintu depan terbuka. Zee dan El langsung menoleh menatap ke arah pintu. Letak ruang tengah dan ruang tamu yang hanya tersekat oleh partisi yang terbuat dari kayu memungkinkan mereka untuk mengetahui siapa orang yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Zee dan El bersamaan. 


Seketika Zee berjalan menghampiri perempuan tersebut. Ya, perempuan yang baru saja datang tersebut adalah Kiara, atau biasa dipanggil Kia. Dia adalah istri Zee yang sudah sekitar satu bulan ini dinikahinya.


Kia yang sedang membawa barang belanjaan, segera meletakkannya dan langsung meraih tangan sang suami untuk dikecupnya. 


"Dari mana?" Tanya Zee setelah Kia melepaskan tangannya.


"Dari yayasan sama mama, Mas. Setelah itu belanja ini." Jawab Kia sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa tidak mengirim pesan? Ku sudah bilang tadi akan menjemputmu."


"Ma-maaf, Mas. Ponselku tertinggal di mobil. Dan pak Karyo sudah kembali ke kantor papa." Jawab Kia sambil masih menundukkan kepalanya.


Zee menghembuskan napas beratnya. Entah mengapa hatinya kini sudah merasa lega saat sang istri sudah pulang.


"Ya sudah. Lain kali jangan sampai lupa lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu."


"I-iya, Mas. Maaf."


Setelah itu, Zee membantu membawakan barang belanjaan Kia dan hendak membawanya ke dapur. El yang masih berada di ruang tengah hanya bisa diam memperhatikan. Zee dan Kia menghentikan langkahnya dan berhenti di depan El. 


"El, kenalkan ini Kiara, istri gue. Kia, ini El sahabatku." Kata Zee.


El dan Kia nampak saling berjabat tangan dan saling menyebutkan nama masing-masin. Setelah itu, Zee dan Kia kembali melangkahkan kaki ke dapur untuk meletakkan barang belanjaan. Tak berapa lama kemudian, Kia pamit untuk membersihkan diri. Sementara Zee dan El mengobrol di ruang tengah.


"Ccckkk. Dapat dari mana istri seperti Kia, Zee?"


"Emang lo kira mainan?" Jawab Zee sambil mendengus kesal.


"Yyyeee, gue nanya serius kali. Pantesan lo sama sekali nggak melirik perempuan manapun, suguhannya modelan begitu di rumah." El terkekeh geli.


"Sama apanya?"


"Lo juga nggak melirik perempuan manapun karena di mata lo hanya ada satu perempuan, kan?" 


"Eh, maksud lo?"


"Jangan kira gue nggak tahu, El. Lo sebenarnya suka sama Revina. Gue sudah tahu dari dulu jika lo punya perasaan sama dia. Lagian, lo kan cowok. Jika suka, sampaikan langsung, jangan diam-diam seperti. Nggak gentle tau."


El terkejut bukan main. Dia sama sekali tidak mengira jika sahabatnya itu mengetahui perasaannya.


"Ba-bagimana lo bisa menyimpulkan hal itu?"


"Nggak penting gue tau dari mana. Yang penting sekarang, lo yakinkan dulu hati lo. Jika lo sudah yakin, katakan yang sejujurnya. Jika masih ragu, coba pahami dulu hati lo."


El mengangguk mengiyakan. Ya, El memang menyukai Revina sejak dulu. Dia tidak mau mengungkapkan perasaannya karena dia tidak mau ada yang berubah pada hubungan mereka, terutama keluarganya.


****


Hari berganti hari, dan tahun pun berganti. Revina juga sudah mengetahui dan mengikhlaskan Zee menikah dengan orang lain. Sementara El, dia sama sekali tidak mengungkapkan perasaannya kepada Revina hingga kelulusannya.


Entah apa yang membuat El ragu untuk mengatakannya. Hingga El memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.


"Biarlah rasa ini tetap tersimpan. Jika sampai aku kembali dan kamu belum ada yang memiliki, aku berjanji akan memperjuangkanmu. Namun, jika selama aku pergi kamu menemukan tambatan hatimu, aku akan ikhlas melepasmu." Gumam El saat pesawat yang ditumpanginya sudah mulai mengudara.


Sementara di bandara, keluarga besarnya yang tadi mengantar keberangkatannya masih memandangi pesawat yang membawa El.


"Semoga apa yang selalu kak El cita-citakan dan harapkan, akan dilancarkan dan disegerakan." Gumam Revina.


Kenzo, Vanya, Revina, Fida dan juga Reyhan yang mengantarkan keberangkatan El saat itu, saling mendoakan El. Mereka semua berharap semua yang terbaik untuknya.


End.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Terima kasih untuk semua yang sudah menemani othor sampai sini. Cerita ini hanya ungkapan dari halunya othor saja, semoga bisa menemani hari-hari para reader semua.


Terima kasih juga untuk dukungannya selama ini. Setelah ini, othor bisa fokus ke KhanAl Story. Untuk yang belum baca, silahkan mampir.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, silahkan mampir di ig othor @keenandra_winda



Jika berkenan, silahkan mampir di cerita othor yang lain. Terima kasih 🤗