
Kinan langsung menoleh ke arah Adrian. Dia mengerutkan kening sambil menatap tajam laki-laki yang duduk di depannya tersebut.
"Apa maksudnya ini, Om?" tanya Kinan bingung.
Adrian menggelengkan kepala. "Nggak ada maksud apa-apa. Sebenarnya, ini hanya sebagai hadiah biasa dari Mama," ucap Adrian.
"Hadiah? Maksudnya hadiah apa? Aku tidak sedang berulang tahun, Om? Lagian, hadiah ini terlalu mahal buatku."
Kini, Adrian tampak kesal mendengar ucapan Kinan.
"Mama tidak pernah melihat harga dari sesuatu yang diberikan kepada orang lain. Mama ikhlas memberikannya."
"Iya, aku tahu. Tapi, buat apa juga memberikan hadiah semahal ini, Om?"
"Entahlah. Yang jelas, ini semua dari Mama. Jika kamu keberatan, kamu bisa mengembalikan sendiri kepada Mama. Nanti, aku tinggal kasih tahu Mama jika kamu tidak mau menerima pemberiannya." Adrian mengancam Kinan.
"Eh, ja-jangan begitu! Kok kesannya aku jadi nggak ngehargain pemberian orang, ya?" Kinan hanya bisa menggaruk-garuk kepala.
"Sudah. Tinggal terima saja apa susahnya, sih."
"Cckkk. Iya. Terima kasih," ucap Kinan sambil mengerucutkan bibir.
Adrian melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.38. Dia harus segera pulang karena besok harus ada pekerjaan yang dilakukannya di luar kota.
"Aku pulang dulu," ucap Adrian sambil beranjak berdiri.
Kinan yang masih cukup terkejut saat tiba-tiba Adrian beranjak berdiri dan berpamitan.
"Eh, mau pulang sekarang? Tapi ini masih hujan, Om?" Kinan melihat ke arah luar yang masih cukup deras.
"Tidak apa-apa. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan."
"Ehm, sebentar. Aku ambil payung dulu. Aku antar sampai mobil," ucap Kinan dan langsung berlalu mengambil payung yang berada di dekat pintu belakang.
Setelah Adrian masuk ke dalam mobil, Kinan langsung kembali menuju teras. Dia sempat melambaikan tangan sebelum Asrian berlalu dari rumahnya.
Begitu mobil Adrian sudah tidak terlihat lagi, Kinan langsung beranjak masuk ke dalam rumah. Tak lupa juga dia segera mengunci pintu dan jendela dengan baik.
Kinan membawa hadiah-hadiah dari mama Adrian tersebut ke dalam kamar. Dia akan membukanya nanti setelah membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama bagi Kinan untuk membersihkan diri. Kini, dia sudah berganti baju dengan baju tidur kesayangannya. Kinan juga sudah melakukan aktivitas rutin yang dilakukannya sebelum tidur.
Kini, Kinan sudah duduk bersila di atas tempat tidur. Di depannya sudah ada beberapa hadiah dari mama Adrian. Kinan benar-benar penasaran karena semuanya terbungkus rapi di dalamnya.
Kinan mengambil paper bag pertama. Dia mulai mengeluarkan box yang ada di dalamnya. Kedua bola mata Kinan langsung membulat saat melihat sebuah logo dari sebuah brand ternama tertera di sana.
Kinan masih menatap logo huruf kembar yang tertera di sana dengan mata tak berkedip. Tangannya bahkan dengan pelan-pelan membuka penutup box tersebut.
"Astaga, white dress!" Kinan memekik tertahan setelah mengeluarkan baju tersebut dari dalam box nya. "Waahh, ini serius mama Adrian memberikannya kepadaku?"
Kinan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Benar-benar tidak menyangka. Satu baju ini saja bisa di atas lima juta. Belum yang lainnya."
Setelah cukup melihat-lihat, kini Kinan beralih ke paper bag kedua. Dia juga segera mengeluarkan benda di dalamnya. Kali ini, tidak dibungkus di dalam box, tapi ada sebuah tas kecil di dalamnya.
Lagi-lagi Kinan hampir memekik saat melihat sebuah merek yang diawali dengan huruf ketiga dan keempat pada alfabet tersebut.
"Astaga, ini harganya diatas lima puluh juta! Aku harus mengganti dengan apa barang-barang ini? Masa iya ganti dengan cinta?"
\=\=\=
Mohon maaf, up satu bab ya.
Besok jadwal kerjaan lagi banyak. Othor usahakan up jika senggang 🙏
Selamat malam.