The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Penjelasan dan Hukuman Vanya 2



Vanya mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Kenzo. Dia mengamati ekspresi Kenzo apakah baik menyampaikan hal itu sekarang. Namun, setelah cukup yakin Kenzo sudah tenang, Vanya memutuskan untuk memberitahukannya kepada Kenzo.


"Ehm, saat itu dia mengatakan sesuatu. Tapi, aku tidak yakin apa maksudnya." Kata Vanya sambil menggigiti bibirnya.


"Apa yang dikatakannya?" Tanya Kenzo tidak sabar.


"Ehm, dia bilang jika dia sudah tahu aku sudah menikah dan dia juga tahu alasan aku menikah denganmu, Mas." Jawab Vanya.


Kenzo sedikit tersentak dengan jawaban Vanya. Dia mengernyitkan dahinya bingung setelah mendengar perkataan sang istri.


"Apa maksudmu?" Tanya Kenzo bingung. "Bagaimana mungkin dia tahu alasan sebenarnya kita menikah? Sedangkan orang yang tahu alasan sebenarnya hanya kita berdua dan Reyhan. Meskipun alasan itu sudah tidak masuk akal lagi sekarang." Lanjut Kenzo.


Vanya menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan perkataan Kenzo.


"Bukan itu alasan yang dipahami oleh Rasha, Mas. Dia tahu jika aku menikahi seorang Kenzo Julian dan hanya ingin mengincar harta kamu. Dia pikir, aku adalah perempuan yang memiliki pikiran picik seperti itu." Kata Vanya sedih. 


Matanya sudah mulai berkaca-kaca saat mengatakannya. Dia merasa sangat sakit hati saat mendapatkan tuduhan dari Kenzo. Hal itu yang membuatnya langsung memberikan hadiah pada pipi Rasha kemarin.


Kenzo yang mendengar penjelasan Vanya pun juga merasa sangat geram. Rahangnya mengeras dengan suara gigi bergemeletuk. Vanya yang menyadari sang suami tengah menahan amarahnya langsung berusaha menenangkannya. Vanya mengusap-usap dada bidang Kenzo beberapa kali.


"Jangan marah Mas. Kemarin aku sudah memberikan hadiah pada pipi Rasha kok." Kata Vanya sambil tersenyum manis. Dia ingin menenangkan hati sang suami.


Dan benar saja, tatapan mata Kenzo mulai melembut setelah mendengar perkataan Vanya.


"Kamu menamp*r laki-laki itu?" Tanya Kenzo sedikit tidak percaya. Dia tidak yakin jika sang istri ternyata sangat berani.


"Tentu saja. Aku tidak mau orang menuduhku yang tidak-tidak. Mereka hanya menang melihat Mas, tanpa tahu cerita yang sebenarnya." Jawab Vanya.


Kenzo mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia cukup merasa bangga terhadap sang istri yang tidak akan mudah sekali di tindas. Sebenarnya, rasa bangga Kenzo terhadap Vanya sudah muncul saat dirinya dulu dengan semangat empat limanya mengusir Elsa, si tetangga rumahnya.


"Aku suka dengan keberanianmu Sayang." Kata Kenzo sambil mengecup kening Vanya.


"Aku juga suka dengan gaya kamu Mas." Jawab Vanya sekenanya. Namun, hal itu justru disalahpahami oleh Kenzo.


"Benarkah? Kamu suka gaya ku yang bagaimana? Di atas, di bawah, berdiri, duduk, depan, belakang atau ehm……" belum sempat Kenzo menyelesaikan perkataannya Vanya sudah membungkam mulutnya dengan tangannya. Dia merasa malu jika Kenzo mengatakan hal-hal berbau 'horor' dengan vulgar seperti itu.


"Kenapa sih, aku kan tanya serius." Gerutu Kenzo setelah berhasil melepaskan bekapan tangan Vanya.


"Apaan sih Mas, malu tahu." Jawab Vanya sambil kembali memeluk pinggang Kenzo.


"Baru dibilang begitu saja malu, padahal jika sudah on fire lupa semuanya." Goda Kenzo.


Vanya semakin malu setelah mendengar godaan Kenzo. Dia semakin menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Kenzo.


Namun, beberapa saat kemudian, Kenzo tiba-tiba tersadar dengan sesuatu. Dia menarik wajah Vanya agar melihat ke arahnya.


"Sebentar, kamu tahu siapa nama lengkap Rasha?" Tanya Kenzo penasaran.


Vanya mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Kenzo yang menurutnya aneh. Setelahnya, Dia menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak tahu Mas. Memang ada apa? Apa pentingnya nama lengkap Rasha?" Tanya Vanya.


"Kamu punya fotonya?" Bukannya menjawab, Kenzo malah kembali bertanya.


"Untuk apa aku punya fotonya Mas, bertemu secara tidak sengaja saja aku sudah mendapat hukuman seperti ini, apalagi jika punya fotonya. Bisa-bisa aku nggak sempat beranjak dari tempat tidur." Jawab Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.


Kenzo tersenyum karena merasa gemas dengan tingkah Vanya. Dia memberikan kecupan singkat pada bibir Vanya. 


"Sebentar." Kenzo berusaha melepaskan tangan Vanya dari pinggangnya dan beranjak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas sofa.


Kenzo mengutak-atiknya sebentar. Dia mencari beberapa foto meeting di kantor tadi pada group kantornya. Setelah mendapatkannya, Kenzo segera berjalan kembali mendekati Vanya.


"Apakah ini Rasha yang kamu maksud?" Tunjuk Kenzo pada sebuah foto.


"I-iya benar. Ini Rasha, Mas. Bagaimana bisa dia berada di kantor mas Kenzo?" Tanya Vanya.


Kenzo menarik ponselnya dan segera mengetikkan pesan kepada Reyhan.


Benar dugaan kita tadi Rey. Rasha yang dimaksud Fida sama dengan Rasha yang di kantor tadi. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan Rey? ~ Kenzo.


Tak berapa lama kemudian, terdengar bunyi balasan pada ponsel Kenzo.


Anggap dia sudah tidak ada lagi, Tuan. ~ Reyhan.


Kenzo tersenyum puas membaca balasan dari Reyhan. Dia sangat yakin Reyhan bisa menyelesaikan masalah ini dengan sangat baik. Reyhan tidak pernah mengecewakannya.


Setelahnya, Kenzo meletakkan ponselnya di atas nakas dan beringsut mendekati sang istri. Sementara Vanya yang masih bingung untuk menunggu jawaban pun hanya bisa mengerutkan keningnya.


"Mas, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Mengapa Rasha ada di kantor kamu, Mas?" Tanya Vanya.


"Aku akan menjawabnya besok pagi. Sekarang, istirahatlah dulu. Kita harus bangun lebih pagi besok." Jawab Kenzo sambil menarik tubuh Vanya hingga menempel pada tubuhnya.


"Memangnya akan ada serangan fajar?" Tanya Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.


Kenzo menoleh menatap wajah Vanya. 


"Bukan serangan lagi, tapi gempuran. Aku akan libur besok." Jawab Kenzo sambil menaik turunkan alisnya.


"Apa-apaan itu, tadi kan sudah dua kali Mas." Kata Vanya.


"Memang dua kali sudah cukup, tentu saja belum. Atau kamu mau, sekarang saja?" Goda Kenzo. Sebenarnya, dia sudah tidak tega melihat Vanya yang sudah sangat kelelahan.


"Besok saja, aku mau tidur. Awas sana jauhan jangan dekat-dekat. Awas saja jika itu nya digesek-gesekkan lagi. Aku tidak mau membantu menjinakkannya." Kata Vanya sambil membalikkan tubuhnya.


Kenzo yang melihat tingkah Vanya hanya bisa tersenyum. Dia sangat menikmati tingkah Vanya. Kenzo mendekati tubuh Vanya dan memeluknya dari belakang. Dia tidak membiarkan Vanya memberontak. Akhirnya, mereka terlelap setelah perdebatan yang cukup panjang.


Kenzo benar-benar menjalankan aksinya. Saat jam masih menunjukkan pukul 03.10 dini hari, dirinya sudah menggoda sang istri agar mau mengikuti kemauannya.


"Maaassshhh eemmppphhh, kok masih besar sihhh, cepet lemesin aku capek." Kata Vanya di tengah-tengah gempuran Kenzo.


"Sebentar lagi, tahan sebentar Sayanghh." Jawab Kenzo tak menghentikan aktivitasnya.


"Dari hampir satu jam yang lalu kamu selalu bilang sebentar-sebentar terus. Jika dilanjutkan terus aku nggak akan bisa jalan nanti Mas." Kata Vanya putus asa.


"Baiklah, baiklah. Aku akan menyelesaikannya segera." Kata Kenzo sambil mempercepat aktivitasnya.


"Aauuuwwhh aaaahhh Maasssshhh, pelaannhhh aauuhhh aaahhh."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda


Thank you